Bursa Asia-Pasifik ‘Mixed’, Investor Cerna Data Dagang China
Poin Penting
- Hang Seng turun 1,12% sementara CSI 300 menguat 0,81% setelah ekspor China naik 5,9%.
- Jepang merevisi penurunan PDB kuartal ketiga menjadi -2,3%, lebih buruk dari perkiraan.
- Kospi naik 1,34% dan pasar India melemah akibat polemik pembatalan massal IndiGo.
- RBA diperkirakan mempertahankan suku bunga di 3,60% hingga 2026.
TOKYO, investortrust.id - Pasar saham Asia-Pasifik Senin (8/2/2025) bergerak bervariasi, dipengaruhi dua kekuatan yang saling tarik-menarik. Kebangkitan ekspor China yang lebih kuat dari prediksi, dan tekanan ekonomi di Jepang yang lebih parah dari perkiraan.
Baca Juga
Pasar Asia Mayoritas Menguat, Nikkei 225 Jepang Melonjak Dipimpin Saham Teknologi
Dikutip dari CNBC, Indeks Hang Seng Hong Kong terjun 1,12%, terseret oleh aksi ambil untung dan kekhawatiran atas stabilitas permintaan global. Sebaliknya, CSI 300 naik 0,81%, didorong optimisme bahwa peningkatan ekspor 5,9% di November dapat menjadi titik balik sektor manufaktur yang lesu.
Revisi data Jepang menjadi faktor lain yang menggoyang sentimen. Pemerintah Tokyo melaporkan bahwa PDB Jepang anjlok 2,3% secara tahunan pada kuartal ketiga—lebih buruk dari estimasi awal dan menandai tekanan berkelanjutan pada belanja konsumen serta investasi korporasi. Tapi, indeks Nikkei 225 naik 0,18% menjadi 50.581,94.
Pasar Korea Selatan tampil menonjol, dengan Kospi menguat 1,34% di tengah rebound saham teknologi. Namun India justru bergerak sebaliknya; Nifty 50 turun 0.65%, setelah regulator penerbangan mengancam tindakan terhadap maskapai IndiGo yang membatalkan ribuan penerbangan pekan lalu.
Di Australia, indeks ASX 200 melemah 0,12% menjelang keputusan suku bunga Bank Sentral Australia (RBA). Mayoritas ekonom memperkirakan RBA akan menahan suku bunga di 3,60% hingga 2026, mencerminkan sikap hati-hati terhadap prospek inflasi.
Di sisi lain, minat investor global tetap tertuju pada Wall Street setelah tiga indeks utama ditutup menguat pada akhir pekan. S&P 500 mencatat kenaikan empat hari berturut-turut, berada kurang dari 1% dari rekor intraday, menambahkan dorongan positif ke sesi Asia.
Baca Juga
Wall Street Menguat Setelah Rilis Data Inflasi AS, S&P 500 Naik 4 Hari Beruntun
Dinamika pasar Asia hari ini menunjukkan bahwa investor masih menimbang apakah rebound ekspor China cukup kuat untuk mengimbangi tekanan struktural di kawasan—mulai dari perlambatan Jepang hingga risiko geopolitik yang membayangi rantai pasok regional.

