Harga Minyak Kembali Naik, Trump Kritik Sekutu yang Enggan Ikut Misi Pengamanan Selat Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengkritik sejumlah negara sekutu yang dinilai enggan bergabung dalam misi internasional untuk mengamankan pelayaran di Selat Hormuz, jalur energi paling strategis di dunia yang terganggu akibat perang antara AS–Israel melawan Iran.
Dalam laporan live update Al Jazeera, Trump mendesak negara-negara yang bergantung pada minyak dari kawasan Teluk untuk ikut terlibat dalam operasi pengawalan kapal tanker di selat tersebut. Namun hingga kini, banyak negara belum menunjukkan kesiapan untuk mengirimkan kapal perang guna melindungi jalur pelayaran tersebut. Beberapa pejabat Eropa bahkan menyatakan negara-negara Uni Eropa tidak memiliki “selera politik” untuk mengirim pasukan demi menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Sementara itu, Jerman secara terbuka menyatakan tidak memiliki rencana untuk bergabung dalam perang AS–Israel melawan Iran. Pernyataan tersebut menambah tekanan diplomatik terhadap Washington yang berupaya membentuk koalisi internasional untuk menjaga keamanan jalur pelayaran minyak global.
Baca Juga
Di tengah ketegangan tersebut, harga minyak dunia kembali naik dalam perdagangan Asia. Data terbaru menunjukkan West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 1,95% menjadi US$95,32 per barel, sedangkan Brent naik 1,84% menjadi US$102,05 per barel, setelah sebelumnya sempat melemah tajam sehari sebelumnya.
Kenaikan harga minyak juga dipicu keraguan pasar terhadap efektivitas rencana koalisi internasional yang dipimpin Amerika Serikat untuk melindungi kapal tanker di Selat Hormuz. Menurut laporan CNBC yang terbit 16 Maret 2026, harga minyak Brent naik sekitar 2,45% menjadi US$102,57 per barel, sementara WTI meningkat 2,51% menjadi US$95,85 per barel karena investor menilai koalisi pengamanan jalur pelayaran tersebut belum sepenuhnya terbentuk.
Baca Juga
Trump Tekan Sekutu NATO Jaga Selat Hormuz, Uni Eropa Enggan Terlibat
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington saat ini masih mengizinkan kapal tanker minyak Iran melintasi Selat Hormuz agar pasokan energi global tidak sepenuhnya terhenti. Namun laporan The Wall Street Journal menyebut pemerintah AS sedang menyiapkan pengumuman pembentukan koalisi negara-negara yang akan mengawal kapal tanker di jalur tersebut.
Sementara konflik terus berlangsung, dampaknya mulai terasa di seluruh kawasan Teluk. Serangan rudal dan drone dilaporkan terjadi di beberapa negara, termasuk Kuwait, Qatar, Arab Saudi, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Beberapa fasilitas energi, termasuk pelabuhan minyak dan ladang gas, juga menjadi sasaran serangan dalam dua pekan terakhir.
Penutupan atau gangguan di Selat Hormuz berdampak besar terhadap ekonomi negara-negara Teluk yang sangat bergantung pada ekspor energi. Sejumlah negara bahkan terpaksa mengurangi produksi minyak, menyebabkan kerugian miliaran dolar dan meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar energi global.
Baca Juga
Trump Peringatkan Masa Depan NATO Bisa “Sangat Buruk” Jika Sekutu Tak Bantu Amankan Selat Hormuz
Selain dampak ekonomi, konflik ini juga memicu kontroversi kemanusiaan. Laporan investigasi Amnesty International menyebut serangan udara pada awal perang yang menghantam sebuah sekolah dasar di Iran dan menewaskan sedikitnya 170 orang, sebagian besar siswi, diduga dilakukan oleh Amerika Serikat.
Dengan eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, tekanan terhadap jalur energi global dan stabilitas geopolitik di kawasan Timur Tengah diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.

