Minyak Brent Tembus US$ 100 meski 32 Negara Siap Lepas Cadangan, Mengapa?
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak dunia melonjak tajam pada Kamis (12/3/2026), dengan minyak mentah patokan global Brent menembus $100 per barel. Lonjakan ini terjadi meski negara-negara konsumen utama mengumumkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah untuk meredam gejolak pasar akibat perang di Timur Tengah.
Baca Juga
Atasi Gangguan Pasokan, IEA Sepakat Lepas 400 Juta Barel Minyak Cadangan
Minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 8,8% ke sekitar $95 per barel, sementara Brent diperdagangkan sekitar 8,88% lebih tinggi di level $100 per barel. Kenaikan harga menunjukkan bahwa pasar masih meragukan efektivitas langkah intervensi pemerintah untuk menutup kekurangan pasokan global.
Sebelumnya, International Energy Agency (IEA) mengumumkan bahwa 32 negara anggotanya akan melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis. Ini merupakan penarikan terkoordinasi terbesar sejak lembaga tersebut dibentuk setelah krisis minyak global pada 1970-an.
Amerika Serikat juga menyatakan akan mengeluarkan 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve. Menteri Energi Chris Wright mengatakan pengiriman dapat dimulai pekan depan dan membutuhkan waktu sekitar 120 hari untuk selesai.
Baca Juga
Redam Krisis Energi Akibat Perang Iran, AS Lepas 172 Juta Barel Minyak dari Cadangan Strategis
Namun langkah itu belum mampu menenangkan pasar. Para trader khawatir pelepasan cadangan tersebut tidak cukup untuk menutup gangguan pasokan besar yang dipicu konflik di kawasan Teluk, terutama jika jalur pelayaran energi utama di Selat Hormuz tetap terganggu.
“Harga saat ini masih berada dalam mode panik. Banyak emosi, ketakutan, dan ketidakpastian tercermin dalam pergerakan harga,” kata Pavel Molchanov, ahli strategi investasi senior di Raymond James, seperti dikutip CNBC.
Sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk energi melewati Selat Hormuz setiap hari, setara hampir seperlima pasokan minyak global. Gangguan di jalur tersebut dinilai sebagai salah satu guncangan pasokan terbesar sejak krisis energi 1970-an.
Risiko Serius
Menurut analis energi Saul Kavonic, pelepasan cadangan strategis IEA memang akan menambah pasokan yang sangat dibutuhkan, tetapi hanya mampu menutup sebagian kecil dari kesenjangan pasokan global.
“Keputusan IEA juga menunjukkan betapa seriusnya risiko kekurangan minyak dan memberi sinyal bahwa perang kemungkinan tidak akan berakhir dalam waktu dekat,” katanya.
Ketidakpastian juga diperparah oleh masalah logistik. Meski jumlah cadangan yang dilepas sangat besar, para pelaku pasar masih menunggu kejelasan mengenai seberapa cepat minyak tersebut benar-benar masuk ke pasar.
Molchanov memperkirakan diperlukan waktu sekitar 60 hingga 90 hari sebelum pelepasan cadangan itu memberikan dampak nyata pada pasokan global—lebih lama dari harapan trader yang menginginkan stabilisasi cepat.
Di sisi lain, sejumlah analis menilai pasar mungkin masih meremehkan skala krisis energi yang sedang berkembang. Andy Lipow mengatakan langkah agresif IEA justru ditafsirkan sebagian pelaku pasar sebagai sinyal bahwa konflik dapat berlangsung lama.
Sementara itu, Bob McNally memperkirakan pelepasan cadangan hanya dapat menutup sebagian kecil dari potensi kehilangan pasokan sekitar 15 juta barel per hari akibat terganggunya pengiriman tanker.
Analis Vivek Dhar bahkan memperingatkan bahwa harga minyak bisa melonjak lebih tinggi jika kekurangan fisik benar-benar terjadi.
“Minyak Brent berpotensi melonjak ke kisaran $120 hingga $150 per barel untuk memaksa penurunan permintaan, terutama di negara berkembang,” katanya.

