Pasar Waspadai Reaksi Iran, Harga Minyak Melambung
NEW YORK, investortrust.id - Kontrak berjangka minyak melonjak lebih dari 2% pada sesi perdagangan pertama setelah AS meluncurkan serangan langsung terhadap Iran. Serangan AS memperburuk kekhawatiran terhadap prospek pasokan di kawasan Timur Tengah yang kaya minyak namun sedang bergejolak.
Baca Juga
Pasukan AS Bombardir Situs Nuklir Iran, Trump Sebut Fordow Sudah Dihancurkan
Dikutip dari CNBC, minyak mentah AS pada Minggu (22/6/20250 malam naik sebesar $1,76 atau 2,38% menjadi $75,60 per barel, sementara acuan global Brent menguat $1,80 atau 2,34% ke $78,81 per barel. Brent sempat melonjak 5,7% menembus $81 sebelum kemudian melemah kembali.
Kenaikan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengejutkan pasar dengan mengumumkan bahwa Washington secara langsung terlibat dalam konflik Iran-Israel melalui serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Investor kini mencermati apakah dan bagaimana Iran akan merespons serangan AS yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menteri Luar Negeri Iran pada Minggu menyatakan bahwa Republik Islam tersebut “menyimpan semua opsi” untuk mempertahankan kedaulatannya. Menurut S&P Global Platts, kenaikan harga minyak saat ini bisa mereda jika Iran memilih untuk tidak membalas.
Baca Juga
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis
Skenario terburuk bagi pasar minyak, menurut analis energi, adalah jika Iran mencoba menutup Selat Hormuz. Menurut Administrasi Informasi Energi AS (EIA), sekitar 20 juta barel minyak per hari—setara dengan 20% konsumsi global—melewati selat tersebut pada tahun 2024.
Baca Juga
Serangan Trump ke Fasilitas Nuklir Iran Guncang Dunia dan Picu Ancaman di Selat Hormuz
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa parlemen telah menyetujui langkah penutupan selat, mengutip seorang legislator senior. Namun keputusan akhir tetap berada di tangan Dewan Keamanan Nasional Iran.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memperingatkan bahwa penutupan selat akan menjadi “bunuh diri ekonomi” bagi Iran karena ekspor mereka juga bergantung pada jalur laut tersebut. “Kami memiliki opsi untuk menangani itu,” ujar Rubio dalam wawancara dengan Fox News, Minggu. “Itu akan lebih merugikan ekonomi negara lain dibandingkan ekonomi kami. Ini akan menjadi eskalasi besar yang akan mendapat respons, bukan hanya dari kami, tapi dari negara lain juga.”
Menurut laporan OPEC bulan Juni yang mengutip sumber analis independen, Iran memproduksi 3,3 juta barel per hari (bph) pada Mei dan mengekspor sekitar 1,84 juta bph, mayoritas ke Tiongkok. Rubio juga menyerukan Beijing untuk menggunakan pengaruhnya. “Saya mendorong pemerintah Tiongkok untuk segera menghubungi Iran, karena mereka sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk kebutuhan minyak mereka,” ujarnya.
Ketegangan Regional
Investor juga mengamati potensi ketidakstabilan rezim Iran sebagai dampak dari konflik dengan AS dan Israel. Kasus Libya tahun 2011, di mana penggulingan Muammar Gaddafi oleh NATO menyebabkan disrupsi pasokan minyak bertahun-tahun, menjadi pembelajaran penting bagi pasar.
Ketegangan juga meningkat di Irak, produsen minyak terbesar kedua OPEC, di mana milisi pro-Iran telah beberapa kali mengancam akan menyerang AS jika menyerang pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Pasukan Garda Revolusi Iran pada Minggu memperingatkan bahwa “pangkalan AS di kawasan bukan kekuatan mereka, melainkan kerentanan terbesar mereka,” tanpa menyebut lokasi spesifik, menurut laporan kantor berita Fars.
Sementara itu, hubungan diplomatik yang baru pulih antara Iran dan Arab Saudi memberi harapan pada stabilitas pasokan. “Kerajaan Arab Saudi menyatakan keprihatinan mendalam atas perkembangan di Republik Islam Iran, khususnya terkait serangan terhadap fasilitas nuklir Iran oleh Amerika Serikat,” tulis Kementerian Luar Negeri Arab Saudi. Riyadh, sekutu dekat AS di Timur Tengah, sejauh ini membatasi keterlibatannya dalam konflik Iran-Israel.
Arab Saudi sebelumnya mengalami serangan terhadap fasilitas minyak di Abqaiq dan Khurais pada 2019. Meski diserang oleh kelompok Houthi, Riyadh dan Washington menuding Iran sebagai aktor utama—klaim yang dibantah Teheran.
Di tengah intensitas konflik saat ini, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengatakan lembaganya terus memantau perkembangan. “Pasar saat ini masih dalam kondisi pasokan yang baik, tapi kami siap bertindak jika dibutuhkan,” ujarnya. IEA memiliki cadangan darurat sebesar 1,2 miliar barel.

