Iran-Israel Tetap Saling Serang di Tengah Ketidakpastian, Harga Minyak Tembus US$100
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Konflik antara Iran dan Israel terus berlanjut dengan intensitas tinggi, meskipun muncul klaim dari Amerika Serikat mengenai kemungkinan pembicaraan damai. Di tengah situasi tersebut, Gedung Putih menyatakan bahwa rencana perundingan dengan Teheran masih bersifat “fluktuatif”, menandakan belum adanya kepastian arah diplomasi.
Laporan BBC yang diperbarui pada Selasa (24/3/2026) menyebutkan bahwa pejabat Iran membantah adanya kontak langsung dengan Amerika Serikat. Namun, seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Iran mengungkapkan bahwa Teheran telah menerima sejumlah “poin” dari Washington melalui mediator sebagai kemungkinan awal menuju pembicaraan.
Ketidakjelasan ini mencerminkan minimnya kepercayaan di antara pihak-pihak yang terlibat. Analis BBC menyebut optimisme terhadap proses diplomasi saat ini masih sangat rendah, sementara sinyal yang muncul justru saling bertolak belakang.
Baca Juga
Presiden Jerman Sebut Serangan AS-Israel ke Iran Langgar Hukum Internasional
Di lapangan, serangan militer tidak menunjukkan tanda mereda. Ledakan kembali terdengar di Teheran dan wilayah lain, sementara Israel mengeluarkan peringatan evakuasi di Lebanon selatan. Di sisi lain, serangan rudal Iran ke Tel Aviv dilaporkan melukai sejumlah orang, memperlihatkan bahwa konflik terus berkembang secara aktif.
Laporan senada juga disampaikan The New York Times dalam pembaruan langsung pada 24 Maret 2026 yang menyebut Iran meluncurkan gelombang serangan rudal ke Israel, termasuk ke Tel Aviv, di tengah klaim Washington mengenai kemajuan pembicaraan yang belum dikonfirmasi oleh Teheran.
Sementara itu, dampak konflik terhadap pasar energi global tetap signifikan. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz, sehingga setiap perkembangan konflik langsung memengaruhi harga energi. Data yang dihimpun BBC menunjukkan harga minyak Brent sempat melonjak ke US$113 per barel setelah ancaman serangan Amerika Serikat, kemudian turun ke US$97 setelah muncul kabar pembicaraan, sebelum kembali naik dan bertahan di sekitar US$100 per barel pada Selasa (24/3/2026).
Volatilitas ini juga mengguncang pasar keuangan global. Indeks FTSE 100 tercatat turun 4,8% dalam lima hari terakhir, sementara indeks utama Asia seperti Nikkei 225 Jepang dan Hang Seng Hong Kong melemah lebih dari 3% dalam periode yang sama, meskipun sempat mengalami rebound.
Baca Juga
Kekuatan Militer Israel Unggul Teknologi, Namun Sulit Hadapi Iran Tanpa Dukungan AS
Di kawasan Teluk, ketegangan tetap tinggi. Pemerintah Qatar menyatakan situasi masih berada dalam “pusat badai”, meskipun tidak ada serangan baru dalam beberapa hari terakhir. Otoritas setempat juga membantah laporan bahwa kesepakatan potensial antara AS dan Iran mencakup penutupan pangkalan militer Amerika di Al-Udeid.
Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa konflik Iran-Israel tidak hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga di ranah diplomasi dan pasar global. Sinyal pembicaraan yang belum jelas, ditambah dengan serangan yang terus berlanjut, membuat prospek perdamaian masih jauh dari pasti.
Dengan kondisi tersebut, perang ini tetap menjadi faktor utama yang membentuk dinamika geopolitik dan ekonomi global, khususnya melalui dampaknya terhadap harga energi dan stabilitas pasar keuangan dunia.
Penegasan Netanyahu
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya tidak akan menghentikan operasi militer terhadap Iran dan kelompok Hizbullah di Lebanon selatan, di tengah meningkatnya ketidakpastian arah diplomasi antara Washington dan Teheran.
Dalam pernyataan video singkat berdurasi 36 detik yang dirilis pada Senin (24/3/2026) waktu setempat, Netanyahu menyampaikan bahwa Israel akan tetap bertindak tegas demi menjaga kepentingan strategisnya.
Baca Juga
Rencana Pembicaraan AS–Iran Masih “Dinamis”, Harga Minyak Kembali Tembus US$ 100 per Barel
“Kami akan melindungi kepentingan vital kami dalam kondisi apa pun,” ujar Netanyahu, seperti dikutip dari laporan BBC yang dipublikasikan pada 24 Maret 2026.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Israel tidak akan mengubah arah kebijakan militernya, meskipun muncul klaim dari Amerika Serikat mengenai kemungkinan pembicaraan damai dengan Iran.
Di lapangan, Iran masih menunjukkan kemampuan melakukan serangan balasan. Otoritas Israel melaporkan sebuah rudal Iran menghantam kawasan permukiman di Tel Aviv dan menciptakan kawah besar. Rudal tersebut disebut membawa bahan peledak seberat sekitar 100 kilogram, menimbulkan kerusakan signifikan di wilayah sipil.
Baca Juga
Iran Gencarkan Serangan ke Israel dan Teluk, Klaim Pembicaraan Damai Trump Dipatahkan
Gambaran situasi di Israel juga mencerminkan meningkatnya tekanan publik dan politik. Di dekat lokasi serangan, terlihat papan reklame bergambar Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan tulisan “Finish the job Mr President!”, yang merujuk pada dorongan agar Washington melanjutkan tekanan militer terhadap Iran.
Laporan senada juga disampaikan Reuters dan CNN yang mencatat bahwa Israel terus meningkatkan intensitas serangan terhadap target di Iran dan Lebanon, sementara Iran tetap mampu meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat wacana diplomasi, realitas di lapangan masih didominasi oleh eskalasi militer. Israel tampaknya memilih untuk mempertahankan tekanan maksimal terhadap Iran, sementara Teheran terus menunjukkan kapasitas balasan yang signifikan.
Dengan posisi kedua pihak yang tetap keras, prospek deeskalasi dalam waktu dekat dinilai masih terbatas, menjadikan konflik ini terus berpotensi memperluas dampak geopolitik dan ekonomi global.

