Kekhawatiran Kredit Bermasalah Tekan Wall Street, Dow Anjlok 300 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS melemah pada penutupan Kamis waktu AS atau Jumat (17/10/2025). Setelah sempat menguat di awal perdagangan, saham Wall Street merosot dipimpin oleh penurunan saham-saham perbankan akibat kekhawatiran terhadap pinjaman bermasalah. Para pelaku pasar juga harus menghadapi ketegangan perdagangan yang terus berlanjut dan penutupan sebagian pemerintahan AS yang belum berakhir.
Baca Juga
Kinerja Bank Raksasa AS Topang Wall Street di Tengah Gejolak Perang Dagang
Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 301,07 poin, atau hampir 0,7%, menjadi 45.952,24 pada penutupan. Sebelumnya di awal perdagangan, indeks berisi 30 saham utama itu sempat naik 170 poin. S&P 500 berakhir turun 0,6% di level 6.629,07, setelah sempat mencatatkan kenaikan 0,6% di titik tertinggi sesi. Nasdaq Composite turun 0,5% dan ditutup di 22.562,54.
Saham bank regional seperti Zions dan Western Alliance jatuh ke titik terendah hariannya saat indeks utama berbalik arah. Zions anjlok 13% setelah mencatat kerugian besar akibat pinjaman bermasalah kepada beberapa debitur. Western Alliance turun 11% setelah menuduh salah satu debiturnya melakukan penipuan.
“Pasar sedang sangat gugup terhadap potensi kerugian terkait kredit,” ujar Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital Management, kepada CNBC. Menurut dia, pasar khawatir dengan kondisi dari bank-bank regional itu, jadi sebagian besar saham lembaga keuangan berkapitalisasi kecil ikut melemah.
Industri perbankan tengah berada dalam tekanan setelah dua perusahaan yang terkait industri otomotif bangkrut, menimbulkan kekhawatiran soal praktik pemberian pinjaman yang longgar, terutama di pasar kredit swasta yang kurang transparan.
“Ketika Anda melihat satu kecoa, kemungkinan besar masih ada banyak lainnya,” kata CEO JPMorgan Jamie Dimon dalam panggilan konferensi pendapatan bank awal pekan ini, merujuk pada kebangkrutan First Brands dan Tricolor Holdings. Jefferies, yang memiliki eksposur terhadap First Brands, merosot 10% pada Kamis, memperbesar kerugiannya bulan ini menjadi 25%.
Penurunan saham bersamaan dengan lonjakan Indeks Volatilitas Cboe (Vix) dan penurunan imbal hasil obligasi serta nilai dolar AS. Indeks Vix melonjak ke level tertingginya sejak Mei, sementara imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun turun dan menembus di bawah 4%. Indeks dolar AS kehilangan hampir 0,5%.
Ketegangan perdagangan antara China dan AS kembali meningkat belakangan ini, menambah volatilitas di Wall Street.
Baca Juga
Bessent Isyaratkan AS Takkan Bersikap ‘Lembek’ dalam Negosiasi Dagang dengan China
Presiden Donald Trump pekan lalu mengancam akan mengenakan tarif tambahan sebesar 100% atas seluruh barang yang masuk dari China, sebagai tanggapan terhadap kebijakan ekspor baru Beijing terkait mineral tanah jarang. Nada perang dagang sempat mereda beberapa hari kemudian, namun kembali memanas pada Selasa, ketika Trump mengancam akan memberlakukan larangan impor minyak goreng dari China.
Baca Juga
AS Siap Terapkan Tarif 100% ke China, Tergantung Respons Beijing
“Pemerintahan Trump ingin memengaruhi dan mengendalikan jauh lebih banyak hal dibanding pemerintahan sebelumnya, jadi mereka terus mengguncang pasar dengan cara-cara yang tidak terduga,” beber Ellerbroek. Menurut dia, hal itu akan terus berlanjut, dan para investor harus menerima hal itu sebagai kenyataan baru dan tetap waspada.
Investor juga terus mencermati dampak penutupan pemerintahan AS yang kini memasuki minggu ketiga. Penutupan tersebut telah menyebabkan penghentian tanpa batas waktu terhadap publikasi data ekonomi penting dari lembaga-lembaga federal.

