Harga Emas Menguat Setelah The Fed Pangkas Suku Bunga, Perak Tertinggi Sepanjang Masa
Poin Penting
| ● | Harga emas naik 0,7% setelah The Fed memangkas suku bunga. |
| ● | Harga perak sentuh rekor tertinggi didorong permintaan industri. |
| ● | Ketidakpastian kebijakan 2025 membuat pasar tetap waspada. |
JAKARTA, Investortrust.id - Harga emas berbalik menguat pada Rabu (10/12/2025) setelah Federal Reserve (The Fed) memangkas suku bunga, sementara ketidakpastian mengenai arah kebijakan tahun depan tetap menjadi perhatian pasar. Pada saat yang sama, harga perak menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, menandai lonjakan signifikan di pasar logam mulia.
Pada penutupan perdagangan, harga emas spot naik 0,7% menjadi US$ 4.236,57 per ons. Kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman Februari berakhir 0,3% lebih rendah di US$ 4.224,70, setelah sebelumnya bergerak volatil mengikuti keputusan bank sentral.
Federal Reserve menurunkan suku bunga dalam pemungutan suara yang kembali terpecah. Bank sentral memberi sinyal kemungkinan menunda pemangkasan lanjutan karena para pejabat menunggu data kondisi pasar tenaga kerja dan inflasi. Kebijakan ini menjadi salah satu sorotan utama bagi investor yang memantau arah kebijakan moneter sepanjang 2025.
Pedagang logam independen, Tai Wong, mengatakan pelaku pasar menyambut positif keputusan The Fed. “Para pedagang emas menyukai hasil hari ini, harga emas diperdagangkan pada level tertinggi harian setelah berhasil melewati aksi ambil untung,” ujarnya dilansir CNBC.
Baca Juga
Mengapa Harga Emas Antam (ANTM) Naik Jelang The Fed? Ini Jawabannya
Suku bunga yang lebih rendah meningkatkan daya tarik emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil, sehingga lebih menarik ketika biaya pinjaman turun. Namun, pasar melihat sinyal bercampur dari para pejabat bank sentral.
Sebagian besar bankir sentral Amerika Serikat menilai bahwa mereka perlu memangkas suku bunga jangka pendek tahun depan, tetapi pandangan mereka tetap terbelah mengenai seberapa besar ruang pemangkasan tersebut. Sebagian bahkan menolak pemangkasan sama sekali, sementara tiga anggota memproyeksikan kenaikan suku bunga, menunjukkan ketidakseragaman pandangan dalam komite kebijakan.
Sementara itu, Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyampaikan bahwa kebijakan suku bunga saat ini berada pada posisi yang baik untuk merespons dinamika ekonomi ke depan. Namun, ia menolak memberikan petunjuk apakah pemangkasan lanjutan akan terjadi dalam waktu dekat. Pandangan ini mempertegas ketidakpastian arah kebijakan moneter yang menjadi perhatian utama pasar global.
Wong menambahkan bahwa dinamika kebijakan tersebut membuat pasar emas masih menghadapi pertanyaan besar terkait potensi reli berikutnya. “Powell telah bermanuver di tengah ketidakpastian, membujuk komite yang terpecah belah dengan hanya tiga suara menentang untuk menurunkan suku bunga lagi, dan pasar utama menguat selama konferensi persnya. Masih belum jelas apakah emas dapat mencapai level tertinggi baru lagi,” katanya.
Baca Juga
Adapun harga perak melonjak ke rekor tertinggi di US$ 61,85 per ons. Sepanjang tahun ini, harga perak sudah naik 113% didorong permintaan industri yang meningkat pesat, menurunnya persediaan global, serta statusnya yang ditetapkan sebagai mineral penting di Amerika Serikat.
Dalam catatan riset, analis di SP Angel menilai reli perak mencerminkan perubahan perilaku investor. “Menurut pandangan kami, kinerja perak yang lebih baik mencerminkan aliran uang spekulatif ke aset yang lebih berisiko setelah penurunan harga emas,” tulis mereka.

