Dunia Tidak Akan Membiarkan Selat Hormuz Ditutup
Oleh Primus Dorimulu
CEO Investortrust.id
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz kembali menempatkan jalur laut sempit ini di pusat perhatian dunia. Di tengah eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, pertanyaan besar yang muncul adalah: apakah dunia akan membiarkan jalur energi paling penting di planet ini terus diganggu hingga harga minyak melonjak tanpa batas?
Jawaban realistisnya hampir pasti tidak. Selat Hormuz terlalu vital bagi ekonomi global untuk dibiarkan menjadi arena blokade berkepanjangan. Sekitar 20% perdagangan minyak dunia—sekitar 18–20 juta barel per hari—melewati jalur sempit ini. Gangguan serius di Hormuz akan segera menjalar ke seluruh sistem ekonomi global, memicu lonjakan harga energi, inflasi, hingga risiko resesi global.
Karena itu, stabilitas Selat Hormuz bukan hanya kepentingan negara-negara Barat. Ia adalah kepentingan bersama seluruh ekonomi dunia, dari Asia Timur hingga Eropa. Negara-negara industri besar bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk untuk menjaga mesin ekonominya tetap berjalan.
Secara militer, kemampuan untuk membuka kembali jalur pelayaran sebenarnya ada. Militer United States Navy memiliki kehadiran kuat di kawasan Teluk melalui Armada Kelima yang berbasis di Bahrain, didukung jaringan pangkalan militer di Qatar, Kuwait, dan United Arab Emirates. Dalam skenario operasi militer penuh, Washington secara teknis mampu mengawal tanker minyak, membersihkan ranjau laut, serta menetralkan ancaman militer Iran di laut.
Namun realitas geopolitik jauh lebih kompleks daripada sekadar perbandingan kekuatan militer. Iran tidak harus menutup selat sepenuhnya untuk menciptakan krisis energi global. Strategi yang paling efektif justru adalah gangguan terbatas namun terus-menerus—serangan drone, rudal anti-kapal dari pantai, atau penebaran ranjau laut. Dengan jalur pelayaran yang hanya beberapa kilometer lebarnya, gangguan kecil saja sudah cukup untuk menghentikan lalu lintas tanker sementara waktu.
Ketidakpastian keamanan ini segera diterjemahkan oleh pasar menjadi lonjakan harga minyak dunia. Perusahaan pelayaran menaikkan premi risiko, perusahaan asuransi meningkatkan biaya perlindungan kapal, dan pasar energi merespons dengan volatilitas harga yang tajam.
Baca Juga
China Butuh Minyak dari Teluk
Di tengah ketegangan geopolitik ini, posisi China menjadi faktor penting. Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia dan importir minyak terbesar, China memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas Selat Hormuz. Sekitar 40–50% impor minyak China berasal dari kawasan Teluk, termasuk dari Arab Saudi, Iran, Kuwait, dan United Arab Emirates. Hampir seluruh pasokan tersebut melewati Selat Hormuz.
Dengan konsumsi minyak sekitar 15 juta barel per hari, perekonomian China masih sangat bergantung pada aliran energi yang stabil dari Timur Tengah. Tanpa jalur pelayaran yang aman di Hormuz, sektor manufaktur, transportasi, dan industri petrokimia China akan menghadapi tekanan besar. Dengan kata lain, China juga memiliki kepentingan strategis agar Selat Hormuz tetap terbuka.
Memang benar bahwa China sedang melakukan transformasi energi besar-besaran. Negara ini memimpin dunia dalam investasi energi terbarukan dan menjadi pasar kendaraan listrik terbesar di dunia. Namun realitasnya, ekonomi China belum bisa sepenuhnya hidup tanpa minyak.
Industri berat, sektor logistik, penerbangan, pelayaran, hingga industri kimia masih sangat bergantung pada energi fosil. Kendaraan listrik memang berkembang pesat, tetapi mobil berbahan bakar bensin dan diesel masih mendominasi jalan raya China.
Baca Juga
Pemimpin Tertinggi Baru Iran: Selat Hormuz Harus Tetap Ditutup untuk Menekan Musuh
Pada 2025, kendaraan listrik dan plug-in hybrid memang telah mencapai sekitar 40% penjualan mobil baru di China, tetapi itu tidak berarti seluruh kendaraan di jalan sudah beralih ke listrik. Ratusan juta kendaraan konvensional masih beroperasi setiap hari. Artinya, meskipun transisi energi berlangsung cepat, minyak tetap menjadi tulang punggung energi China dalam jangka menengah.
Iran Juga Bergantung
Ironisnya, Iran sendiri juga bergantung pada Selat Hormuz untuk mengekspor minyaknya. Penutupan total dalam jangka panjang justru akan merugikan ekonomi Iran sendiri. Karena itu, strategi yang paling realistis adalah menciptakan tekanan geopolitik tanpa benar-benar menutup selat secara permanen.
Sejarah menunjukkan bahwa setiap ancaman terhadap Selat Hormuz biasanya memicu respons internasional. Dalam krisis sebelumnya, patroli laut multinasional dibentuk untuk memastikan tanker tetap bisa berlayar. Jika gangguan meningkat, dunia kemungkinan akan melihat kembali koalisi keamanan maritim internasional untuk melindungi jalur energi global.
Pada akhirnya, Selat Hormuz mengingatkan dunia pada satu kenyataan sederhana dalam geopolitik energi: jalur laut yang sangat sempit bisa mengguncang perekonomian global. Dunia hampir pasti tidak akan membiarkan selat ini ditutup terlalu lama. Namun upaya untuk menjaganya tetap terbuka juga tidak pernah bebas dari risiko eskalasi konflik.
Dalam geopolitik energi modern, Hormuz adalah titik paling rapuh dalam sistem energi dunia, sebuah jalur sempit yang dapat menentukan stabilitas harga minyak, inflasi global, dan bahkan arah ekonomi dunia.

