Minyak Ambles 7%, Investor Lega Konflik Tak Meluas ke Hormuz
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak global mengalami tekanan jual besar-besaran setelah serangan balasan Iran terhadap pangkalan militer Amerika Serikat di Qatar tidak menimbulkan korban jiwa. Situasi ini memunculkan optimisme baru di kalangan pelaku pasar bahwa jalur diplomatik menuju de-eskalasi masih terbuka.
Baca Juga
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot 7,22% ke $68,51 per barel, sementara Brent jatuh 7,18% ke $71,48 per barel—keduanya mencetak level terendah sejak dimulainya serangan Israel terhadap Iran pada 13 Juni lalu.
Serangan rudal yang diluncurkan Iran ke Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, menurut media pemerintah Teheran, merupakan respons atas pemboman fasilitas nuklir utama negara itu oleh AS akhir pekan lalu. Namun, otoritas Qatar menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal dan tidak ada korban luka maupun jiwa.
Baca Juga
“Serangan ini, meskipun simbolis, menunjukkan adanya komunikasi taktis antara Teheran dan Washington. Ini yang menjadi sinyal positif bagi pasar,” ujar Helima Croft dari RBC Capital Markets, dikutip dari CNBC, Selasa (24/6/2025).
Presiden Donald Trump bahkan menyatakan terima kasih kepada Iran karena telah memberikan pemberitahuan dini sebelum serangan dilakukan. “Ini memungkinkan kami menghindari korban. Sekarang saatnya menuju perdamaian,” tulis Trump di media sosial, sembari menambahkan bahwa dirinya juga akan mendorong Israel untuk menahan diri.
Selat Hormuz Jadi Fokus
Meski ketegangan langsung tampak mereda, kekhawatiran jangka menengah tetap mengarah pada potensi Iran menutup Selat Hormuz—jalur vital pengiriman minyak global yang dilewati 20% konsumsi dunia. Parlemen Iran telah menyuarakan dukungan atas opsi ini, namun keputusan akhir masih berada di tangan Dewan Keamanan Nasional negara itu.
Baca Juga
Serangan Trump ke Fasilitas Nuklir Iran Guncang Dunia dan Picu Ancaman di Selat Hormuz
AS menanggapi isu ini dengan tegas. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut langkah penutupan selat akan menjadi “bunuh diri ekonomi” bagi Iran. “Sebagian besar ekspor mereka sendiri juga lewat situ,” ujarnya.
Rubio juga menyerukan keterlibatan aktif Tiongkok dalam mencegah langkah ekstrem tersebut. “Setengah dari impor minyak laut Tiongkok berasal dari Teluk Persia. Beijing punya kepentingan strategis untuk menahan Teheran,” katanya.
Di sisi pasokan, Iran mencatatkan produksi minyak sebesar 3,3 juta barel per hari pada Mei, dengan ekspor mencapai 1,84 juta barel—terutama ke Tiongkok, menurut data Kpler.
Dengan tensi politik yang kini berada di persimpangan, pasar minyak global masih akan menimbang risiko geopolitik secara hati-hati, sambil mengantisipasi dampaknya terhadap rantai pasok energi.

