Wall Street Anjlok Dibayangi Kecemasan ‘AI Bubble’, Dow Terperosok Lebih dari 550 Poin
Poin Penting
- Dow Jones ditutup turun 557 poin (−1,18%), terseret koreksi Nvidia, Apple, dan Salesforce; S&P 500 dan Nasdaq juga terkoreksi.
- Nvidia melemah hampir 2% menjelang rilis kinerja kuartal ketiga, memicu kekhawatiran valuasi sektor AI yang dinilai terlalu tinggi.
- Investor menanti laporan tenaga kerja September dan risalah pertemuan The Fed sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga.
- Alphabet menjadi pengecualian positif, naik 3,1% setelah Berkshire Hathaway melaporkan kepemilikan saham baru.
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS turun tajam pada Senin waktu AS atau Selasa (18/11/2025). Indeks Dow Jones Industrial Average terjun 557,24 poin atau 1,18% menjadi 46.590,24, tertekan penurunan saham Nvidia, Salesforce, dan Apple. S&P 500 turun 0,92% ke 6.672,41, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,84% menjadi 22.708,07.
Baca Juga
Wall Street Terombang-ambing Saham Big-Tech, Nasdaq Bangkit, Dow Anjlok 300 Poin
Saham Nvidia melemah hampir 2% menjelang rilis laporan kuartal ketiga yang dijadwalkan setelah penutupan perdagangan pada Rabu. Saham produsen chip tersebut, bersama emiten-emiten AI lain, belakangan menjadi sumber tekanan di pasar karena investor makin cemas terhadap valuasi yang dinilai terlalu tinggi. Blue Owl Capital, pemberi pinjaman private credit, anjlok hampir 6% akibat kekhawatiran mengenai eksposur pembiayaan pembangunan pusat data AI.
“Penting bagi Nvidia untuk memastikan permintaan masih kuat dan tidak menunjukkan perlambatan,” ujar Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird, seperti dikutip CNBC. Pasar mungkin masih yakin permintaan komputasi tinggi, tapi menjadi pertanyaan bagaimana ROI (return on investment) bagi perusahaan yang membeli chip-chip itu. Menurut dia, jika Nvidia memberikan panduan yang sedikit melemah, pasar kemungkinan bereaksi negatif.
Walmart akan merilis kinerja pada Kamis sebelum pasar dibuka. Hasilnya diperkirakan memberi gambaran mengenai ketahanan konsumen AS dan apakah pola belanja mulai terbelah.
“Saham-saham konsumen, apalagi di tengah keterbatasan data tenaga kerja, akan sangat menentukan sentimen pasar menjelang musim liburan,” tambah Mayfield.
Investor juga menantikan laporan payroll non-pertanian September pada Kamis, data ekonomi pertama yang dirilis setelah blackout akibat shutdown pemerintah AS. Laporan tersebut, bersama risalah pertemuan Oktober The Fed yang dirilis pekan ini—meski dinilai “agak basi”—diperkirakan memberi kejelasan tambahan pada periode ketika pasar masih kekurangan data.
Ekspektasi Pemotongan Bunga Fed Menipis
Ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga federal pada pertemuan terakhir tahun ini juga semakin menipis. Pedagang futures kini memperkirakan peluang sekitar 45% untuk penurunan suku bunga, turun tajam dari lebih dari 90% sebulan lalu, menurut CME FedWatch.
Baca Juga
The Fed Pangkas Suku Bunga 25 Bps, tapi Powell Ragukan Kemungkinan Pemotongan Lanjutan Akhir Tahun
Alphabet menjadi sorotan positif dengan lonjakan 3,1% setelah Berkshire Hathaway mengungkapkan kepemilikan baru pada induk Google dan YouTube. Investor menilai langkah itu sebagai sinyal bahwa Berkshire masih melihat valuasi menarik pada saham-saham AI meskipun reli besar tahun ini, meski pembelian kemungkinan dilakukan oleh manajer portofolionya, bukan Warren Buffett sendiri.
Sebaliknya, bitcoin melemah lebih dari 2%, menandakan berkurangnya selera risiko dan pelemahan sentimen di sektor teknologi. Mata uang kripto tersebut turun di bawah US$95.000 pada Jumat.
Dengan pelemahan Senin ini, S&P 500 sekarang turun lebih dari 2% sepanjang November setelah mencatat enam bulan kenaikan berturut-turut. Indeks tersebut juga terkoreksi lebih dari 3% dari rekor tertingginya, sementara Nasdaq turun lebih dari 5% dari puncaknya. Sektor teknologi di S&P 500 turun 5% bulan ini dan melemah hampir 7% dari posisi tertingginya.

