Trump Klaim Perang Iran “Berjalan Baik”, Serangan Meluas ke Negara-Negara Teluk
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan operasi militer terhadap Iran berjalan “sangat baik”, meskipun konflik yang telah memasuki hampir dua minggu itu semakin meluas ke berbagai negara di kawasan Teluk dan Timur Tengah.
Dalam perkembangan terbaru yang dilaporkan Al Jazeera pada Jumat (13/3/2026), militer Israel melancarkan gelombang serangan besar baru terhadap Teheran, sementara sejumlah serangan drone dan rudal dilaporkan terjadi di berbagai negara kawasan Teluk.
Konflik ini merupakan bagian dari perang yang dimulai pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan besar terhadap fasilitas militer dan nuklir Iran. Operasi tersebut menargetkan berbagai instalasi strategis serta pimpinan militer Iran.
Sejak saat itu, konflik berkembang menjadi konfrontasi regional. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab dan Bahrain.
Menurut laporan media internasional, serangan juga berdampak pada negara-negara lain di kawasan. Bahkan dua orang dilaporkan tewas di Oman setelah sebuah drone ditembak jatuh di provinsi Sohar.
Trump tetap menunjukkan optimisme terhadap operasi militer tersebut. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat “sangat dekat” untuk mengakhiri konflik sekaligus memulihkan keamanan pelayaran di kawasan Teluk yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Baca Juga
Namun situasi di lapangan menunjukkan eskalasi konflik yang terus meluas. Selain serangan udara terhadap kota-kota Iran seperti Teheran, Shiraz, dan Ahvaz, berbagai serangan drone dan rudal juga dilaporkan terjadi di Lebanon, Irak, serta sejumlah negara Teluk.
Perang ini juga memicu ketidakstabilan kawasan yang luas. Irak, misalnya, semakin terjebak dalam konflik karena menjadi lokasi serangan balasan dari berbagai pihak, termasuk milisi pro-Iran dan operasi militer Amerika Serikat.
Sejak konflik dimulai, ribuan korban jiwa telah dilaporkan dari berbagai negara yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam perang tersebut. Serangan udara terhadap berbagai fasilitas militer dan sipil di Iran disebut telah menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar.
Selain dampak kemanusiaan, konflik ini juga mengguncang ekonomi global. Penutupan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz serta serangan terhadap infrastruktur energi telah memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan risiko gangguan pasokan energi dunia.
Dengan eskalasi yang terus terjadi dan tidak adanya tanda-tanda gencatan senjata dalam waktu dekat, perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel kini berkembang menjadi salah satu krisis geopolitik paling serius di Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.

