Menlu Iran Melontarkan Ancaman “Tanpa Batas” Jika Infrastruktur Diserang Lagi oleh Israel dan AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Konflik Iran–Israel yang memasuki hari ke-21 atau telah berlangsung tiga pekan memasuki fase eskalasi baru dengan meningkatnya serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk. Teheran memperingatkan akan melakukan serangan “tanpa batas” jika fasilitas energinya kembali menjadi target, menandai risiko serius terhadap stabilitas pasokan energi global.
Mengutip laporan live Al Jazeera yang diterbitkan pada Jumat (20/3/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa serangan Iran terhadap fasilitas energi regional sejauh ini baru menggunakan “sebagian kecil” dari kekuatan militernya. Ia menegaskan bahwa Iran akan menunjukkan “zero restraint” apabila infrastruktur energinya kembali diserang, terutama setelah serangan Israel terhadap ladang gas raksasa South Pars di Bushehr.
Serangan balasan Iran terhadap fasilitas gas Ras Laffan di Qatar diperkirakan memangkas kapasitas ekspor gas alam cair (LNG) negara tersebut hingga sekitar 17%. Dampak ini berpotensi mengganggu pasokan energi ke Eropa dan Asia, sekaligus memperburuk ketidakpastian di pasar energi global.
Baca Juga
Di sisi lain, konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 itu juga menimbulkan tekanan politik dan fiskal di Amerika Serikat. Departemen Pertahanan AS dilaporkan tengah mengajukan anggaran hingga US$200 miliar kepada Kongres untuk mendanai operasi militer dalam perang tersebut. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyebut operasi ini tidak memiliki batas waktu yang jelas.
Dari sisi kemanusiaan, korban terus meningkat. Palang Merah Iran melaporkan sedikitnya 1.444 orang tewas di Iran, termasuk 204 anak-anak, akibat serangan gabungan AS dan Israel hingga hari ke-21 konflik. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat lebih dari 1.000 korban jiwa sejak awal Maret, termasuk 118 anak-anak.
Diserang Saat Tahun Baru Persia
Laporan terpisah dari The Guardian pada Jumat (20/3/2026) menyebutkan bahwa Israel melancarkan gelombang serangan udara baru ke Teheran pada saat masyarakat Iran merayakan Nowruz, Tahun Baru Persia.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa operasi militer tidak cukup dilakukan dari udara saja, dan mengisyaratkan perlunya “komponen darat” untuk mencapai tujuan strategis di Iran. Ia juga menegaskan bahwa koordinasi dengan Presiden AS Donald Trump berjalan sangat erat, meski Israel mengklaim bertindak sendiri dalam beberapa serangan, termasuk terhadap ladang gas South Pars.
Serangan ini terjadi sehari setelah Iran meningkatkan serangan terhadap fasilitas minyak dan gas di kawasan Teluk sebagai respons atas serangan Israel sebelumnya.
Kenaikan intensitas konflik mulai terasa secara global. Negara-negara Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan yang terdampak langsung oleh lonjakan harga energi. Di Vietnam, harga bahan bakar dilaporkan melonjak lebih dari 20% dalam satu hari akibat kekhawatiran gangguan pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah, menurut laporan The Guardian.
Baca Juga
Biaya Perangi Iran Capai Rp 3.300 Triliun, Pentagon Siapkan Permintaan Anggaran ke Kongres
Sejumlah laporan senada dari Reuters, CNN, dan CNBC dalam beberapa hari terakhir juga menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi—termasuk ladang gas, kilang, dan jalur distribusi—telah menjadi titik kritis konflik. Media-media tersebut menyoroti risiko gangguan suplai global, lonjakan harga minyak, serta potensi meluasnya konflik ke negara-negara Teluk seperti Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Reuters, misalnya, melaporkan bahwa serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk meningkatkan premi risiko geopolitik di pasar minyak global. CNN menyoroti kekhawatiran bahwa konflik ini dapat menyeret jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz, sementara CNBC menekankan dampak lanjutan terhadap inflasi global dan biaya energi industri.
Energi sebagai Medan Perang
Eskalasi terbaru menunjukkan bahwa energi kini menjadi pusat pertempuran dalam konflik Iran–Israel. Serangan terhadap ladang gas South Pars—salah satu yang terbesar di dunia—dan fasilitas LNG di Qatar menandai pergeseran dari konflik militer konvensional ke perang ekonomi berbasis energi.
Dengan ancaman “tanpa batas” dari Iran dan respons militer berkelanjutan dari Israel serta dukungan Amerika Serikat, konflik ini berpotensi berkembang menjadi krisis energi global yang lebih luas. Bagi pasar global, khususnya negara-negara importir energi di Asia, perkembangan ini menjadi sinyal kuat bahwa volatilitas harga energi masih akan bertahan dalam jangka menengah.

