Powell: Ekonomi AS Mulai Pulih, tapi Pasar Tenaga Kerja Masih Lemah
Poin Penting
|
PHILADELPHIA, investortrust.id - Pasar tenaga kerja Amerika Serikat tetap terjebak dalam kondisi perekrutan dan pemutusan hubungan kerja yang rendah sepanjang September, meskipun ekonomi “mungkin berada pada lintasan yang sedikit lebih kuat dari yang diharapkan.”
Baca Juga
Klaim Pengangguran Meningkat, Pasar Tenaga Kerja AS Kian Rapuh
Hal itu disampaikan Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve Jerome Powell pada Selasa (14/10/2025). Ia menekankan bahwa para pembuat kebijakan akan mengambil pendekatan “dari pertemuan ke pertemuan” terhadap pemangkasan suku bunga saat mereka menyeimbangkan kelemahan pasar kerja dengan inflasi yang masih di atas target.
Dalam pidatonya di konferensi National Association for Business Economics di Philadelphia, Powell mengakui adanya dilema ekonomi yang telah membuat pejabat bank sentral AS terpecah. Sebagian lebih khawatir pada inflasi yang masih tinggi dan berpotensi naik, sebagian lagi khawatir pasar tenaga kerja mungkin sedang meluncur cepat ke bawah.
Powell mengatakan, satu komplikasi baru bahwa data aktivitas ekonomi terbaru menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, tetapi hal itu belum diterjemahkan menjadi peningkatan perekrutan.
“Kita memang melihat ketegangan antara data pasar tenaga kerja — tingkat penciptaan lapangan kerja yang sangat rendah — dan kenyataannya masyarakat masih belanja. Kita harus melihat bagaimana hal itu berkembang,” bebernya.
Baca Juga
Kepercayaan Konsumen AS Merosot, ‘Shutdown’ Ancam ‘Blackout’ Data Ekonomi
Untuk sementara, analisis akan dilakukan tanpa data resmi karena sebagian besar laporan pemerintah AS ditangguhkan akibat penutupan pemerintahan. Powell mengatakan ia merasa masih ada cukup wawasan untuk pertemuan The Fed pada 28–29 Oktober. Namun, diakui, pihaknya akan mulai kehilangan data, terutama data Oktober, jika penutupan berlangsung lama.
Untuk saat ini, Powell menilai ada cukup banyak informasi publik dan swasta guna membuat keputusan kebijakan, terutama setelah Biro Statistik Tenaga Kerja diberi izin oleh pemerintahan Trump untuk merilis laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan September pada 24 Oktober, sebelum pertemuan kebijakan The Fed berikutnya.
“Berdasarkan data yang kami miliki, dapat dikatakan bahwa prospek pekerjaan dan inflasi tidak tampak banyak berubah sejak pertemuan kami pada September lalu,” kata Powell, merujuk pada keputusan The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar seperempat poin persentase. “Data yang tersedia sebelum penutupan pemerintahan menunjukkan bahwa pertumbuhan aktivitas ekonomi mungkin berada pada lintasan yang sedikit lebih kokoh dari perkiraan.”
Baca Juga
Risalah FOMC: Mayoritas Anggota The Fed Dukung Dua Kali Pemotongan Lagi hingga Akhir 2025
Pernyataan Powell tidak mengubah pandangan hampir bulat di kalangan investor bahwa The Fed akan memangkas suku bunga kebijakannya lagi sebesar seperempat poin persentase dalam dua minggu ke depan.
“Powell mengatakan bahwa ekonomi berada di posisi yang solid, tapi ia juga mengakui adanya kelemahan. Ia mempersiapkan pasar untuk serangkaian pemangkasan suku bunga, namun tidak harus secara berurutan,” kata Peter Cardillo, kepala ekonom pasar di Spartan Capital Securities, New York. TheFed diperkirakan akan memangkas 25 basis poin di akhir bulan ini, lalu menilai kembali situasinya.
Risiko
Powell menyoroti adanya “perdebatan sehat” di internal The Fed, tercermin dalam proyeksi terbaru yang menunjukkan sekitar separuh pembuat kebijakan memperkirakan hanya satu kali atau bahkan tidak ada lagi pemangkasan suku bunga tahun ini, sementara sisanya memperkirakan dua kali atau lebih.
Hal itu mencerminkan dilema yang dihadapi The Fed antara mencapai target inflasi 2% dan melindungi pasar tenaga kerja.
“Tidak ada jalur kebijakan tanpa risiko saat kami menavigasi ketegangan antara tujuan pekerjaan dan inflasi kami,” kata Powell, seraya menambahkan bahwa proyeksi kebijakan yang dikeluarkan setiap tiga bulan “harus dipahami sebagai representasi dari berbagai kemungkinan hasil yang probabilitasnya berkembang seiring informasi baru yang mempengaruhi pendekatan kami dari pertemuan ke pertemuan.”
Meski laporan pekerjaan bulan September tertunda, Powell mengatakan ia mengambil referensi dari berbagai sumber data publik dan swasta untuk memahami kondisi pasar tenaga kerja.
“Bukti yang tersedia menunjukkan bahwa baik pemutusan hubungan kerja maupun perekrutan tetap rendah, dan persepsi rumah tangga terhadap ketersediaan pekerjaan serta persepsi perusahaan terhadap kesulitan perekrutan terus menurun,” kata Powell.
Ia menambahkan, inflasi yang tinggi sebagian disebabkan oleh kenaikan harga barang yang “lebih mencerminkan dampak tarif dibanding tekanan inflasi yang lebih luas.”

