Sinyal Pemangkasan Bunga Fed Dorong Emas Sentuh Level Tertinggi Sepanjang Masa
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Harga emas dunia kembali mencatat rekor tertinggi pada perdagangan Senin (15/9/2025), ditopang oleh melemahnya dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah. Investor kini menanti keputusan Federal Reserve yang bisa menentukan arah pasar hingga akhir tahun.
Baca Juga
Harga Emas Dunia Berpotensi Tembus US$ 3.800 per Troy Ounce di Akhir 2025
Emas spot naik 1,1% ke US$3.680,80 per ons, setelah sempat menembus rekor US$3.685,39. Kontrak berjangka emas Desember ditutup 0,8% lebih tinggi di US$3.719.
Pasar hampir bulat memperkirakan pemangkasan suku bunga 25 basis poin oleh The Fed pada Rabu, meskipun sebagian masih menilai ada peluang pemangkasan lebih agresif sebesar 50 bps.
“Ekspektasi pemangkasan 25 basis poin sudah hampir sepenuhnya tercermin dalam harga saat ini,” ujar Peter Grant, wakil presiden dan ahli strategi logam senior di Zaner Metals, seperti dikutip Reuters. Ia menambahkan, masih mungkin ada satu atau dua kali pemangkasan lagi sebelum akhir tahun. Target kenaikan emas selanjutnya berada di $3.700, lalu $3.730 dan $3.743 dalam jangka pendek.
Emas yang tidak memberikan imbal hasil, kerap dianggap sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian, cenderung berkinerja baik di lingkungan suku bunga rendah.
The Fed menghadapi tekanan yang tidak biasa, dengan adanya perebutan kepemimpinan dan Presiden Donald Trump yang mendorong pengaruh lebih besar atas kebijakan. Senat juga membuka kemungkinan bagi penasihat ekonomi Trump, Stephen Miran, untuk bergabung dengan komite penentu suku bunga tepat waktu untuk memberikan suara pada Rabu.
Baca Juga
Laporan akhir pekan bahwa Tiongkok mungkin akan melonggarkan aturan impor dan ekspor emas mendorong pembelian besar-besaran, dengan permintaan resmi maupun swasta dipandang sebagai pendorong utama reli emas, kata Tai Wong, pedagang logam independen.
Data pekan lalu menunjukkan harga konsumen AS naik dengan laju tercepat dalam tujuh bulan pada Agustus, sementara data ketenagakerjaan terbaru mengindikasikan pelemahan pasar tenaga kerja, menjaga The Fed tetap di jalur untuk memangkas suku bunga.

