Perang Iran vs AS dan Israel Memasuki Hari ke-17: Pertaruhan Politik Terbesar bagi Presiden Trump
Poin Penting
|
Oleh Primus Dorimulu
CEO Investortrust.id
JAKARTA, Investortrust.id — Perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran kini telah memasuki hari ke-17 sejak serangan militer besar pertama dilancarkan pada 28 Februari 2026. Konflik yang awalnya diperkirakan berlangsung singkat kini berkembang menjadi konfrontasi militer berkelanjutan yang tidak hanya mengguncang geopolitik global, tetapi juga memicu tekanan politik yang semakin besar di dalam negeri Amerika Serikat.
Serangan awal pada akhir Februari menargetkan berbagai fasilitas militer dan infrastruktur strategis Iran, termasuk lokasi yang terkait dengan program nuklir dan jaringan militer Teheran. Sejak itu, kedua pihak terus saling melancarkan serangan udara, rudal, dan drone, sementara kawasan Teluk Persia, terutama Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia—menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik ini.
Memasuki minggu ketiga perang, konflik tersebut mulai menunjukkan dampak politik yang semakin terasa di Washington. Keputusan Presiden Amerika Serikat untuk menyerang Iran dan terlibat dalam konflik yang berpotensi berkepanjangan tidak hanya menjadi isu geopolitik global, tetapi juga memicu tekanan domestik yang serius terhadap Gedung Putih.
Survei yang dirilis Reuters/Ipsos pada awal Maret 2026 menunjukkan dukungan publik Amerika terhadap operasi militer terhadap Iran relatif rendah. Hanya sekitar 29% responden yang mendukung serangan militer, sementara mayoritas menyatakan kekhawatiran bahwa konflik tersebut dapat memicu kenaikan harga energi dan memperpanjang keterlibatan militer AS di Timur Tengah. Sekitar dua pertiga responden bahkan memperkirakan harga bensin di Amerika akan terus meningkat akibat eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia.
Baca Juga
Reasuransi Dunia Naikkan Premi untuk Kapal yang Melintas Selat Hormuz
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Ketegangan militer di sekitar Selat Hormuz telah memicu volatilitas harga energi global. Lonjakan harga minyak biasanya cepat terasa di Amerika Serikat karena harga bensin menjadi salah satu indikator ekonomi yang sangat sensitif bagi pemilih.
Di Washington, tekanan politik juga datang dari Kongres AS. Sejumlah anggota parlemen, terutama dari Partai Demokrat, mempertanyakan legalitas keputusan presiden yang melakukan serangan militer tanpa persetujuan formal Kongres. Dalam sistem konstitusi Amerika Serikat, hanya Kongres yang memiliki kewenangan menyatakan perang, meskipun presiden sebagai panglima tertinggi dapat memerintahkan operasi militer terbatas.
Perdebatan ini memicu upaya sejumlah anggota Kongres untuk mengajukan War Powers Resolution, yaitu mekanisme hukum yang dapat membatasi operasi militer presiden jika tidak mendapat persetujuan legislatif. Meskipun upaya tersebut belum berhasil menghentikan operasi militer, perdebatan ini menunjukkan meningkatnya ketegangan antara Gedung Putih dan legislatif terkait arah kebijakan perang.
Namun dinamika politik Amerika tidak pernah sederhana. Dalam fase awal konflik militer, sering muncul fenomena yang dikenal sebagai “rally around the flag effect”, yaitu kecenderungan publik untuk sementara waktu mendukung presiden ketika negara menghadapi ancaman eksternal. Efek ini pernah terlihat dalam berbagai konflik sebelumnya, ketika popularitas presiden meningkat dalam beberapa minggu pertama perang.
Masalahnya, efek tersebut biasanya bersifat sementara. Jika konflik berubah menjadi perang berkepanjangan, dukungan publik sering kali berbalik arah. Pengalaman perang Irak dan Afghanistan menunjukkan bahwa kelelahan perang (war fatigue) dapat muncul ketika korban militer meningkat, tujuan perang menjadi tidak jelas, dan biaya ekonomi mulai dirasakan oleh masyarakat.
Baca Juga
Israel Rencanakan Operasi Militer di Iran Tiga Minggu Lagi, Trump Belum Siap Berdamai
Di sinilah risiko politik terbesar muncul. Jika harga energi melonjak tajam, inflasi meningkat, atau korban militer Amerika bertambah, konflik Iran dapat berubah dari isu keamanan nasional menjadi liabilitas politik domestik. Dalam sejarah politik Amerika, konflik militer yang berkepanjangan sering kali berdampak langsung pada peta politik nasional, bahkan menentukan hasil pemilu.
Faktor lain yang memperbesar tekanan adalah konteks politik Amerika yang sangat terpolarisasi. Partai oposisi dapat memanfaatkan perang sebagai isu politik untuk mengkritik keputusan presiden, terutama jika konflik dianggap tidak memiliki strategi keluar yang jelas. Perdebatan mengenai biaya perang, dampak terhadap anggaran negara, dan risiko konflik regional yang lebih luas berpotensi semakin menguat.
Selain itu, dunia usaha dan pasar keuangan juga mencermati perkembangan ini dengan hati-hati. Ketidakpastian geopolitik yang meningkat dapat memicu volatilitas pasar energi, mendorong inflasi global, dan memperbesar risiko perlambatan ekonomi. Bagi Amerika Serikat sendiri, dampak ekonomi domestik dari konflik sering kali lebih cepat dirasakan oleh publik dibandingkan keuntungan geopolitik jangka panjang.
Karena itu, banyak analis menilai konflik dengan Iran bukan hanya ujian strategi militer bagi Washington, tetapi juga ujian politik domestik yang serius bagi presiden Amerika. Selama konflik masih dapat dikendalikan dan tidak menimbulkan korban besar, tekanan politik mungkin tetap terkendali.
Namun jika perang meluas atau berlangsung lebih lama dari perkiraan, konflik tersebut berpotensi mengubah dinamika politik di Washington—dan bahkan menentukan arah politik Amerika pada pemilu berikutnya. Dalam konteks itu, perang Iran bukan sekadar konflik regional di Timur Tengah, tetapi juga pertaruhan politik besar di dalam negeri Amerika Serikat.

