Enam Awak Pesawat Militer AS Tewas dalam Kecelakaan di Irak, Serangan Iran Meluas ke Negara Teluk
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Seluruh enam awak pesawat militer Amerika Serikat tewas setelah pesawat tanker pengisian bahan bakar udara yang mereka tumpangi jatuh di wilayah Irak pada Kamis (12/3/2026), di tengah eskalasi konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah.
Seperti dilaporkan CNN.com, militer AS menyatakan pesawat pengisian bahan bakar tersebut mengalami kecelakaan ketika menjalankan operasi di wilayah Irak. Washington menegaskan bahwa insiden tersebut tidak disebabkan oleh tembakan musuh, meskipun sebuah kelompok milisi pro-Iran mengklaim bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat tersebut.
Selain pesawat yang jatuh, militer AS menyebut terdapat pesawat kedua yang mengalami kerusakan, namun berhasil mendarat dengan selamat. Peristiwa ini terjadi ketika konflik regional terus meningkat, dengan pertempuran yang meluas di berbagai wilayah Timur Tengah, baik di darat maupun di laut.
Pada saat yang sama, Menteri Perang AS Pete Hegseth kembali mengeklaim bahwa pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, kemungkinan mengalami luka serius bahkan cacat akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Pernyataan tersebut memunculkan keraguan terhadap pesan tertulis yang sebelumnya dirilis atas nama Khamenei, yang merupakan pernyataan publik pertama sejak ia diangkat menjadi pemimpin tertinggi Iran menggantikan ayahnya yang tewas dalam serangan militer pada akhir Februari lalu.
Baca Juga
Trump Klaim Perang Iran “Berjalan Baik”, Serangan Meluas ke Negara-Negara Teluk
Di Teheran sendiri, situasi keamanan semakin tegang setelah ledakan terjadi di sekitar lokasi demonstrasi besar memperingati Hari Al-Quds, sebuah aksi tahunan solidaritas terhadap Palestina.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya satu orang, sementara ribuan orang sedang mengikuti aksi massa yang berlangsung di ibu kota Iran.
Sementara itu, konflik juga semakin meluas ke kawasan Teluk. Serangan baru dilaporkan terjadi di sejumlah negara Teluk setelah Iran meluncurkan kembali serangan rudal dan drone sebagai balasan terhadap operasi militer Amerika Serikat dan Israel.
Sumber di Gedung Putih mengatakan kepada CNN bahwa pemerintah AS sebelumnya meremehkan kemungkinan Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan militer terhadap negara tersebut.
Baca Juga
AS Sebut Pemimpin Baru Iran Mojtaba Khamenei Terluka dan Bersembunyi
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan ini dapat berdampak besar terhadap pasar energi global.
Dengan meningkatnya serangan lintas negara, kecelakaan militer, serta ancaman penutupan jalur energi global, konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel kini semakin memperlihatkan potensi eskalasi regional yang lebih luas di Timur Tengah.

