Wall Street Rontok Dibayangi Kekhawatiran ‘Bubble’ Saham AI, Indeks Nasdaq & S&P 500 Turun Tajam
Poin Penting
• Nasdaq turun 1,8% dan S&P 500 melemah 1,1%, dipimpin penurunan tajam saham AI seperti Palantir dan AMD.
• Palantir merosot 9% meski laba kuat, dengan valuasi kini lebih dari 200 kali pendapatan ke depan.
• Lonjakan valuasi saham AI mendorong rasio P/E S&P 500 ke level tertinggi sejak 2000, memicu kekhawatiran koreksi.
• Eksekutif Goldman Sachs dan Morgan Stanley memperingatkan potensi penurunan 10–20% di pasar saham dalam dua tahun ke depan.
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham Amerika Serikat rontok pada Selasa waktu AS atau Rabu (5/11/2025) WIB, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap valuasi yang terlalu tinggi pada saham-saham unggulan berbasis kecerdasan buatan (AI).
Baca Juga
Sektor IT Dongkrak Wall Street, Indeks S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Tertinggi Baru
Indeks S&P 500 turun 1,17% menjadi 6771,55, sedangkan Nasdaq Composite merosot 2,04% ditutup pada 2.348,64. Dow Jones Industrial Average kehilangan 251,44 poin atau sekitar 0,53% menjadi 47.085,24.
Saham Palantir anjlok 8%, meski perusahaan perangkat lunak itu membukukan kinerja kuartal ketiga di atas ekspektasi Wall Street dan memberikan panduan optimistis berkat pertumbuhan bisnis AI-nya.
Saham Palantir telah melonjak lebih dari 150% sepanjang tahun ini dan kini diperdagangkan lebih dari 200 kali estimasi pendapatan ke depan — menandakan ekspektasi investor yang sangat tinggi terhadap prospek pertumbuhan laba dan pendapatan.
Saham Oracle juga terkoreksi 4%, memangkas kenaikan hampir 50% yang dicatat sepanjang tahun. Produsen chip AMD, yang nilainya telah berlipat ganda sejak awal 2024, turun lebih dari 2%. Saham-saham AI lain seperti Nvidia dan Amazon turut melemah.
Lonjakan valuasi saham AI telah mendorong rasio price-to-earnings (P/E) ke depan untuk S&P 500 ke atas level 23 kali, mendekati rekor tertinggi sejak tahun 2000, menurut data FactSet. “Tanpa koreksi, valuasi mulai terlihat sangat renggang,” kata Anthony Saglimbene, Kepala Strategi Pasar di Ameriprise, dalam wawancara dengan CNBC.
“Kita belum melihat koreksi besar atau tekanan signifikan sejak April,” ujarnya. “Laba memang kuat, tetapi investor kini mulai bertanya: dengan tingkat belanja modal yang sangat tinggi di perusahaan teknologi besar, apakah laba mereka tahun depan akan cukup untuk membenarkan pengeluaran sebesar itu?”
Baca Juga
Warning! CEO Goldman Sachs dan Morgan Stanley Peringatkan Risiko Koreksi di Pasar Saham AS
Komentar dari dua eksekutif besar Wall Street turut memperburuk sentimen. CEO Goldman Sachs David Solomon mengatakan kemungkinan akan ada koreksi 10–20% di pasar saham dalam 12–24 bulan mendatang. CEO Morgan Stanley Ted Pick menambahkan, penurunan 10–15% seharusnya dianggap sebagai bagian alami dari siklus pasar.
“Fundamental pasar masih baik, tapi wajar bila kita melihat periode pullback. Apakah itu berujung pada koreksi 5%, 10%, atau 15% hingga akhir tahun, kita lihat saja nanti,” ujar Saglimbene. “
Wall Street sebelumnya ditutup 'mixed' pada Senin. S&P 500 dan Nasdaq menguat, sementara Dow Jones turun lebih dari 200 poin. Namun lebih dari 300 saham di indeks S&P 500 ditutup melemah, menandakan lemahnya breadth pasar dan ketergantungan berlebih pada sektor teknologi.
Menurut Saglimbene, pasar sudah cukup sempit selama beberapa bulan terakhir. “Jika momentum AI dan teknologi melambat, kita tidak punya banyak sektor lain yang berkinerja sama kuatnya. Dan tanpa kejelasan data ekonomi atau peningkatan profitabilitas di sektor lain, investor akan kesulitan mencari arah,” tuturnya.

