Ekonomi India Masih Melaju Kencang, Tumbuh 7,8% pada Kuartal II-2025
Poin Penting
- PDB India Q2 tumbuh 7,8% yoy, melampaui ekspektasi 6,7%.
- Pertumbuhan didorong sektor manufaktur (+7,7%), jasa (+9,3%), dan konstruksi (+7,6%).
- Rupee jatuh ke level 88 per dolar di tengah kekhawatiran tarif AS 50% atas impor India.
NEW DELHI, investortrust.id - Ekonomi India kuartal II-2025 tumbuh 7,8% secara tahunan, didorong oleh sektor manufaktur, konstruksi, dan jasa. Pertumbuhan manufaktur dan jasa masing-masing tercatat 7,7% dan 9,3%, dengan sektor konstruksi meningkat 7,6%.
Baca Juga
India di Tengah Tekanan Global: Tarif AS, Minyak Rusia, dan Diplomasi China
Sementara itu, total produk domestik bruto pada kuartal pertama tahun fiskal 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekspansi 6,7% dari jajak pendapat ekonom Reuters. Para ekonom memperkirakan tanda-tanda perlambatan.
PDB nominal India — yang tidak memperhitungkan inflasi atau deflasi — turun menjadi 8,8% pada April-Juni, dibandingkan 10,8% pada kuartal sebelumnya.
“Pertumbuhan PDB nominal lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya, tetapi karena deflator sangat lunak, PDB riil terlihat sangat kuat,” kata Anubhuti Sahay, kepala riset ekonomi India di Standard Chartered, seperti dikutip CNBC.
Deflator mengukur jumlah total output yang berkurang akibat inflasi.
Meskipun deflator berperan besar membuat pertumbuhan PDB riil terlihat lebih baik, Sahay mengatakan pada sisi manufaktur, laba sektor korporasi cukup baik.
Prospek
Tarif 50% AS atas impor India mulai berlaku pada Rabu, dengan sebagian besar ekonom melihat kebijakan perdagangan ini akan melemahkan pertumbuhan ekonomi India pada kuartal-kuartal mendatang.
Baca Juga
Trump Resmi Gandakan Tarif Impor India hingga 50%, Hubungan Dagang Memanas
Rupee India jatuh ke rekor terendah pada Jumat, menembus level 88 per dolar AS untuk pertama kalinya karena kekhawatiran tarif AS yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan dan semakin menekan arus portofolio.
"Meski demikian, percepatan mengejutkan pertumbuhan PDB India pada kuartal II berarti ekonomi masih berada di jalur untuk tumbuh sekitar 7% tahun ini — salah satu yang tertinggi di dunia — meskipun akan menghadapi dampak negatif dari tarif AS,” kata Joe Maher, ekonom asisten di Capital Economics.
Baca Juga
Untuk meredam dampak tarif AS, bank sentral India memangkas suku bunga kebijakan menjadi 5,5%, atau turun 50 basis poin, pada Juni. Sementara pada kebijakan Agustus bank sentral menahan suku bunga, terdapat indikasi bahwa pemangkasan suku bunga dapat kembali dilakukan pada paruh kedua tahun ini jika pertumbuhan melambat.
Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional memperkirakan ekonomi India akan tumbuh masing-masing 6,3% dan 6,4% pada tahun fiskal 2026.

