Trump Sebut Putin “Gila”, Ini Respons Kremlin
MOSKOW, investortrust.id - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Rusia kembali mencuat ke permukaan. Ketegangan bukan hanya terjadi di medan tempur Ukraina, tetapi juga di panggung diplomasi publik yang dipenuhi sindiran.
Baca Juga
Putin dan Trump Tak Akan Hadir di Istanbul, Harapan Perdamaian Rusia-Ukraina Meredup
Presiden AS Donald Trump menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin “benar-benar gila” dalam konteks serangan udara masif ke Ukraina, Kremlin membalas dengan sindiran halus bahwa Trump mungkin sedang mengalami “kelelahan emosional”.
“Proses negosiasi selalu disertai beban emosi dari semua pihak,” ujar juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, seraya menambahkan bahwa Putin hanya “melakukan apa yang perlu untuk keamanan Rusia.” Namun di saat bersamaan, 300 drone dan rudal menghantam kota-kota Ukraina akhir pekan lalu, menewaskan sedikitnya 12 orang — menjadikannya serangan udara terbesar sejak invasi dimulai tahun 2022.
Trump, yang dakam kampanye berjanji akan mengakhiri perang hanya dalam “satu hari”, memperingatkan bahwa ambisi Putin untuk menguasai seluruh Ukraina justru akan menjadi awal kejatuhannya. Namun komentar tajam ini menimbulkan pertanyaan atas strategi diplomatik Trump sendiri, yang sebelumnya tampak berupaya menjalin kembali “chemistry” pribadi dengan pemimpin Kremlin.
Jejak hubungan Trump–Putin bukan hal baru. Dari pujian Putin di 2015 terhadap Trump sebagai “orang penuh warna dan berbakat”, hingga komunikasi telepon hangat pekan lalu yang menurut penasihat Putin Yuri Ushakov “sulit diakhiri”, hubungan keduanya kerap menjadi sorotan — penuh dinamika, dari persahabatan hingga provokasi.
Meski demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan arah berbeda. Rusia terus memperkuat operasi militernya di Ukraina, termasuk di wilayah Sumy dan Zaporizhzhia. Menurut pengamat militer dari Royal United Services Institute (RUSI) di London, Jack Watling, Moskwa kini tengah menggelar “peluncuran lunak” ofensif musim panas, dengan pola serangan yang makin meluas dan meningkat skalanya.
“Indikasi awal menunjukkan Rusia berupaya menciptakan tekanan bertahap demi keuntungan negosiasi,” tulis Watling dalam analisanya, dikutip dari NBC News, Selasa (27/5/2025). Putin bahkan menyatakan telah mulai membentuk “zona penyangga keamanan” di perbatasan.
Respons dari Washington juga menguat. Selain wacana sanksi baru, termasuk usulan tarif 500% atas ekspor Rusia jika Moskwa tak menunjukkan itikad baik dalam perundingan damai, AS mendorong sekutu NATO menyuplai lebih banyak sistem pertahanan udara untuk Ukraina.
Baca Juga
Uni Eropa dan Inggris Beri Sanksi Rusia Tanpa Menunggu Trump
Trump sendiri membuka kemungkinan mendukung sanksi tambahan terhadap Rusia. Namun komentarnya yang juga mengkritik Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy - dengan menyebut bahwa “cara bicaranya tak menguntungkan negaranya”- turut menimbulkan kebingungan atas posisi resmi AS dalam perang ini.

