Yield Obligasi AS Merosot Setelah Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun pada Rabu (10/12/2025) setelah Federal Reserve kembali memangkas suku bunga untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Baca Juga
Pasar Obligasi AS Tertekan, Imbal Hasil Treasury Bergerak Naik
Yield Treasury tenor 10 tahun turun lebih dari 3 basis poin ke 4,153%, sementara tenor 30 tahun turun lebih dari 1 basis poin ke 4,795%. Yield Treasury 2 tahun—yang sensitif terhadap kebijakan moneter—anjlok lebih dari 7 basis poin ke 3,542%.
Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi kisaran 3,5%–3,75%. Menjelang keputusan, pasar telah memperkirakan peluang sekitar 90% untuk pemangkasan seperempat poin.
Setelah keputusan tersebut, investor meningkatkan taruhan bahwa The Fed akan memangkas lebih dalam dibandingkan proyeksi resminya. Fed funds futures menunjukkan peluang lebih dari 77% bahwa dua pemangkasan tambahan akan dilakukan tahun depan.
Keputusan itu diwarnai perbedaan pandangan di internal The Fed: Gubernur Stephen Miran menginginkan pemangkasan lebih besar sebesar 50 bps, sementara Presiden Fed Kansas City Jeffrey Schmid dan Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee memilih mempertahankan suku bunga.
The Fed juga memberi sinyal bahwa pelemahan pasar tenaga kerja semakin menjadi perhatian utama. Hal ini dinilai pasar sebagai sinyal bahwa bank sentral dapat mengambil langkah tambahan untuk menopang ekonomi.
Baca Juga
The Fed Pangkas Bunga Acuan 25 Bps, Isyaratkan Kehati-hatian pada 2026
“The Fed tampaknya mengandalkan produktivitas yang meningkat untuk menopang pertumbuhan meski pasar tenaga kerja melemah,” kata Jeffrey Roach, kepala ekonom LPL Financial, seperti dikutip CNBC. Ia memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada kuartal pertama tahun depan dan kemungkinan melakukan pemangkasan pertama pada kuartal kedua.
Sementara itu, The Fed mengonfirmasi akan mulai membeli US$40 miliar Treasury bills mulai Jumat. Pembelian ini akan tetap tinggi selama beberapa bulan sebelum kemudian dikurangi. Langkah ini menyusul keputusan Oktober lalu untuk menghentikan pengurangan neraca dan menambah likuiditas bagi pasar.

