Bagikan

Trump Ancam Iran, Harga Minyak Melambung

Poin Penting

Harga minyak dunia masih bertahan tinggi akibat meningkatnya risiko eskalasi perang antara Iran dan Amerika Serikat, meski jalur diplomasi masih berlangsung.
Aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz mulai meningkat setelah sempat turun tajam selama konflik berlangsung. Meski demikian, lalu lintas kapal masih berada di bawah kondisi normal, sehingga pasar tetap khawatir terhadap potensi gangguan pasokan minyak dan LNG global.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah memicu volatilitas pasar energi dan keuangan global. Konflik Iran-AS-Israel juga meningkatkan risiko inflasi dunia, kenaikan biaya logistik, serta potensi perlambatan ekonomi global apabila perang semakin meluas.

JAKARTA, investortrust.id – Harga minyak dunia masih bertahan tinggi di tengah meningkatnya risiko eskalasi perang Iran dan ketidakpastian proses diplomasi antara Teheran dan Washington. Pasar global juga bergerak fluktuatif akibat kekhawatiran konflik Timur Tengah kembali memanas. Media Amerika Serikat CBS News dalam laporan yang diperbarui Senin (18/05/2026) pukul 12.51 EDT atau sekitar Selasa dini hari WIB menyebutkan bahwa Iran telah menyampaikan revisi terbaru syarat perdamaian kepada pemerintahan Presiden AS Donald Trump melalui mediator Pakistan. Menurut Teheran, fokus utama Iran saat ini adalah mengakhiri perang dan belum membahas secara rinci isu nuklir.

Namun di tengah upaya diplomatik tersebut, Presiden Donald Trump justru kembali mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran. Dalam pernyataannya pada Minggu (17/5/2026) waktu AS, Trump mengatakan “jam terus berdetak” bagi Iran untuk menerima kesepakatan damai. “Tidak akan ada yang tersisa dari mereka jika para pemimpin Republik Islam tidak bergerak cepat,” ujar Trump seperti dikutip CBS News.

Pernyataan Trump tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan eskalasi baru dalam perang Timur Tengah yang telah berlangsung sekitar 80 hari. Analis pasar yang dikutip CBS News menilai risiko re-eskalasi konflik justru meningkat meski jalur diplomasi masih berlangsung. Kondisi itu membuat harga minyak dan pasar saham global bergerak sangat volatil sepanjang perdagangan Senin.

Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump. Foto: The White House

Baca Juga

Trump Ancam Iran, Harga Minyak Naik Tajam

Sementara itu, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz mulai menunjukkan sedikit peningkatan setelah sebelumnya menyentuh level terendah selama masa perang. Data perusahaan pelacak maritim Kpler menunjukkan sebanyak 55 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz sepanjang 11–17 Mei 2026. Angka tersebut meningkat dibanding pekan sebelumnya yang hanya mencapai 19 kapal, level terendah sejak serangan pertama AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Sebuah helikopter SH-60S Seahawk milik Angkatan Laut AS memberikan dukungan kepada tim investigasi dari kapal perusak kelas Arleigh Burke AL AS, USS Kidd (DDG-100) yang mendatangi sebuah kapal penangkap ikan berbendera Iran, Al Molai dengan Rigid Inflatable Boat (RIB) bersenjata di perairan Selat Hormuz. Foto: US Navy

Televisi pemerintah Iran pada Jumat (15/5/2026) melaporkan Garda Revolusi Iran mulai mengizinkan lebih banyak kapal melewati Selat Hormuz. Sehari sebelumnya, media Iran menyebut lebih dari 30 kapal telah diberikan izin melintas.

Meski demikian, jumlah kapal yang melintas masih berada di bawah kondisi normal masa damai. Kpler mencatat sejak 1 Maret 2026 terdapat sekitar 663 kapal komoditas melintasi Selat Hormuz, atau rata-rata 55 kapal per pekan selama perang berlangsung.

Baca Juga

Semena-Mena, Iran Siapkan Tarif Hormuz

Ilustrasi Selat Hormuz.

Dalam kondisi normal, Selat Hormuz menangani sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) dunia, termasuk berbagai komoditas penting lainnya seperti pupuk. Karena itu, setiap ancaman terhadap jalur strategis tersebut langsung memengaruhi harga energi global dan sentimen pasar keuangan internasional.

Laporan senada juga disampaikan Reuters dan CNBC yang menilai pasar energi global masih sangat sensitif terhadap perkembangan konflik Iran-AS-Israel. Reuters menyebut investor terus memantau potensi gangguan pasokan minyak dunia dari Timur Tengah, sementara CNBC menilai ketidakpastian diplomasi membuat volatilitas harga minyak masih tinggi.

Selain berdampak terhadap energi global, perang Iran juga mulai memicu kekhawatiran terhadap inflasi dunia, biaya logistik, dan potensi perlambatan ekonomi global apabila konflik semakin meluas.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024