Situasi Timur Tengah Memburuk, Trump Tinggalkan KTT G7 Lebih Awal
KANANASKIS, investortrust.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan meninggalkan KTT G7 di Kanada sehari lebih awal karena situasi yang memburuk di Timur Tengah, demikian disampaikan Gedung Putih pada hari Senin (16/6/2025).
Baca Juga
Konflik Israel-Iran Alihkan Fokus KTT G7, Para Pemimpin Dunia Hadapi Ujian Soliditas
KTT G7 mengalami kesulitan untuk menyatukan suara atas konflik di Ukraina dan antara Israel-Iran, sementara Trump secara terbuka menyatakan dukungan bagi Presiden Rusia Vladimir Putin. Trump juga telah memberlakukan tarif terhadap banyak sekutu yang hadir.
Sebelumnya, Trump telah mendesak semua pihak untuk segera mengevakuasi Teheran, dan kembali menegaskan bahwa Iran seharusnya menandatangani kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat.
"Banyak hal telah dicapai, tetapi karena situasi di Timur Tengah, Presiden Trump akan meninggalkan [KTT] setelah makan malam bersama para Kepala Negara," tulis Sekretaris Pers Karoline Leavitt di X.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambut baik keputusan Trump untuk meninggalkan KTT lebih awal, mengingat tujuan utama saat ini adalah untuk menghentikan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Baca Juga
Perang Israel-Iran Terus Berkobar, Netanyahu: Tak Tertutup Kemungkinan Targetkan Ali Khamenei
Para pemimpin G7 dari Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan AS, bersama Uni Eropa, berkumpul di kawasan resor Kananaskis di Pegunungan Rocky Kanada hingga Selasa.
Berbicara bersama Perdana Menteri Kanada Mark Carney sebelumnya, Trump mengatakan bahwa Grup Delapan telah melakukan kesalahan besar ketika mengeluarkan Rusia pada 2014 setelah mencaplok Krimea.
“Itu adalah kesalahan besar,” ujar Trump, seraya menambahkan bahwa Rusia tidak akan menginvasi Ukraina pada 2022 jika Putin tidak dikeluarkan dari G8.
“Putin berbicara dengan saya. Dia tidak berbicara dengan siapa pun lagi... dia tidak senang dengan itu. Saya bisa katakan, dia bahkan tidak berbicara dengan orang-orang yang mengusirnya, dan saya setuju dengannya,” ujar Trump, seperti dikutip CNBC.
Meskipun Trump tidak secara eksplisit mengatakan bahwa Rusia seharusnya dimasukkan kembali ke dalam grup, pernyataannya telah menimbulkan keraguan tentang seberapa besar pencapaian yang bisa diperoleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy saat dijadwalkan bertemu dengan para pemimpin pada Selasa.
“Awalnya cukup berat,” kata Josh Lipsky, mantan pejabat senior IMF yang kini memimpin departemen ekonomi internasional di Atlantic Council.
Negara-negara Eropa ingin meyakinkan Trump agar mendukung sanksi yang lebih keras terhadap Moskow.
Zelenskiy mengatakan bahwa ia berencana membahas pembelian senjata baru untuk Ukraina dengan Trump.
Pejabat-pejabat Eropa berharap pertemuan Selasa dengan Zelenskiy dan Sekjen NATO Mark Rutte serta KTT NATO pekan depan dapat digunakan untuk meyakinkan Trump agar mempertegas sikapnya.
Sebagai tanda awal dari kurangnya kesatuan dalam kelompok negara demokrasi ini, seorang pejabat AS mengatakan bahwa Trump tidak akan menandatangani pernyataan rancangan yang menyerukan de-eskalasi konflik Israel-Iran.
Kanada telah membatalkan upaya untuk mengadopsi komunike komprehensif guna menghindari pengulangan kejadian di KTT Quebec 2018, ketika Trump memerintahkan delegasi AS menarik dukungan terhadap pernyataan akhir setelah ia meninggalkan acara.
Para pemimpin telah menyiapkan beberapa draf dokumen, termasuk tentang migrasi, kecerdasan buatan, dan mineral strategis, namun tak satu pun dari dokumen itu mendapat persetujuan dari Amerika Serikat, menurut sumber yang mengetahui isi dokumen tersebut.
Tanpa kehadiran Trump, tidak jelas apakah akan ada pernyataan bersama, kata seorang diplomat Eropa.
Carney turut mengundang negara-negara non-G7 seperti Meksiko, India, Australia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Brasil, dan Ukraina.

