Wall Street di Zona Merah, Dow Tergerus 250 Poin
Poin Penting
* Dow Jones ditutup turun 249 poin ke 45.295,81; S&P 500 dan Nasdaq masing-masing terkoreksi 0,69% dan 0,82%.
* Saham teknologi besar tertekan, Nvidia jatuh 2%, Amazon dan Apple masing-masing turun sekitar 1%.
* Pengadilan banding federal memutuskan sebagian besar tarif global Trump ilegal; Trump berencana ajukan banding ke Mahkamah Agung.
* Imbal hasil Treasury melonjak: tenor 10 tahun ke 4,27%, tenor 30 tahun menembus 4,97%.
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS ditutup melemah pada Selasa waktu AS atau Rabu (3/9/2025). Investor menimbang risiko tarif perdagangan dan lonjakan imbal hasil obligasi. Wall Street memasuki bulan yang secara musiman buruk bagi ekuitas.
Baca Juga
Sentimen Tarif Trump Bayangi Wall Street, Futures Saham AS Bergerak Tipis
Indeks Dow Jones Industrial Average berakhir turun 249,07 poin, atau 0,55% menjadi 45.295,81. S&P 500 turun 0,69% menjadi 6.415,54, sementara Nasdaq Composite merosot 0,82% menjadi 21.279,63.
Investor mengambil keuntungan dari saham-saham pemenang pasar bullish seiring berakhirnya musim panas yang tidak resmi. Saham Nvidia, misalnya, ditutup turun sekitar 2%, sementara saham Big Tech lainnya seperti Amazon dan Apple turun sekitar 1%.
Pergerakan ini terjadi setelah pengadilan banding federal pada Jumat memutuskan bahwa sebagian besar tarif global Trump ilegal.
Pengadilan Banding AS dalam keputusan 7-4 menyatakan bahwa hanya Kongres yang memiliki wewenang untuk memberlakukan pungutan luas. Trump menyebut keputusan itu “Sangat Partisan” dan mengatakan akan mengajukan banding ke Mahkamah Agung AS.
Baca Juga
Pengadilan Banding Putuskan Sebagian Besar Tarif Trump Tidak Sah
Investor juga mencermati lonjakan imbal hasil obligasi pada awal September. Imbal hasil Treasury 10 tahun melonjak ke 4,27%, sementara imbal hasil 30 tahun menembus 4,97%.
Investor obligasi mendorong imbal hasil lebih tinggi karena prospek bahwa AS mungkin harus mengembalikan miliaran dolar yang diperoleh dari tarif, memperburuk situasi fiskal negara yang sudah tertekan.
Perkembangan itu dapat membebani sentimen untuk memulai bulan perdagangan baru. September secara historis merupakan bulan terburuk bagi ekuitas, dengan S&P 500 rata-rata turun 4,2% selama lima tahun terakhir, dan rata-rata turun lebih dari 2% selama 10 tahun terakhir.
“Obligasi Treasury 30 tahun dengan imbal hasil 5% adalah hambatan, tidak diragukan lagi,” ujar Ross Mayfield, ahli strategi investasi di Baird Private Wealth Management, kepada CNBC. “Saya pikir itu akan terus menjadi duri bagi saham-saham yang diperdagangkan pada valuasi yang cukup tinggi,” tambahnya.
Wall Street baru saja melewati bulan yang kuat bagi pasar saham. S&P 500 naik hampir 2%, menembus 6.500 untuk pertama kalinya. Peristiwa besar yang ditunggu para trader adalah rilis laporan pekerjaan Agustus pada Jumat dan bagaimana hal itu akan memengaruhi keputusan suku bunga Fed pada pertengahan bulan.
Agustus mencatat lima rekor tertinggi baru bagi S&P 500, menjadikan total rekor sepanjang tahun ini 20, kata Sam Stovall dari CFRA Research.
“Untuk tahun-tahun di mana S&P 500 mencatat 20 rekor tertinggi atau lebih hingga akhir Agustus, S&P 500 cenderung mengalami penurunan rata-rata pada September,” kata kepala strategi investasi perusahaan itu. Menurut dia, pasar mungkin akan menyerahkan sebagian keuntungan baru-baru ini dalam jangka pendek sembari menunggu katalis baru.

