Wall Street Terdongkrak Berkat Saham Apple, Indeks S&P 500 dan Nasdaq Melaju Kencang
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham Amerika Serikat kembali menguat pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (7/8/2025). Kenaikan indeks ditopang saham Apple yang melonjak berkat rencana investasi besar di sektor manufaktur dalam negeri. Investor juga mencerna hasil kinerja keuangan dari sejumlah emiten utama, meski bayang-bayang kebijakan tarif Presiden Donald Trump terhadap India menambah ketidakpastian.
Baca Juga
Wall Street Loyo, Pasar Dihantui Tarif Trump dan Stagflasi Ekonomi
Indeks S&P 500 naik 0,73 persen dan ditutup di level 6.345,06, sementara Nasdaq Composite menguat 252,87 poin atau 1,21 persen menjadi 21.169,42. Dow Jones Industrial Average naik 81,38 poin atau 0,18 persen, berakhir di 44.193,12.
Saham Apple melonjak 5 persen setelah seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi kepada CNBC bahwa produsen iPhone tersebut akan menambah investasi dalam manufaktur domestik sebesar 100 miliar dolar AS. Total investasinya di AS akan mencapai 600 miliar dolar dalam empat tahun ke depan.
Kenaikan ini terjadi setelah pasar mengalami hari yang buruk, dengan S&P 500 mencatat penurunan kelima dalam enam sesi terakhir dan Dow mengalami sesi negatif keenam dari tujuh hari perdagangan terakhir.
Baca Juga
Wall Street Ambles Dipicu Data Tenaga Kerja AS dan Tarif Trump, Dow Anjlok Hampir 550 Poin
"Secara umum, ini hanya semacam fase konsolidasi yang masih berlangsung sejak volatilitas tinggi di akhir pekan lalu, ketika laporan tenaga kerja mengecewakan dan The Fed tidak memangkas suku bunga," beber Michael Green, manajer portofolio dan kepala strategi di Simplify Asset Management
Investor juga masih bergulat dengan potensi dampak dari tarif yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump, yang menurut Green "tidak seburuk yang sebelumnya dikhawatirkan." Pada hari Rabu, pemerintahan Trump mengumumkan tarif tambahan sebesar 25 persen terhadap barang dari India, sehingga total tarif AS terhadap negara mitra dagang utama itu menjadi 50 persen.
"Orang-orang mulai menyadari bahwa tarif memiliki dampak yang berbeda bagi AS sebagai importir dibandingkan jika AS adalah eksportir utama, dan sejauh ini situasinya relatif tenang. Sekarang kita berada di fase menunggu kejelasan," ujar Green kepada CNBC.
Musim laporan keuangan terus berlanjut dengan hasil yang kuat dari berbagai perusahaan. Sekitar 81 persen perusahaan dalam S&P 500 yang telah melaporkan hasil kinerja mereka sejauh ini melampaui ekspektasi, menurut data FactSet.
Beberapa saham unggulan hari itu antara lain McDonald’s, yang ditutup naik hampir 3 persen setelah laporan keuangan kuartal keduanya melampaui estimasi baik dari sisi pendapatan maupun laba. Penjualan di gerai yang sama tumbuh dengan laju tercepat dalam hampir dua tahun. Arista Networks juga melonjak 17 persen setelah merilis laporan kinerja yang jauh lebih baik dari perkiraan.
Di sisi lain, saham Snap anjlok 17 persen setelah pendapatannya sedikit meleset dari ekspektasi, sementara Advanced Micro Devices (AMD) turun lebih dari 6 persen usai mencatatkan laba per saham yang disesuaikan di bawah perkiraan analis.
Green mengkhawatirkan bahwa investor saat ini tidak lagi memberi penghargaan besar atas kinerja yang melampaui ekspektasi, seperti di musim laporan keuangan sebelumnya, menandakan ekspektasi sudah terlalu tinggi sejak awal.
"Ada semakin banyak pertanyaan mengenai kualitas dari laba perusahaan yang muncul saat ini," katanya.

