Harga Minyak Dunia Anjlok Hampir 11% Setelah Trump Tunda Serangan ke Infrastruktur Energi Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia anjlok tajam pada awal pekan setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari.
Baca Juga
Dikutip dari CNBC, harga minyak mentah Brent merosot hampir 11% ke level US$99,94 per barel, setelah sebelumnya sempat menembus US$112 pada Jumat. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari 10% ke US$88,13 per barel.
Penurunan drastis ini dipicu optimisme pasar setelah Trump menyatakan bahwa AS dan Iran telah melakukan pembicaraan “sangat baik dan produktif” untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah, meski Iran membantah klaim Trump itu.
Dalam pernyataannya, Trump juga menginstruksikan penundaan seluruh aksi militer terhadap fasilitas energi Iran selama lima hari—langkah yang langsung menenangkan pasar energi global.
Namun, ketidakpastian tetap membayangi, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz—jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Baca Juga
Trump Klaim Serius Ingin Capai Kesepakatan dengan Iran, Teheran Bantah Negosiasi
Sebelumnya, Trump sempat mengultimatum Iran untuk membuka jalur tersebut dalam 48 jam, sementara Teheran menyatakan hanya akan mengizinkan kapal yang tidak terkait dengan “musuh Iran” untuk melintas.
Di tengah volatilitas ini, Goldman Sachs justru menaikkan proyeksi harga minyak secara agresif. Bank tersebut memperkirakan Brent akan rata-rata di US$110 per barel pada Maret-April, dengan potensi lonjakan lebih tinggi jika gangguan pasokan berlanjut.
Bahkan, jika aliran minyak melalui Hormuz tetap hanya 5% dari normal selama 10 minggu, harga minyak berpotensi melampaui rekor tahun 2008.
Sementara itu, International Energy Agency memperingatkan bahwa krisis saat ini lebih serius dibandingkan gabungan krisis minyak 1970-an dan dampak perang Rusia-Ukraina terhadap gas.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menyebut situasi di Timur Tengah sebagai “sangat parah” dan menegaskan bahwa solusi paling krusial adalah membuka kembali Selat Hormuz.
Baca Juga
AS-Iran Saling Ancam, Harga Minyak Diperkirakan Terus Bergolak
Sebagai langkah darurat, negara-negara anggota IEA telah sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis, dan membuka peluang pelepasan tambahan jika krisis berlanjut.
Dengan dinamika ini, pasar minyak kini berada di persimpangan: antara harapan damai jangka pendek dan risiko lonjakan harga ekstrem jika pasokan global tetap terganggu.

