Arwana Citramulia Tetap Melaju Kencang, Dividen Pay-out Ratio Lebih Besar
JAKARTA, investortrust.id – PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) sepakat membagi dividen senilai total Rp 315,16 miliar, yang setara 74% dari laba bersih tahun 2024 yang sebesar Rp 425,9 miliar. Dengan begitu, pemegang saham ARNA akan mendapat pembagian keuntungan sebesar Rp 43 per saham.
“Saya rasa yang paling ditunggu-tunggu adalah mengenai nilai pembayaran dividen per share. Tahun lalu pada April 2024 kami bayar dividen Rp 43 rupiah per share dengan payout ratio kurang lebih 71%. Tahun ini kami akan bayar juga nanti dividend di tanggal 29 April 2024 dengan nominal sama yakni Rp 43 per share,” jelas Direktur Keuangan Arwana Citramulia Rudy Sujanto, menjawab Investortrust.id di Aula Nuansa Plant 2, Cikande, Serang, Selasa (8/4/2025).
Namun karena jumlah laba bersih perseroan pada 2024 turun sekitar 4% dibandingkan 2023, maka persentase dividend payout ratio (DPR) yang dibagikan tahun ini dari keuntungan 2024 lebih tinggi, yakni 74%.
Dalam kesempatan yang sama, Rudy menjelaskan bahwa perseroan sebenarnya mencatatkan peningkatan penjualan bersih sekitar 7,6% (yoy) pada 2024 menjadi Rp 2,63 triliun. Namun margin laba bersih yang dibukukan tahun lalu lebih kecil dibandingkan 2023, yakni dari 18% menjadi 16%.
Padahal rata-rata harga jual (average selling price/ASP) produk Arwana Citramulia berhasil ditingkatkan 0,3%, dari Rp 39.676 pada 2023 menjadi Rp 39.780 pada 2024.
“Mengapa laba bersihnya turun padahal sales meningkat? Itu problem utamanya adalah cost of goods sold (COGS), tahun lalu itu hampir Rp 26.114 dibanding 2023 yang hanya Rp 25.017,” jelas Rudy.
COGS sepanjang tahun lalu pun tercatat naik hampir 4,4% atau sekitar Rp 1.100 per meter persegi. Terdapat dua faktor yang meningkatkan biaya produksi keramik Arwana, yakni kenaikan harga gas dan depresiasi Rupiah. Sebab, biaya produksi keramik umumnya berpatokan pada harga gas yang dibeli menggunakan satuan harga dolar.
“Keramik pada umumnya, minimum 40% variabel biaya produksi berkaitan dengan USD karena gas kami bayar patokannya ke USD. Secara sensitivitas setiap Rupiah terdepresiasi 100 poin, biaya produksi bisa naik 60 poin dengan efek gross profit margin turun 0,3%,” papar Rudy.
Pada 2023, rata-rata nilai tukar Rupiah terhadap Dollar AS masih di kisaran Rp 15.000. Namun pada 2024 nilainya sudah naik cukup besar dengan ditutup pada level Rp 16.095 per 31 Desember 2024.
“Ini kenapa laba bersih Arwana turun karena terjadi kenaikan COGS yang memengaruhi margin kotor,” tuturnya.
Baca Juga
Arwarwana (ARNA) Pertahankan Pertumbuhan Penjualan, Nilai Dividen Diprediksi bisa Segini
Target Penjualan 2025 Tumbuh 19%
Rudy Sujanto juga membeberkan target penjualan bersih tahun 2025 sebesar Rp 3,13 triliun, meningkat 19% dibandingkan raihan penjualan bersih Rp 2,63 triliun di tahun 2024. Sementara target laba bersih tahun 2025 dicanangkan berkisar Rp 470 miliar, meningkat 10% dibandingkan raihan laba bersih Rp 425,97 miliar di tahun 2024. Pencapaian target-target tersebut akan diupayakan melalui berbagai strategi yang akan dijalankan.
“PT Arwana Citramulia Tbk mengincar penetrasi ke segmen produk baru yang belum masuk portofolio produk sebelumnya, yaitu produk porselen lantai berukuran besar. Selain itu, juga lebih mengoptimalkan product mix dengan porsi produk keramik rectified yang lebih besar,” tegas Rudy.
Kedua lini produk ini menawarkan margin laba yang lebih besar, dan terbukti semakin diminati pasar. Sehingga, di tahun 2025 dan ke depannya, harga jual rata-rata yang diraih diharapkan akan semakin tinggi, dan demikian juga volume penjualan yang lebih besar.
Adapun ekspansi ke segmen porselen berukuran besar akan dipasok dari pabrik baru Plant 4D di Ogan Ilir, Sumatera Selatan, yang ditargetkan akan mulai beroperasi di kuartal IV- 2025. Plant 4D akan memiliki kemampuan untuk memproduksi hingga 18.000 m2 per hari untuk produk porselen lantai berukuran 60x60, 80x80, dan 60x120 cm. Sementara Plant 5C di Mojokerto, Jawa Timur, yang sebelumnya memproduksi produk porselen lantai berukuran 60x60 cm direncanakan akan juga dikembangkan untuk bisa memproduksi porselen lantai hingga berukuran 60x120 cm, di triwulan yang sama.
Untuk memproduksi jenis produk keramik rectified, Arwana sudah menjalankan pengalihan sejumlah lini pabrikasi sejak tahun 2023, sehingga saat ini terus bertambah dari 4 ke 11 lini pabrikasi.
Pembangunan Plant 4D sendiri sudah bergulir ke tahap lanjutan. Penandatanganan kontrak pembelian mesin produksi dari Italia diselenggarakan pada tanggal 7 April 2025 yang disaksikan oleh Duta Besar Italia untuk Republik Indonesia, Roberto Colaminè, di Jakarta.
Dengan realisasi proyek-proyek ini, segmen pasar yang akan bisa dilayani Arwana Citramulia mulai dari produk keramik 40x40 cm untuk hunian sederhana, keramik dinding beragam ukuran, keramik 50x50 dan 60x60 cm yang sedang tren, hingga produk porselen berukuran 80x80 dan 60x120 yang lazim dipasang di hunian mewah, apartemen, serta gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan.
Baca Juga
Tiga Sentimen Ini bakal Lambungkan Kinerja Arwana (ARNA), Bagaimana Target Sahamnya?

