IMF Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Global ke 3,2%, tapi Perang Dagang Masih Menghantui
Poin Penting
- IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan global 2025 menjadi 3,2 persen, didorong stimulus dan investasi AI.
- Ekonomi global dinilai lebih tangguh terhadap kejutan tarif daripada perkiraan sebelumnya.
- Ancaman tarif 100 persen dari Trump terhadap Tiongkok menjadi risiko utama bagi outlook dunia.
- Dalam skenario ekstrem, IMF memperkirakan perang tarif bisa menghapus hingga 1,8 poin pertumbuhan global pada 2027.
WASHINGTON, investortrust.id – Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan sedikit proyeksi pertumbuhan global 2025 karena guncangan tarif dan kondisi keuangan terbukti lebih ringan dari perkiraan. Namun, IMF memperingatkan bahwa kebangkitan kembali perang dagang AS-China yang diancam Presiden Donald Trump dapat memperlambat output secara signifikan.
Baca Juga
Perang Dagang Kembali Memanas, Trump Ancam Naikkan Tarif Besar-Besaran pada China
IMF dalam laporan World Economic Outlook-nya, Selasa (14/10/2025) menyebutkan bahwa serangkaian kesepakatan dagang terbaru antara AS dan beberapa ekonomi utama dunia telah menghindarkan skenario terburuk dari ancaman tarif Trump dengan sedikit pembalasan, sehingga mendorong revisi kenaikan proyeksi pertumbuhan untuk kedua kalinya sejak April.
IMF kini memproyeksikan pertumbuhan riil PDB global sebesar 3,2% pada 2025, naik dari perkiraan Juli sebesar 3,0% dan jauh di atas proyeksi April sebesar 2,8% yang muncul setelah Trump memberlakukan tarif global “resiprokal” dan memicu eskalasi balasan dari China. Pertumbuhan global 2026 diperkirakan tetap di 3,1%, tidak berubah dari proyeksi Juli.
“Selain tarif yang lebih rendah dari perkiraan, output global juga didukung oleh sektor swasta yang tangguh dengan strategi impor cepat dan pengalihan rantai pasok, pelemahan dolar AS, stimulus fiskal di Eropa dan China, serta lonjakan investasi di bidang kecerdasan buatan,” beber Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas, dikutip dari Reuters.
Kesimpulannya, menurut dia, tidak seburuk yang dikhawatirkan, tapi lebih buruk dari yang diperkirakan setahun lalu.
Namun, Trump pada Jumat lalu mengguncang ketenangan pasar dengan ancaman tarif 100% atas barang-barang asal China – di atas rata-rata tarif yang sudah mencapai 55% – sebagai balasan atas kebijakan ekspor tanah jarang Beijing yang meluas drastis. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pada Senin bahwa pembicaraan sedang dilakukan untuk meredakan potensi eskalasi besar dalam perang dagang AS-China.
“Jelas, jika ini benar-benar terjadi, maka akan menjadi risiko yang sangat signifikan bagi ekonomi global,” kata Gourinchas kepada Reuters dalam wawancara, seraya menambahkan bahwa eskalasi bisa memangkas proyeksi pertumbuhan secara signifikan dan menambah ketidakpastian yang mendinginkan investasi dan konsumsi.
Dalam skenario risiko negatif yang dimodelkan IMF — dengan tarif 30 poin persentase lebih tinggi dari level saat ini untuk barang asal China dan 10 poin lebih tinggi bagi Jepang, kawasan euro, dan pasar berkembang Asia — lembaga itu memperkirakan pertumbuhan global pada 2026 bisa berkurang 0,3 poin persentase, dan dampaknya meningkat menjadi lebih dari 0,6 poin hingga 2028.
Jika ditambah dampak lain seperti ekspektasi inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi serta menurunnya permintaan terhadap aset AS, IMF mengatakan PDB global bisa turun 1,2 poin persentase pada 2026 dan 1,8 poin pada 2027 dalam skenario terburuk itu.
Pertumbuhan AS Stabil
Berdasarkan proyeksi dasar IMF, prospek ekonomi AS tetap tangguh, dengan pertumbuhan 2025 sebesar 2,0%, sedikit naik dari perkiraan Juli sebesar 1,9%. IMF memperkirakan pertumbuhan PDB AS pada 2026 sebesar 2,1%, juga sedikit lebih baik dari Juli, meski jauh di bawah laju 2024 sebesar 2,8%.
Baca Juga
Powell: Ekonomi AS Mulai Pulih, tapi Pasar Tenaga Kerja Masih Lemah
IMF menyebut tarif yang lebih rendah dari perkiraan, dorongan fiskal dari undang-undang pajak Partai Republik, kondisi keuangan yang lebih longgar, serta lonjakan investasi kecerdasan buatan sebagai faktor pendukung pertumbuhan AS.
Pertumbuhan zona euro juga sedikit membaik menjadi 1,2% dari 1,0% pada Juli, didorong oleh ekspansi fiskal di Jerman dan momentum kuat yang berlanjut di Spanyol.

