Serangan AS ke Iran Bisa Bikin IHSG Tertekan, Saham Energi Jadi Tumpuan
JAKARTA, investortrust.id - Pasar keuangan global kembali diterpa badai geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu (22/6/2025) malam mengonfirmasi serangan udara ke tiga fasilitas nuklir utama Iran, yakni Fordo, Natanz, dan Isfahan. Ketiga lokasi tersebut merupakan pusat pengayaan uranium Iran dan simbol kekuatan nuklir Teheran. Imbasnya, pasar modal domestik berpotensi mengalami tekanan pada pembukaan besok Senin (22/5/2025).
Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengutarakan, pasar modal Indonesia tidak luput dari tekanan. IHSG yang pekan lalu telah melemah 3,61% berpotensi kembali turun menguji support kuat di kisaran 6.812 hingga 6.700.
“Sentimen negatif bersifat eksternal ini sulit ditangkal katalis domestik, mengingat meningkatnya potensi capital outflow dan melemahnya sentimen investor asing,” ujarnya kepada investortrust.id Minggu, (22/6/2025).
Menurut Hendra, di balik tekanan tersebut, sektor energi dan tambang logam mulia justru berpeluang menjadi penopang pasar. Saham-saham, seperti PT Medco Energy Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Petrosea (PTRO), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), hingga PT Merdeka Cooper Gold Tbk (MDKA) diprediksi mendapat angin segar dari lonjakan harga minyak dan emas.
Selain itu, saham logistik dan pelayaran, seperti PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) serta emiten penghasil gas, seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) juga patut dicermati.
“Tekanan ini juga memberi tantangan baru bagi kebijakan ekonomi nasional. Kenaikan harga minyak berpotensi menambah tekanan subsidi energi dan inflasi impor, serta mempersempit ruang kebijakan moneter Bank Indonesia,” terang Hendra.
Baca Juga
Rupiah
Ia memproyeksi nilai tukar rupiah kemungkinan mengalami tekanan lanjutan seiring penguatan dolar dan potensi keluarnya dana asing (capital outflow) dari pasar surat utang dalam negeri.
Di sisi fiskal, pemerintah perlu memanfaatkan momen kenaikan harga komoditas untuk mengoptimalkan penerimaan negara, tetapi tetap waspada terhadap dampak negatif daya beli dan pertumbuhan ekonomi domestik.
Bagi investor, ujar dia, disiplin manajemen risiko menjadi kunci. Rebalancing portofolio ke sektor defensif dan komoditas, peningkatan likuiditas, serta penghindaran aset berisiko menjadi strategi menghadapi ketidakpastian ini.
Baca Juga
Dua Saham Ini Terbang Saat IHSG Turun Signifikan Sepekan, Ini Daftarnya
Hendra juga mengimbau investor tidak melakukan aksi spekulatif jangka pendek, terutama pada saham-saham dengan volatilitas tinggi dan likuiditas rendah.
“Dari sisi kebijakan pasar, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) dan BEI (Bursa Efek Indonesia) diharapkan mengambil langkah proaktif untuk menjaga stabilitas. Salah satu langkah penting yang perlu segera dilakukan adalah membuka kembali tampilan kode broker (broker summary),” ungkap dia.
Transparansi data perdagangan menjadi krusial dalam kondisi volatil seperti saat ini agar pelaku pasar, terutama investor ritel dan institusi domestik memiliki visibilitas yang memadai terhadap aliran transaksi dan likuiditas.
“Jika tekanan pasar membesar, otoritas perlu mempertimbangkan penyesuaian auto rejection atau langkah stabilisasi lain sesuai perkembangan situasi,” pungkasnya.
Tindakan militer terbuka AS dan Iran ini menjadi babak baru ketegangan Timur Tengah yang sejak Oktober 2023 telah memanas akibat konflik Iran–Israel. Kini, dengan keterlibatan langsung AS, dunia menghadapi risiko pecahnya perang terbuka skala besar di kawasan yang menjadi salah satu urat nadi pasokan energi global.
Ketidakpastian geopolitik ini menghapus optimisme jangka pendek terhadap pemangkasan suku bunga The Fed dan menggantinya dengan kekhawatiran inflasi berbasis komoditas. Investor global kini cenderung berpindah ke aset defensif, seperti US Treasury, emas, dan dolar AS, serta menurunkan eksposur terhadap pasar ekuitas, terutama di negara berkembang.

