Trump Tunda Serangan Infrastruktur Energi Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari di tengah klaim adanya kemajuan negosiasi antara Washington dan Teheran. Namun, pemerintah Iran membantah adanya pembicaraan substantif dan menilai pernyataan tersebut sebagai manuver politik untuk meredam gejolak pasar sekaligus memberi waktu bagi persiapan militer.
Dalam pembaruan laporan langsung (live updates) yang diterbitkan The New York Times pada Senin, 23 Maret 2026 pukul 09.58 waktu New York (EDT), Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Iran tengah menuju “resolusi total atas permusuhan di Timur Tengah”. Ia juga menginstruksikan penundaan serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, bergantung pada hasil pembicaraan yang sedang berlangsung.
Langkah ini muncul hanya dua hari setelah Trump mengancam akan membombardir fasilitas energi Iran dalam waktu 48 jam jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Ancaman tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar energi global yang telah terguncang sejak konflik dimulai pada 28 Februari 2026.
Namun, Kementerian Luar Negeri Iran secara terbuka membantah adanya negosiasi langsung dengan Amerika Serikat. Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita pemerintah Mizan pada 23 Maret 2026, Teheran menyebut klaim Trump sebagai upaya “menurunkan harga energi dan membeli waktu untuk menjalankan rencana militer”. Meski demikian, Iran mengakui adanya “inisiatif regional” untuk meredakan ketegangan.
Perbedaan narasi antara kedua pihak mencerminkan dinamika konflik yang semakin kompleks. Sejak perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki pekan keempat, para pejabat dari ketiga negara kerap menyampaikan pernyataan yang saling bertentangan, mencerminkan strategi masing-masing dalam mengelola persepsi publik dan tekanan geopolitik.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, menyatakan negaranya tengah berupaya memediasi dengan mendorong pengaturan jalur aman di Selat Hormuz. Dalam pernyataan di media sosial pada Senin (23/3/2026), ia memperingatkan bahwa konflik ini telah memicu masalah ekonomi global yang luas dan berpotensi memburuk jika perang berlanjut.
Baca Juga
Balas Serangan di Natanz, Rudal Iran Hantam Fasilitas Nuklir Dimona Israel
Dampak perang terhadap pasar energi global semakin nyata. Kepala International Energy Agency (IEA) menyebut lonjakan harga minyak dan gas—yang naik lebih dari 50% sejak akhir Februari—telah melampaui krisis energi pada 1973 dan 1979. Harga minyak Brent sempat menyentuh US$114 per barel sebelum turun ke sekitar US$100 setelah pengumuman Trump terkait potensi negosiasi.
Di sisi lain, situasi militer di lapangan tetap memanas. Serangan rudal Iran ke wilayah selatan Israel, termasuk kota Dimona dan Arad pada akhir pekan, melukai puluhan orang dan menimbulkan pertanyaan atas efektivitas sistem pertahanan udara Israel. Sementara itu, militer Israel juga meningkatkan operasi di Lebanon terhadap kelompok Hizbullah yang didukung Iran, memicu kekhawatiran akan konflik jangka panjang di kawasan tersebut.
Data korban jiwa terus meningkat. Duta Besar Iran untuk PBB melaporkan sedikitnya 1.348 warga sipil tewas di Iran sejak awal perang, sementara kelompok pemantau HAM berbasis di Washington mencatat angka lebih tinggi, yakni 1.398 korban. Di Lebanon, lebih dari 1.000 orang dilaporkan tewas, sementara serangan Iran ke Israel menewaskan sedikitnya 15 orang. Amerika Serikat sendiri melaporkan 13 personel militernya tewas.
Meski demikian, pejabat militer AS berupaya meredam kekhawatiran bahwa konflik berada di luar kendali. Komandan Central Command, Jenderal Brad Cooper, dalam wawancara televisi pada Senin (23/3/2026) menyatakan bahwa operasi militer AS “sebagian besar berjalan sesuai rencana utama”.
Namun, analis menilai hingga kini belum ada jalur keluar (offramp) yang jelas untuk mengakhiri konflik. Di tengah ancaman eskalasi dan ketidakpastian diplomasi, keputusan Trump menunda serangan dinilai hanya memberi jeda sementara, bukan solusi permanen.

