Israel Rencanakan Operasi Militer di Iran Tiga Minggu Lagi, Trump Belum Siap Berdamai
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Militer Israel berencana melanjutkan operasi militernya di Iran setidaknya selama tiga minggu ke depan, dengan ribuan target yang masih tersisa untuk diserang. Di tengah eskalasi konflik tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menegaskan bahwa Washington belum siap mencapai kesepakatan dengan Teheran untuk mengakhiri perang.
Mengutip laporan CNN yang diperbarui pada Minggu (15/3/2026), pejabat militer Israel menyatakan bahwa kampanye militer terhadap Iran masih jauh dari selesai. Mereka menyebut “ribuan target” masih berada dalam daftar operasi, sementara kedua negara terus saling melancarkan serangan.
Pada saat yang sama, sejumlah negara di kawasan Teluk melaporkan peningkatan upaya pencegatan drone yang diduga terkait dengan eskalasi konflik. Situasi ini menandakan bahwa perang yang melibatkan Israel, Iran, dan Amerika Serikat semakin meluas dampaknya di kawasan Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa pemerintahnya belum siap membuat kesepakatan damai dengan Iran untuk mengakhiri perang. Dalam pernyataannya, Trump mengklaim serangan militer AS telah “sepenuhnya menghancurkan” sebagian besar Pulau Kharg, salah satu terminal ekspor minyak paling penting Iran.
Namun Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat mungkin akan menyerang pulau tersebut kembali, sembari terus mendorong negara-negara sekutu untuk membantu Washington mengamankan Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Sementara itu, Pentagon pada Minggu (15/3/2026) juga mengumumkan identitas enam awak udara militer AS yang tewas dalam kecelakaan pesawat pada Kamis (12/3/2026) di Irak. Penyebab kecelakaan tersebut masih dalam penyelidikan.
Baca Juga
Ancaman Membunuh Netanyahu: Retorika Perang atau Realitas Strategis?
Di tengah berbagai spekulasi yang berkembang, pemerintah Iran menyatakan bahwa Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei berada dalam kondisi sehat dan tetap memimpin negara dengan kuat, meskipun hingga kini ia belum muncul di hadapan publik sejak penunjukannya.
Sementara itu, menurut laporan Al Jazeera yang dipublikasikan pada 15 Maret 2026, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap kota Isfahan di Iran pada Minggu dini hari (15/3/2026) menewaskan sedikitnya 15 orang ketika konflik memasuki hari ke-16 sejak dimulai pada 28 Februari 2026.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan rentetan rudal ke wilayah Israel dan juga menargetkan pangkalan militer AS di kawasan Teluk, termasuk di Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait. Serangan tersebut merupakan bagian dari gelombang operasi yang disebut Iran sebagai “gelombang ke-50” dari serangan terhadap kepentingan militer Amerika Serikat di kawasan.
Pemerintah Iran juga melaporkan bahwa serangan udara AS dan Israel telah menyebabkan kerusakan besar pada wilayah permukiman. Gubernur Teheran menyebut sedikitnya 10.000 rumah rusak atau hancur, sementara lebih dari 1.400 orang dilaporkan tewas sejak perang dimulai pada akhir Februari.
Konflik yang terus meningkat ini juga berdampak pada negara-negara di kawasan Teluk. Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat beberapa drone dan rudal balistik yang diarahkan ke wilayahnya, sementara Kuwait dan Qatar juga melaporkan pencegatan serangan serupa.
Dengan operasi militer yang diperkirakan masih akan berlangsung berminggu-minggu dan jalur energi global di Selat Hormuz berada dalam ancaman, perang Iran kini berpotensi menjadi salah satu krisis geopolitik terbesar yang dihadapi dunia pada tahun 2026.

