Terjun 13% dalam 2 Hari, Harga Minyak Kembali ke Level Pra-Konflik Iran-Israel
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak global merosot tajam selama dua sesi berturut-turut menyusul tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Iran. Para pelaku pasar yang semula bersiap menghadapi skenario gangguan pasokan besar kini menilai risiko tersebut mulai surut.
Baca Juga
Minyak Ambles 7%, Investor Lega Konflik Tak Meluas ke Hormuz
Dikutip dari CNBC, harga minyak WTI AS Selasa (24/6/2025) turun 6% menjadi $64,37 per barel, sementara Brent longsor 6,1% ke $67,14—kembali ke level pra-konflik. Selama dua hari terakhir, harga minyak telah kehilangan 13%.
Koreksi tajam ini terjadi bersamaan dengan penurunan ketegangan di Selat Hormuz, jalur strategis ekspor energi dunia yang sempat dikhawatirkan akan ditutup Iran sebagai bentuk pembalasan. Investor kini melihat peluang gangguan pasokan minyak dari Teluk Persia telah menurun drastis.
Trump Kirim Sinyal Longgar
Dalam langkah mengejutkan, Presiden AS Donald Trump mengatakan China boleh melanjutkan pembelian minyak Iran. “China bisa terus membeli minyak dari Iran,” tulisnya di media sosial. “Semoga juga membeli lebih banyak dari kami. Merupakan kehormatan besar bagi saya untuk mewujudkannya!”
Namun pernyataan tersebut segera diluruskan pejabat Gedung Putih, yang menyatakan bahwa Trump tetap menyerukan negara-negara untuk mematuhi sanksi AS dan memilih ekspor energi dari AS.
Meski ambigu, pasar menilai sinyal ini sebagai potensi pelonggaran kebijakan, yang memperkuat narasi bahwa kampanye tekanan maksimum terhadap Iran tengah dikalibrasi ulang.
Risiko Guncangan
Setelah serangan rudal Iran ke pangkalan AS di Qatar—yang tidak menimbulkan korban jiwa—dan pengumuman gencatan senjata oleh Trump, pasar mengantisipasi meredanya eskalasi jangka pendek. Namun, gencatan tersebut sempat goyah ketika Trump mengkritik Israel karena melanjutkan aksi militer meski perjanjian telah berlaku.
Baca Juga
“Fakta bahwa Trump secara terbuka menyalahkan Israel menunjukkan betapa pentingnya gencatan senjata ini bagi stabilitas harga energi dan agenda pemilihannya,” ujar Elyse Drummond, direktur risiko geopolitik di IBRI Global.
Israel pun mulai mencabut pembatasan sipil terkait perang, menandakan kepercayaan diri bahwa situasi telah mereda. Namun analis memperingatkan bahwa ancaman terhadap kilang dan terminal ekspor minyak di wilayah Teluk belum sepenuhnya hilang.

