Tolak Ultimatum Trump, Iran Rudal Haifa, Dua Tewas
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel terus meningkat setelah Teheran menolak ultimatum Presiden AS Donald Trump terkait pembukaan Selat Hormuz, di tengah rangkaian serangan lintas kawasan yang kian mematikan dan merusak infrastruktur vital.
Berdasarkan laporan live update Al Jazeera yang ditulis Ted Regencia dan dipublikasikan pada 6 April 2026, Trump menetapkan tenggat waktu hingga Selasa (6/4) bagi Iran untuk membuka jalur pelayaran strategis tersebut. Jika tidak, Washington mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran.
Iran menolak ultimatum tersebut dan memperingatkan akan melakukan serangan balasan terhadap setiap aksi militer yang menyasar infrastrukturnya.
Eskalasi konflik terlihat jelas di lapangan. Serangan rudal Iran ke kota Haifa, Israel, pada Minggu, 5 April 2026, menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai empat lainnya, sementara dua orang masih dinyatakan hilang.
Baca Juga
Trump Ultimatum Iran Buka Selat Hormuz, Harga Minyak WTI Melonjak di Atas 2%
Laporan tambahan dari The Guardian (pembaruan 6 April 2026, 04.34 BST) menyebut tim penyelamat Israel menemukan dua korban tewas di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan rudal balistik tersebut. Kedua korban ditemukan tanpa tanda kehidupan setelah terjebak di dalam bangunan.
Media Israel seperti The Times of Israel dan Haaretz, yang dikutip dalam laporan tersebut, menyebut rudal Iran menghantam bangunan residensial enam lantai di Haifa, memicu kebakaran hebat dan membuat struktur bangunan terancam runtuh.
Upaya pencarian masih berlangsung untuk menemukan dua korban lain yang masih terjebak atau belum ditemukan. Bahkan, laporan terbaru menyebut adanya serangan rudal tambahan di wilayah Haifa yang memicu kebakaran kendaraan, meski belum ada laporan korban baru.
Di sisi lain, serangan gabungan AS-Israel dilaporkan menghantam sedikitnya 12 kota di Iran. Di wilayah Baharestan, Teheran, sedikitnya 13 orang dilaporkan tewas.
Iran juga terus melancarkan serangan ke fasilitas strategis di kawasan Teluk, termasuk pembangkit listrik, instalasi desalinasi air, dan fasilitas minyak di Kuwait, serta instalasi energi di Bahrain.
Selat Hormuz, yang menjadi pusat ketegangan, merupakan jalur bagi sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Gangguan di kawasan ini berpotensi memicu lonjakan harga energi global.
Laporan Reuters menyebut ketegangan di kawasan Teluk telah meningkatkan volatilitas harga minyak, sementara BBC menilai eskalasi serangan terhadap infrastruktur energi berisiko memperluas konflik regional.
Sementara itu, CNN melaporkan bahwa Washington tengah mempertimbangkan opsi militer yang lebih agresif untuk menekan Iran membuka kembali Selat Hormuz.
Dengan meningkatnya korban sipil dan meluasnya target serangan hingga infrastruktur energi, konflik Iran-AS-Israel kini memasuki fase yang semakin berbahaya.
Bagi Indonesia, eskalasi ini berpotensi menekan APBN melalui lonjakan harga energi, melemahkan rupiah, serta meningkatkan inflasi domestik.
Tanpa terobosan diplomasi, konflik berisiko berkembang menjadi krisis regional dengan dampak global yang signifikan, terutama pada sektor energi dan stabilitas ekonomi dunia.

