Perang Israel-Iran Terus Berkobar, Netanyahu: Tak Tertutup Kemungkinan Targetkan Ali Khamenei
NEW YORK, investortrust.id – Perang Israel-Iran masih berkobar. Kedua belah pihak saling serang dengan meluncurkan rudal lewat udara. Masing-masing berusaha menyasar sejumlah target penting, termasuk infrastruktur energi dan senjata. Bahkan, Israel mulai menyasar pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.
Baca Juga
Israel Lancarkan Serangan Udara ke Iran, Picu Ketegangan Regional
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meyakini bahwa menargetkan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dapat mengakhiri, bukan memperburuk, konflik yang sedang berlangsung antara Israel dan Iran yang pecah akhir pekan lalu.
Ketika ditanya oleh Kepala Koresponden Washington ABC News, Jonathan Karl, mengenai laporan dari ABC News dan media lainnya bahwa Presiden Donald Trump menolak rencana Israel untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran karena khawatir hal itu akan memperburuk konflik, Netanyahu menjawab, “Itu tidak akan memperburuk konflik, itu akan mengakhiri konflik,” ujarnya.
“Kami telah mengalami setengah abad konflik yang disebarkan oleh rezim ini, yang meneror seluruh Timur Tengah; telah mengebom ladang minyak Aramco di Arab Saudi; menyebarkan terorisme, subversi, dan sabotase di mana-mana,” kata Netanyahu.
Menurut Netanyahu, 'perang tanpa akhir' adalah apa yang diinginkan Iran. “Mereka membawa kita ke ambang perang nuklir. Faktanya, apa yang dilakukan Israel adalah mencegah hal itu, mengakhiri agresi ini, dan kami hanya bisa melakukannya dengan menghadapi kekuatan kejahatan,” bebernya,
Ketika ditanya apakah Israel akan menargetkan pemimpin tertinggi Iran, Netanyahu menjawab bahwa Israel sedang “melakukan apa yang perlu kami lakukan.”
“Saya tidak akan membahas rinciannya, tetapi kami telah menargetkan ilmuwan nuklir teratas mereka,” kata Netanyahu. “Itu pada dasarnya adalah tim nuklir versi Hitler.”
Netanyahu mengatakan bahwa mendukung Israel adalah kepentingan Amerika saat negara itu berupaya menghilangkan program nuklir Iran.
“Hari ini, sasarannya Tel Aviv. Besok, New York. Lihat, saya mengerti konsep 'America First'. Tapi saya tidak mengerti 'America Dead'. Itulah yang mereka inginkan. Mereka meneriakkan 'Maut bagi Amerika'. Jadi apa yang kami lakukan adalah demi umat manusia, dan ini adalah pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Amerika berpihak pada kebaikan, seharusnya demikian, dan memang demikian. Itulah yang dilakukan Presiden Trump, dan saya sangat menghargai dukungannya,” kata Netanyahu.
Netanyahu menepis laporan Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa Iran secara mendesak mengirim sinyal bahwa mereka ingin mengakhiri permusuhan dan melanjutkan negosiasi mengenai program nuklirnya.
“Saya tidak terkejut. Maksud saya, mereka ingin terus melakukan pembicaraan palsu ini di mana mereka berbohong, menipu, dan mempermainkan AS. Dan kami memiliki intelijen yang sangat kuat mengenai hal itu,” ujarnya. “Mereka ingin terus membangun senjata nuklir mereka dan mengembangkan gudang rudal balistik massal, yang mereka tembakkan ke rakyat kami. Mereka ingin terus menciptakan dua ancaman eksistensial terhadap Israel sambil berbicara. Itu tidak akan terjadi.”
Ketika diminta menanggapi sejumlah tokoh Partai Republik yang menentang dukungan militer AS untuk serangan Israel terhadap Iran, termasuk komentator Tucker Carlson, Netanyahu menyebut Iran sebagai “ancaman bagi seluruh dunia.”
“Kami bukan hanya melawan musuh kami. Kami melawan musuh Anda. Demi Tuhan, mereka meneriakkan 'maut bagi Israel, maut bagi Amerika'. Kami hanya berada di jalur mereka. Dan ini bisa mencapai Amerika segera,” kata Netanyahu.
Dalam buletin hari Jumat, Carlson menulis bahwa “Amerika Serikat tidak seharusnya terlibat dalam perang dengan Iran, dalam bentuk apa pun. Tidak ada dana, tidak ada senjata, tidak ada pasukan di lapangan,” dan bahwa Amerika harus membiarkan Israel “berperang sendiri.”
“Kami yang mengambil tindakan. Amerika mendukung kami dalam hal pertahanan. Kami sangat, sangat menghargainya. Tapi ini adalah ancaman terhadap seluruh dunia,” kata Netanyahu. “Ini ancaman terhadap Israel; seperti yang saya katakan—terhadap tetangga Arab kami; terhadap Eropa; terhadap Amerika. Mereka meneriakkan 'maut bagi Amerika'. Apakah ini bukan urusan Anda? Ini bukan sekadar rabun dekat. Ini benar-benar kebutaan.”
“Terkadang Anda harus mengambil sikap terhadap kejahatan. Dan itulah yang secara naluriah dipahami rakyat Amerika. Sebagian besar dari mereka, harus saya katakan. Dan itulah yang dipahami Presiden Trump. Kita tidak bisa membiarkan ini terjadi,” tambahnya.
Dalam pembaruan imbauan perjalanan pada hari Senin, Departemen Luar Negeri AS tampaknya telah mengklasifikasikan seluruh wilayah Israel dan Tepi Barat sebagai “Level 4: Jangan Bepergian”—tingkat peringatan tertinggi.
Ketika Netanyahu ditanya, apakah akan menghentikan pemboman jika Trump memintanya dan melanjutkan pembicaraan diplomatik, ia tak memberi jawaban tegas. “Yah, Presiden Trump adalah pemimpin besar, pemimpin dunia, dan sahabat besar Israel, dan dia telah menetapkan syarat yang sangat jelas dalam negosiasi,” katanya.
Baca Juga
Israel Hantam Fasilitas Nuklir Iran, Teheran Balas dengan Serangan Drone
“Dia mengatakan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan agar tidak memilikinya, mereka tidak boleh memiliki kapasitas memperkaya uranium, yang merupakan prasyarat bagi senjata nuklir.”
Ia kemudian menambahkan bahwa Iran tidak ingin melanjutkan negosiasi dengan itikad baik dan hanya “mempermainkan AS” sembari terus membangun persenjataan mereka. “Mereka tidak ingin duduk di meja perundingan—mereka ingin meledakkan meja itu. Secara spesifik, mereka ingin meledakkan Israel dan membeli waktu,” ujar Netanyahu.
Bantuan AS
Netanyahu memuji sistem pertahanan Amerika yang membantu Israel melawan drone dan rudal, namun menambahkan, “Untuk hal-hal lainnya, itu tergantung Presiden Trump. Dia akan melakukan apa yang terbaik bagi Amerika Serikat, tapi penting untuk dipahami bahwa kami sangat menghargai bantuannya dan dukungan dari mayoritas rakyat Amerika, karena mereka memahami apa yang sedang kami lawan.”
“Kami sedang melawan rezim yang membenci kita berdua, yang mencoba membunuh kita berdua, yang berusaha menyebarkan kematian dan kehancuran di seluruh Timur Tengah dan dunia. Dan terkadang, Anda harus mengambil sikap. Anda berpihak pada yang baik melawan kejahatan. Dan itulah tepatnya yang dilakukan Amerika di bawah Presiden Trump,” kata Netanyahu.
Sementara itu, Presiden Trump yang berada di Kanada untuk menghadiri KTT G7, ketika ditanya pada hari Senin tentang apa yang bisa membuat AS terlibat secara militer dalam konflik tersebut, menjawab, “Saya tidak ingin membicarakan hal itu.”
Jumlah korban tewas di Iran mencapai 224 orang hingga Senin pagi, menurut Kepala Pusat Hubungan Masyarakat dan Informasi Kementerian Kesehatan Iran. Di Israel, 24 orang tewas dan 592 lainnya terluka, menurut pernyataan dari kantor Perdana Menteri Israel Senin pagi.
Eskalasi antara kedua negara ini terjadi menjelang dimulainya kembali perundingan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran mengenai program nuklir Teheran, yang dijadwalkan berlangsung hari Minggu di Oman. Namun, Iran sejak itu telah menangguhkan pembicaraan tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan dalam pertemuan dengan para duta besar di Teheran pada hari Minggu bahwa serangan berkelanjutan Israel ke negaranya tidak mungkin terjadi “tanpa persetujuan dan dukungan Amerika Serikat.”
Araghchi menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengecam serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran.
“Ini mungkin merupakan garis merah terakhir dari hukum internasional yang telah dilanggar oleh rezim Israel, dan jika komunitas internasional bersikap acuh terhadap pelanggaran ini, hal itu pasti akan berdampak pada negara-negara lain,” ujar Araghchi.

