Trump Ancam ‘Tarif Sekunder’ 100% Jika Putin Tak Hentikan Perang sebelum September
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menggunakan senjata dagang sebagai instrumen geopolitik. Dalam pertemuan dengan Sekjen NATO Mark Rutte di Gedung Putih, Trump mengeluarkan ultimatum kepada Presiden Rusia Vladimir Putin: selesaikan invasi ke Ukraina dalam 50 hari, atau negara-negara pembeli ekspor Rusia akan dikenakan tarif 100 persen.
Baca Juga
Uni Eropa dan Inggris Beri Sanksi Rusia Tanpa Menunggu Trump
“Kami sangat kecewa. Kalau tidak ada kesepakatan dalam 50 hari, akan ada tarif sangat berat, sekitar 100 persen. Mereka menyebutnya tarif sekunder,” ujar Trump, Senin (14/7/2025), dikutip dari CNBC. Ia menegaskan bahwa kesabaran Washington mulai menipis atas kelanjutan konflik di Ukraina.
Ancaman tarif sekunder ini tidak hanya ditujukan ke Rusia, melainkan kepada negara-negara yang selama ini menjadi konsumen utama ekspor energi dan komoditas Rusia. Di antaranya termasuk Tiongkok, India, Brasil, dan Turki — negara-negara yang selama ini mencoba menjaga hubungan netral dengan Moskow, sambil tetap memanfaatkan pasokan energi Rusia.
Langkah ini dipandang sebagai manuver strategis Trump untuk menekan ekosistem ekonomi Rusia melalui jalur mitra dagangnya. Jika terealisasi, tarif ini akan menambah beban ekonomi bagi negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil dari Rusia. Sejumlah analis memperkirakan langkah ini bisa memicu gelombang inflasi energi lanjutan di kawasan Asia dan Amerika Latin.
Pergeseran Sikap terhadap Ukraina
Dalam pernyataan yang sama, Trump juga mengumumkan bahwa AS akan mengirim bantuan militer senilai miliaran dolar ke Ukraina. Uniknya, paket ini tidak didanai langsung oleh Washington, melainkan oleh negara-negara Eropa, dan akan dikirim melalui aliansi NATO.
Langkah ini menandai pergeseran posisi Trump yang sebelumnya kerap mempertanyakan manfaat dukungan militer ke Kyiv. Kini, retorikanya mencerminkan tekanan yang lebih besar terhadap Rusia, terutama setelah ia menyebut bahwa kesepakatan damai seharusnya sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu.
Baca Juga
Trump: Rusia dan Ukraina Sepakat Mulai Negosiasi Gencatan Senjata
“Ini bukan ancaman kosong. Trump ingin Putin tahu bahwa kesabaran AS ada batasnya,” ujar Daniel Fried, mantan koordinator sanksi Departemen Luar Negeri AS. “Tarif sekunder bisa menghantam jantung ekonomi Rusia dengan menjauhkan pembeli globalnya.”
Dampak Global
Ancaman tarif sekunder bukan hal baru dalam kebijakan luar negeri Trump. Sebelumnya ia juga mengancam negara-negara pembeli minyak dari Venezuela dan Iran dengan bea masuk serupa. Namun, batas waktu 50 hari kali ini menjadikan gertakan tersebut lebih nyata dan terukur, terutama karena berkaitan dengan penyelesaian konflik militer berskala besar.
Pasar global menanggapi pernyataan ini dengan kehati-hatian. Harga minyak mentah sedikit menguat, sementara negara-negara yang terdampak seperti India dan Brasil belum memberikan tanggapan resmi. Jika diterapkan, tarif 100 persen akan memaksa importir mencari pasokan energi alternatif atau menegosiasikan ulang kontrak jangka panjang dengan Rusia.
Meski ancaman tarif sudah diumumkan, Gedung Putih belum merinci komoditas apa saja yang akan masuk dalam daftar sasaran. Namun jika mengacu pada pernyataan Trump sebelumnya, minyak dan gas menjadi kandidat utama. “Semua minyak dari Rusia bisa dikenai tarif,” katanya pada Maret lalu.
Sementara itu, analis di Washington meyakini ancaman ini dapat menjadi pendorong diplomasi cepat jika negara-negara mitra Rusia ikut menekan Moskow untuk menyudahi konflik. Namun di sisi lain, jika gagal, langkah ini bisa memperluas ketegangan global dan memperdalam jurang antara blok negara-negara Barat dan Timur.

