Gara-gara Perang Iran, IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Global 2026 Jadi 3,1%
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Prospek ekonomi global kembali dibayangi ketidakpastian tajam setelah International Monetary Fund memangkas proyeksi pertumbuhan dunia. Hal ini dipicu eskalasi perang Iran yang menimbulkan krisis energi dan mengguncang stabilitas pasar keuangan global.
Baca Juga
IMF Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Global dan Sejumlah Negara Akibat Tarif Tinggi AS
Dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2026, IMF memperkirakan ekonomi global hanya akan tumbuh 3,1% pada 2026, turun dari proyeksi sebelumnya 3,3%. Sementara untuk 2027, pertumbuhan diperkirakan berada di kisaran 3,2%.
Pemangkasan ini terjadi di tengah memburuknya dinamika geopolitik di Timur Tengah, khususnya setelah kegagalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad pekan lalu. Upaya diplomasi yang belum membuahkan hasil tersebut memperbesar risiko konflik berkepanjangan.
Sejumlah media internasional, termasuk Reuters dan CNBC, melaporkan bahwa kebuntuan negosiasi terjadi meski kedua pihak sempat menunjukkan sinyal kompromi. Wakil Presiden AS, JD Vance, bahkan menyebut kelanjutan pembicaraan kini sepenuhnya bergantung pada Teheran.
Di saat yang sama, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa tekanan militer, termasuk blokade terhadap pelabuhan Iran, bertujuan memaksa Iran kembali ke meja perundingan—atau membuka kembali akses vital energi global di Selat Hormuz.
Blokade tersebut memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan minyak dunia, mengingat sekitar seperlima distribusi energi global melewati jalur Selat Hormuz. Gangguan di jalur ini berpotensi mendorong lonjakan harga energi dan memperparah tekanan inflasi global.
IMF mencatat, tanpa konflik tersebut, pertumbuhan global sejatinya berpotensi direvisi naik menjadi 3,4%. Namun realitas geopolitik justru membalikkan arah, menciptakan tekanan simultan terhadap harga komoditas, ekspektasi inflasi, dan kondisi keuangan global.
Baca Juga
Pelabuhan Iran Diblokade AS, Trump Klaim Teheran Ingin Kembali ke Meja Perundingan
“Inflasi global diperkirakan meningkat menjadi 4,4% pada 2026 dan baru mereda ke 3,7% pada 2027,” tulis IMF dalam laporan resminya.
Kepala Ekonom IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, dalam wawancaranya dengan CNBC menyebut konflik ini sebagai “guncangan pasokan besar” yang sulit direspons oleh kebijakan moneter konvensional.
Menurutnya, kenaikan atau penurunan suku bunga tidak akan mampu mengatasi lonjakan harga energi yang berasal dari gangguan pasokan di kawasan Teluk.
Skenario Terburuk
IMF juga menggarisbawahi potensi skenario yang lebih ekstrem apabila konflik meluas atau merusak infrastruktur energi secara signifikan.
Dalam skenario terburuk, pertumbuhan ekonomi global bisa anjlok ke level 2% pada 2026 - angka yang sangat jarang terjadi dan biasanya hanya muncul saat krisis besar seperti krisis keuangan global 2008 atau pandemi Covid-19.
Pada saat yang sama, inflasi berisiko melonjak hingga di atas 6%, menciptakan kombinasi berbahaya antara perlambatan ekonomi dan tekanan harga yang tinggi (stagflation).
Risiko ini dinilai akan berdampak tidak merata. Negara-negara berkembang dan importir energi diperkirakan menjadi pihak paling rentan, sementara negara maju juga menghadapi tekanan fiskal dan volatilitas pasar yang meningkat.
IMF memperingatkan bahwa fragmentasi geopolitik yang semakin dalam, ketidakpastian produktivitas berbasis AI, serta potensi kebangkitan kembali perang dagang dapat memperburuk situasi.
Prioritas Kebijakan
Dalam menghadapi tekanan global ini, IMF mendesak pemerintah dan bank sentral untuk mengambil langkah cepat dan terukur. Prioritas utama adalah menjaga stabilitas harga dan sistem keuangan, mengamankan keberlanjutan fiscal, dan melanjutkan reformasi struktural tanpa penundaan.
Bank sentral diminta tetap waspada agar ekspektasi inflasi tidak lepas kendali, sementara kebijakan fiskal harus difokuskan pada perlindungan kelompok rentan secara tepat sasaran dan bersifat sementara. “Dunia sedang memasuki fase ketidakpastian baru, di mana koordinasi global dan kredibilitas kebijakan menjadi kunci,” tulis IMF.
Dengan ketegangan geopolitik yang belum mereda dan jalur energi global yang masih terancam, arah ekonomi dunia kini berada di persimpangan—antara stabilisasi atau justru tergelincir ke krisis yang lebih dalam.

