AS-Iran Saling Ancam, Harga Minyak Diperkirakan Terus Bergolak
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak global diperkirakan akan kembali melonjak pada awal pekan ini, seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yang semakin tajam dan ancaman langsung terhadap infrastruktur energi utama kawasan.
Baca Juga
Iran Ancam Hancurkan Secara Permanen Infrastruktur Energi Regional
Pada penutupan perdagangan sebelum akhir pekan, harga minyak sudah mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh saling ancam antara Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memperluas gangguan pasokan energi global.
Presiden AS Donald Trump pada Sabtu (21/3/2026) mengancam akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Ultimatum ini menandai eskalasi drastis—hanya sehari setelah Trump sempat menyatakan keinginan untuk meredakan konflik yang kini memasuki pekan keempat.
Sebagai respons, Iran memperingatkan akan menyerang infrastruktur yang terkait dengan AS di kawasan Teluk, termasuk fasilitas energi dan instalasi desalinasi, jika ancaman tersebut direalisasikan.
Pada Jumat, harga minyak Brent untuk kontrak Mei melonjak 3,26% ke level US$112,19 per barel—tertinggi sejak Juli 2022. Sementara itu, minyak mentah AS (WTI) naik 2,27% menjadi US$98,32 per barel.
Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menyebut ultimatum Trump sebagai “bom waktu ketidakpastian” selama 48 jam yang membayangi pasar. Jika tidak ada pelonggaran sikap, harga minyak diperkirakan akan melonjak tajam pada Senin.
Pendiri Energy Aspects, Amrita Sen, menilai situasi ini mencerminkan eskalasi terbuka. “Ini jelas berarti konflik semakin meningkat, yang berarti harga minyak lebih tinggi. Ada asumsi keliru bahwa Iran akan mundur,” ujarnya, seperti dikutip CNBC.
Konflik yang berkepanjangan telah memicu serangan terhadap berbagai fasilitas energi di kawasan. Iran dilaporkan menyerang pelabuhan dan kilang di Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar sebagai balasan atas serangan terhadap infrastrukturnya.
Penutupan Selat Hormuz—jalur vital bagi distribusi energi global—telah menyebabkan hilangnya pasokan setara empat hari konsumsi dunia, atau sekitar 440 juta barel, selama 22 hari konflik berlangsung.
Meski demikian, Teheran sejauh ini menahan diri untuk tidak menyerang fasilitas desalinasi besar di Arab Saudi dan UEA, yang menjadi sumber air bagi jutaan penduduk.
Menurut lembaga Atlantic Council, kerusakan besar pada fasilitas tersebut dapat membuat beberapa kota di Teluk tidak layak huni dalam hitungan minggu, memicu evakuasi massal, serta menyebabkan kegagalan sistem kelistrikan secara berantai.
Dalam sepekan terakhir, harga Brent telah naik sekitar 8,8%, sementara WTI justru turun tipis sekitar 0,4%. Selisih harga antara WTI dan Brent bahkan mencapai level terlebar dalam 11 tahun terakhir.
Baca Juga
Harga Minyak Terus Terkerek di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah, Bisa Tembus US$ 180?
Kepala International Energy Agency, Fatih Birol, memperingatkan bahwa pemulihan pasokan dari kawasan Teluk bisa memakan waktu hingga enam bulan.
Di tengah ketegangan tersebut, laporan Axios menyebutkan bahwa pemerintahan Trump tengah mempertimbangkan opsi untuk menduduki atau memblokade Pulau Kharg—pusat ekspor minyak utama Iran—guna menekan Teheran agar membuka kembali Selat Hormuz.

