Trump Siapkan Pengganti Powell, Pasar Antisipasi Pelonggaran Moneter Lebih Agresif
NEW YORK, investortrust.id – Ketimpangan antara proyeksi resmi Federal Reserve soal suku bunga acuan dan ekspektasi pasar yang lebih agresif terhadap pelonggaran moneter hingga akhir 2026, kian melebar. Para investor menilai, sebagian besar perbedaan ini disebabkan oleh kemungkinan Presiden Donald Trump akan mengganti Ketua The Fed Jerome Powell tahun depan dengan sosok yang lebih dovish.
Namun, para analis memperingatkan agar tidak terlalu berharap bahwa pergantian pucuk pimpinan The Fed akan serta-merta menghadirkan pelonggaran kebijakan seagresif yang diimpikan pasar, atau Trump sendiri.
Dalam proyeksi ekonomi terbaru pekan lalu, para pengambil kebijakan The Fed memperkirakan hanya tiga kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga Desember 2026—dua kali di antaranya diperkirakan terjadi pada 2025, dan satu lagi pada 2026. Ini jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan pelonggaran hingga 125 basis poin, berdasarkan harga kontrak futures dana federal (fed funds futures).
Baca Juga
The Fed Pertahankan Bunga Acuan, Proyeksikan Dua Pemangkasan Tahun Ini
“Powell akan habis masa jabatannya pada Mei tahun depan, dan ada peluang dia akan digantikan oleh figur yang sangat bersahabat dengan pemerintahan,” ujar Jack Ablin, CIO Cresset Capital di Chicago, dikutip dari Reuters, Jumat (27/6/2025). “Saya kira ini faktor yang lebih besar daripada yang banyak investor sadari,” tambahnya.
Meski Trump belum memutuskan nama pengganti Powell, laporan Wall Street Journal menyebutkan bahwa ia mempertimbangkan untuk mengumumkan calon penerus pada September atau Oktober mendatang—membuka kemungkinan adanya “shadow chair” yang membayangi Powell di enam pertemuan terakhir masa jabatannya.
Salah satu tanda semakin kuatnya ekspektasi pasar terhadap pelonggaran adalah pergerakan imbal hasil kontrak futures untuk Secured Overnight Financing Rate (SOFR), yang kini 65 basis poin lebih rendah untuk kontrak Desember 2026 dibanding Desember 2025—selisih negatif paling tajam sepanjang sejarah. Ini menunjukkan ekspektasi perlambatan ekonomi yang lebih dalam dari perkiraan semula.
Namun Powell tetap berhati-hati. Dalam kesaksiannya di Kongres minggu ini, ia memperingatkan bahwa tarif impor yang lebih tinggi bisa mendorong inflasi musim panas ini, dan menegaskan bahwa The Fed belum tergesa-gesa memangkas suku bunga.
Baca Juga
The Fed Abaikan Desakan Trump, Fokus pada Dampak Tarif terhadap Inflasi
Sementara itu, Trump kembali menekan The Fed. Ia mengatakan pada Selasa bahwa suku bunga AS seharusnya diturunkan setidaknya 2 hingga 3 poin persentase. Sehari kemudian, ia menyebut Powell “mengerikan” dan menyatakan telah mengantongi tiga hingga empat nama kandidat untuk posisi ketua The Fed.
Juru bicara Gedung Putih, Kush Desai, mengatakan bahwa administrasi kini tengah menyiapkan “satu RUU besar dan indah” yang akan menggenjot pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, dan investasi—dan saatnya kebijakan moneter ikut menyokong agenda ini.
Mata uang dolar AS ikut melemah pada Kamis, mencerminkan kekhawatiran investor akan potensi terkikisnya independensi The Fed di bawah tekanan politik.
Baca Juga
Trump Panggil Powell ke Gedung Putih, Desak Penurunan Suku Bunga?
Spekulasi Pengganti Powell
Berdasarkan pasar prediksi daring Polymarket, lima kandidat teratas pengganti Powell antara lain:
- Christopher Waller (Gubernur The Fed),
- Kevin Warsh (mantan Gubernur The Fed),
- Kevin Hassett (penasihat ekonomi Gedung Putih),
- Scott Bessent (Menteri Keuangan),
- Judy Shelton (mantan calon Gubernur The Fed yang ditolak era Biden).
Waller baru-baru ini menyatakan bahwa risiko inflasi dari tarif relatif kecil dan mendukung pemangkasan suku bunga secepat pertemuan The Fed bulan Juli. Sementara Warsh bulan lalu mengkritik kebijakan moneter The Fed dan mengusulkan jalur untuk penurunan suku bunga lebih lanjut.
Baca Juga
Pejabat The Fed Dukung Pemangkasan Suku Bunga pada Juli, Ini Syaratnya
Namun pengaruh ketua The Fed tidak absolut. "Ketua memang punya pengaruh besar, tapi tetap bukan satu-satunya suara dalam komite," kata Mark Malek, CIO Siebert Financial. "Ketua The Fed harus mencari konsensus dalam kelompok," tambahnya.
Jay Woods, Chief Global Strategist di Freedom Capital Markets, menegaskan bahwa netralitas adalah elemen terpenting dalam kredibilitas The Fed. “Untuk bisa ditunjuk, seorang ketua mungkin perlu menyenangkan presiden. Tapi untuk bisa bekerja, ia tetap harus mendapat dukungan penuh dari dewan.”
Brian Jacobsen, kepala ekonom di Annex Wealth Management, menambahkan: “Siapa pun yang ditunjuk nanti mungkin akan dibayangi oleh kesan bahwa ia hanyalah boneka Trump—namun saya tidak terlalu khawatir kita akan kembali ke era Nixon.”

