Atasi Gangguan Pasokan, IEA Sepakat Lepas 400 Juta Barel Minyak Cadangan
Poin Penting
|
PARIS, investortrust.id – Eskalasi perang Iran yang berdampak pada pasokan minyak global mendorong Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) untuk bergerak mengantisipasi kemungkinan krisis minyak dan lonjakan harga yang tak terkendali.
Pada Rabu (11/3/2026), IEA menyepakati pelepasan 400 juta barel minyak, langkah terbesar dalam sejarah organisasi tersebut.
Baca Juga
Sempat Tembus US$ 120, Harga Minyak Anjlok Setelah Trump Pertimbangkan Ambil Alih Selat Hormuz
IEA tidak menetapkan jadwal kapan cadangan itu akan mulai masuk ke pasar, tapi menyebutkan bahwa cadangan akan dilepas dalam jangka waktu yang tepat, sesuai dengan kondisi masing-masing dari 32 negara anggotanya.
Anggota IEA terutama terdiri dari negara-negara ekonomi maju di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur Laut. Organisasi ini bertugas menjaga keamanan energi global. IEA didirikan pada 1974 sebagai respons terhadap embargo minyak yang diberlakukan oleh produsen Arab atas dukungan Amerika Serikat terhadap Israel selama Perang Arab–Israel 1973.
“Konflik di Timur Tengah memiliki dampak signifikan terhadap pasar minyak dan gas global, dengan implikasi besar bagi keamanan energi, keterjangkauan energi, dan ekonomi global,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol dalam pernyataan yang disiarkan dari kantor pusat organisasi tersebut di Paris.
“Saya sekarang dapat mengumumkan bahwa negara-negara IEA secara bulat memutuskan untuk meluncurkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah lembaga kami,” kata Birol, seperti dikutip CNBC.
Anggota IEA saat ini memegang lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat publik, dengan tambahan 600 juta barel cadangan industri yang disimpan di bawah kewajiban pemerintah.
Pelepasan ini, kata Bihol, dirancang untuk mengatasi dampak langsung dari gangguan pasokan. Namun lalu lintas tanker harus kembali melalui Selat Hormuz agar aliran minyak dan gas kembali stabil ke pasar glol.
Selat tersebut merupakan koridor maritim sempit di lepas pantai Iran yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Sekitar 20% pasokan minyak dan gas global biasanya melewati jalur ini. Lalu lintas tanker di selat itu terhenti karena perusahaan pelayaran khawatir akan serangan Iran.
Sebelumnya pada hari yang sama, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan negaranya berencana melepas cadangan minyak dari persediaan nasional paling cepat pekan depan, dengan alasan “tingkat ketergantungan yang sangat tinggi” terhadap Timur Tengah.
Terbesar dalam Sejarah
Penutupan Selat Hormuz memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, menurut analisis perusahaan konsultan Rapidan Energy Group dan Wood Mackenzie.
Analis energi sebelumnya memperingatkan bahwa kemampuan pelepasan maksimum IEA kemungkinan tidak akan mampu menutupi hampir 20 juta barel per hari minyak yang biasanya melewati selat itu.
Kepala IEA menggambarkan situasi yang suram. Produsen Timur Tengah memangkas produksi dan operasi kilang terganggu dengan implikasi besar terutama terhadap pasokan diesel dan bahan bakar jet. Serangan juga terus merusak infrastruktur energi dan fasilitas terkait energi.
Pasokan global gas alam cair atau LNG berkurang 20%, memaksa negara-negara berpendapatan tinggi di Asia bersaing dengan Eropa untuk mendapatkan kargo yang tersedia. LNG adalah bentuk gas alam yang didinginkan menjadi cair sehingga dapat dimuat ke kapal tanker untuk diekspor. Gas alam digunakan untuk produksi listrik dan pemanas rumah di seluruh dunia.
Baca Juga
Harga Minyak Tembus US$ 100, Produsen Timur Tengah Pangkas Produksi Imbas Perang Iran
Harga minyak bergejolak sejak pecahnya perang Iran pada 28 Februari, dengan patokan global Brent crude sempat melonjak hingga hampir US$120 per barel pada awal pekan sebelum turun kembali ke sekitar US$90.

