AS Siap Kawal Kapal Tanker di Selat Hormuz, Perang Iran Memasuki Hari Keempat
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemerintahannya akan memberikan jaminan asuransi risiko bagi perdagangan maritim di kawasan Teluk Persia serta menyiapkan pengawalan militer bagi kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz jika diperlukan. Langkah tersebut diambil ketika perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memasuki hari keempat dan mulai mengganggu jalur energi global.
Trump mengatakan Angkatan Laut AS siap mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz—salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia—di tengah ancaman Iran untuk menutup jalur tersebut. Sekitar seperlima perdagangan minyak global biasanya melewati selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu. Ancaman penutupan jalur tersebut telah memicu lonjakan tajam harga minyak serta tarif pengiriman kapal tanker.
Selain itu, pemerintah AS juga mempertimbangkan pemberian asuransi risiko perang bagi kapal-kapal yang beroperasi di kawasan Teluk untuk memastikan arus perdagangan tetap berjalan. Tarif pengangkutan kapal tanker super raksasa bahkan telah melonjak ke rekor tertinggi setelah perusahaan asuransi mulai menarik perlindungan risiko perang dari kapal yang berlayar di wilayah konflik.
Di medan militer, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi militer AS telah menghancurkan 17 kapal Iran dan hampir 2.000 target militer di negara tersebut. Seorang laksamana senior AS mengatakan operasi tersebut juga telah “secara serius melemahkan” sistem pertahanan udara Iran serta menghancurkan ratusan rudal balistik, peluncur, dan drone milik Teheran.
Konflik yang bermula dari serangan gabungan AS–Israel terhadap Iran kini meluas ke berbagai wilayah Timur Tengah. Komando militer AS melaporkan enam personel militer Amerika tewas dalam pertempuran sejauh ini.
Ketegangan juga menyasar fasilitas diplomatik Amerika Serikat di kawasan Teluk. Sejumlah misi diplomatik AS dilaporkan menjadi sasaran serangan drone dalam beberapa hari terakhir. Sebuah insiden terkait drone menyebabkan kebakaran di dekat Konsulat AS di Dubai, meskipun api berhasil dipadamkan dengan cepat dan tidak menimbulkan korban.
Di Kuwait, sebuah drone dilaporkan menghantam kompleks Kedutaan Besar AS, namun seluruh personel diplomatik berhasil dipastikan selamat. Departemen Luar Negeri AS kemudian mengizinkan lebih dari 200 staf dan anggota keluarga meninggalkan negara tersebut menyusul meningkatnya ancaman keamanan.
Baca Juga
Sementara itu di Arab Saudi, Kedutaan Besar AS di Riyadh mengalami kerusakan signifikan akibat serangan drone pada Senin yang memutus sebagian layanan komunikasi. Tidak ada korban jiwa karena kedutaan tersebut sebelumnya telah dievakuasi.
Di sektor teknologi, konflik juga mulai berdampak pada infrastruktur digital di kawasan. Amazon Web Services melaporkan beberapa pusat data di Timur Tengah sempat offline setelah terkena serangan drone.
Perusahaan teknologi Nvidia juga mengumumkan penutupan sementara kantornya di Dubai. CEO Nvidia Jensen Huang dalam surat internal kepada karyawan menyatakan tim manajemen krisis perusahaan bekerja sepanjang waktu untuk membantu para pegawai di Timur Tengah yang terdampak konflik.
Ia memastikan seluruh karyawan Nvidia yang berada atau bepergian di kawasan tersebut dalam kondisi aman. Nvidia memiliki keterkaitan kuat dengan Israel sejak mengakuisisi perusahaan teknologi jaringan Mellanox pada 2019 senilai sekitar US$7,13 miliar. Israel kini menjadi pusat riset dan pengembangan terbesar Nvidia di luar Amerika Serikat dengan sekitar 6.000 karyawan.
Baca Juga
Menlu Sugiono Hubungi AS dan Iran Terkait Kesiapan Prabowo Jadi Mediator Konflik
Konflik juga memunculkan dimensi baru dalam penggunaan teknologi militer. Sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan kepada CNBC bahwa model kecerdasan buatan (AI) milik perusahaan Anthropic digunakan untuk mendukung operasi militer AS di Iran. Hal ini terjadi meskipun perusahaan tersebut sebelumnya sempat masuk daftar hitam pemerintahan Trump.
Di bidang ekonomi, dampak perang mulai terasa di pasar global. Bursa saham Amerika Serikat turun tajam pada Selasa, sementara pasar saham di Eropa dan Asia juga ikut melemah. Ketidakpastian geopolitik membuat investor beralih ke aset aman seperti emas, meskipun harga emas spot kemudian kembali terkoreksi setelah sempat menguat.
Kekhawatiran terbesar pasar saat ini adalah potensi gangguan pasokan energi global. Harga minyak melonjak tajam setelah Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz dan memperingatkan akan menyerang kapal yang mencoba melintas.
Lonjakan harga energi juga mulai berdampak pada konsumen di Amerika Serikat. Harga bensin diperkirakan naik menjadi rata-rata US$3,35 per galon, meningkat dari sekitar US$3,10 saat ini.
Sementara itu, Israel dilaporkan memperkuat pasukannya di Lebanon selatan dan menyatakan telah “membongkar” markas besar rezim Iran di kawasan tersebut. Eskalasi ini semakin memperkuat kekhawatiran bahwa perang Iran berpotensi berkembang menjadi konflik regional yang lebih luas di Timur Tengah.

