Beijing-Tokyo Masih Tegang, China Ingatkan Dunia Soal ‘Kebangkitan Militerisme’ di Jepang
Poin Penting
|
BEIJING, investortrust.id - Pemerintah China menyerukan kepada “semua negara pencinta damai” untuk bersama-sama menentang apa yang disebutnya sebagai “kebangkitan militerisme” di Jepang. Seruan itu digaungkan di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di Asia Timur yang turut dipengaruhi rivalitas China–Amerika Serikat dan konflik geopolitik global.
Baca Juga
Dinilai Ancam Perdamaian Dunia, China Tolak Keras Wacana Nuklir Jepang
Juru bicara Kementerian Pertahanan China Zhang Xiaogang mengatakan bahwa Beijing menilai sejumlah langkah Tokyo dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan remiliterisasi yang semakin jelas. “Kami menyerukan kepada semua negara dan bangsa pencinta damai untuk mengambil tindakan tegas guna menekan kebangkitan militerisme oleh kekuatan sayap kanan Jepang dan mencegah dunia terjerumus ke dalam kekacauan serta terulangnya tragedi sejarah,” ujar Zhang dalam konferensi pers, dikutip dari Antara, Jumat (26/12/2025).
Menurut Zhang, Jepang dinilai terus mendorong peningkatan kapabilitas militernya dengan menjadikan China sebagai dalih utama. Ia menuduh Tokyo membesar-besarkan apa yang disebutnya sebagai “ancaman China” untuk menyembunyikan motif strategis sebenarnya, termasuk perubahan kebijakan pertahanan pascaperang yang selama puluhan tahun dibatasi konstitusi damai Jepang.
Pernyataan tersebut muncul di tengah memburuknya hubungan diplomatik China dan Jepang, terutama terkait isu Taiwan. Beijing secara konsisten memandang Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayahnya dan menentang keterlibatan pihak asing. Jepang, sebagai sekutu utama Amerika Serikat di Asia-Pasifik, dalam beberapa tahun terakhir semakin vokal menyatakan bahwa stabilitas Selat Taiwan merupakan kepentingan langsung bagi keamanan nasionalnya, sebuah sikap yang dipandang China sebagai bentuk campur tangan.
Zhang juga menegaskan bahwa anggaran pertahanan China bersifat “wajar dan moderat,” dengan rasio belanja militer terhadap produk domestik bruto yang diklaim berada di bawah rata-rata global. Klaim ini disampaikan di tengah kritik negara-negara Barat dan sekutu regional AS yang menyoroti peningkatan cepat kemampuan militer China, terutama di Laut China Timur dan Laut China Selatan.
Ketegangan semakin meningkat setelah laporan kantor berita Kyodo pada 18 Desember mengungkapkan pernyataan seorang pejabat keamanan nasional dari kantor Sanae Takaichi, tokoh politik konservatif Jepang. Dalam pernyataan informal dan di luar catatan, pejabat tersebut menyebut Jepang “seharusnya memiliki senjata nuklir,” dengan alasan bahwa pada akhirnya suatu negara hanya dapat mengandalkan dirinya sendiri. Isu tersebut dinilai sensitif dan belum dibahas secara resmi karena berpotensi memecah opini publik Jepang.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menegaskan bahwa dalam beberapa tahun terakhir kekuatan sayap kanan di Jepang terus mendorong penguatan militer. Menurutnya, wacana kepemilikan senjata nuklir yang dilontarkan pejabat tinggi Jepang semakin mengungkap keinginan kelompok tersebut untuk menghapus pembatasan pascaperang dan mengarah pada remiliterisasi penuh.
Baca Juga
Menegangkan, Pesawat Militer China Arahkan Radar ke Jet Tempur Jepang
Isu ini berkembang saat lanskap geopolitik global semakin tegang, dengan perang di Ukraina, konflik di Timur Tengah, serta rivalitas strategis antara China dan Amerika Serikat yang mendorong negara-negara Asia Timur meninjau ulang kebijakan keamanan mereka. Jepang, yang selama puluhan tahun mengandalkan payung keamanan AS, kini berada di persimpangan antara tekanan domestik, komitmen aliansi, dan sensitivitas sejarah kawasan.

