Wall Street Terombang-ambing Saham Big-Tech, Nasdaq Bangkit, Dow Anjlok 300 Poin
Poin Penting
- Nasdaq naik 0,13% dan memutus tren penurunan tiga hari, didorong rebound saham teknologi termasuk Nvidia, Oracle, Tesla, dan Palantir.
- S&P 500 hampir flat sementara Dow jatuh 309 poin, namun seluruh indeks pulih dari pelemahan intraday yang jauh lebih dalam.
- Kekhawatiran terhadap valuasi AI, lonjakan pembiayaan utang, dan belanja modal AI yang membengkak terus menekan sentimen.
- Peluang pemotongan suku bunga The Fed pada Desember turun di bawah 50%, memperburuk volatilitas pasar.
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS berfluktuasi pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (15/11/2025). Nasdaq Composite menguat seiring investor memburu kembali saham-saham teknologi utama, sedangkan indeks Dow Jones anjlok.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Tertekan Saham Teknologi, Dow Ambles Hampir 800 Poin
Indeks Nasdaq yang sarat saham teknologi naik 0,13% menjadi 22.900,59, mengakhiri tren penurunan selama tiga hari. S&P 500 berakhir mendekati level datar, turun tipis 0,05% di 6.734,11. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 309,74 poin, atau 0.65%, menjadi 47.147,48.
Ketiga indeks tersebut sempat merosot jauh lebih dalam pada sesi awal: Nasdaq dan S&P 500 masing-masing sempat turun 1,9% dan sekitar 1,4%, sementara Dow sempat jatuh hampir 600 poin atau sekitar 1,3%.
Sektor teknologi mulai pulih setelah tekanan kuat dalam beberapa hari terakhir. Pemain besar kecerdasan buatan seperti Nvidia dan Oracle membalikkan kerugian sesi sebelumnya, begitu pula Palantir Technologies dan Tesla, yang masing-masing anjlok lebih dari 6% pada hari sebelumnya.
ETF Technology Select Sector SPDR (XLK) ditutup naik 0,5% pada Jumat, menghapus sebagian dari penurunan 2% pada Kamis.
Pada Kamis, indeks-indeks utama AS mencatat kinerja harian terburuk sejak 10 Oktober. Dow yang berisi 30 saham merosot sekitar 800 poin, menghapus kenaikan pada Rabu ketika sempat menembus level 48.000. Nasdaq ambruk lebih dari 2% karena raksasa teknologi tertekan hebat.
“Kita seperti bolak-balik antara perdagangan risk-on dan risk-off. Saya pikir banyak orang mencoba melakukan reposisi menjelang akhir tahun dan memasuki 2026, mengingat tingginya konsentrasi portofolio yang terbentuk akibat performa kuat perusahaan teknologi,” beber Brian Mulberry, manajer portofolio klien di Zacks Investment Management, seperti dikutip CNBC. Ia memperkirakan pergerakan naik-turun 1–2% akan terus terjadi hingga akhir tahun seiring reposisi dan penurunan risiko portofolio.
Baca Juga
Wall Street Rontok Dibayangi Kekhawatiran ‘Bubble’ Saham AI, Indeks Nasdaq & S&P 500 Turun Tajam
Meski mengalami gejolak signifikan minggu ini, Nasdaq berakhir turun 0,5% pada periode mingguan. Sebaliknya, S&P 500 dan Dow masih mencatat kenaikan tipis masing-masing 0,1% dan 0,3%.
Kekhawatiran terhadap perdagangan saham AI meningkat dalam sepekan terakhir, terutama setelah kejatuhan saham Oracle yang menambah kecemasan investor terkait valuasi teknologi yang tinggi, lonjakan pembiayaan utang, dan rencana belanja modal AI yang membengkak.
Baca Juga
Wall Street Rontok Dibayangi Kekhawatiran ‘Bubble’ Saham AI, Indeks Nasdaq & S&P 500 Turun Tajam
Oracle memiliki ketergantungan pertumbuhan yang lebih besar pada kerja sama cloud dengan OpenAI, dan memiliki cadangan kas lebih kecil dibanding para hyperscaler.
“AI benar-benar menguji batas perhitungan spreadsheet Wall Street,” kata David Krakauer, wakil presiden manajemen portofolio di Mercer Advisors, kepada CNBC. Investor yang memasukkan ekspektasi pertumbuhan masa depan yang masih sulit diukur, katanya, ikut menciptakan “lingkungan penuh gejolak.”
“Valuasi sudah sangat tinggi, dan sedikit perubahan ekspektasi laba maupun suku bunga akan berdampak semakin besar.”
Tekanan pasar pekan ini semakin diperburuk oleh kegelisahan mengenai keputusan suku bunga Federal Reserve pada Desember.
Trader kini memperkirakan peluang kurang dari 50% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 bps pada pertemuan Desember — turun dari 62,9% awal pekan ini dan jauh lebih rendah dari 95,5% sebulan lalu, menurut CME FedWatch Tool.
Investor berharap pemotongan suku bunga Desember dapat menghidupkan kembali ekonomi dan meningkatkan selera risiko di Wall Street. Namun beberapa pejabat The Fed khawatir inflasi masih terlalu lengket untuk memungkinkan penurunan suku bunga tambahan tahun ini.
Sementara itu, penutupan pemerintahan AS — yang merupakan yang terpanjang dalam sejarah — berakhir Rabu malam setelah berlangsung lebih dari enam minggu.
Perkembangan itu semula diharapkan mengembalikan rilis data ekonomi penting, namun justru memunculkan pertanyaan baru. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa beberapa data ekonomi yang seharusnya dirilis selama masa shutdown kemungkinan tidak akan pernah diterbitkan.

