Saham Perusahaan Teknologi AS Terus “Ambyar”, Saatnya Tinggalkan ‘Magnificent Seven’?
NEW YORK, Investortrust.id – Saham perusahaan taknologi raksasa AS seperti terus anjlok di tengah kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan Pemerintahan Donald Trump. Sejumlah lembaga pengelola dana dunia mulai menggambarkan situasi saat ini sebagai periode untuk meninggalkan saham-saham besar teknologi AS, yang kerap disebut “Magnivicent Seven”.
Banyak investor global selama akhir pekan Paskah ini mulai mempertanyakan apakah sudah saatnya mereka meninggalkan 'Mag Seven' dan saham-saham AS lainnya. Sekadar informasi, mereka yang digolongkan sebagai “Magnivicent Seven” adalah Alphabet, Amazon, Apple, Meta, Microsoft, Nvidia, dan Tesla.
Sifat pernyataan Presiden Donald Trump yang tak terduga memang telah menciptakan ketidakpastian yang cukup dalam di pasar modal dunia. Survei terbaru Bank of America menunjukkan bahwa para manajer dana global mulai mengurangi porsi investasi mereka di saham-saham AS. Apalagi Jerome Powell, ketua Federal Reserve (bank sentral AS), memperkirakan Amerika Serikat bisa menghadapi inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih rendah.
Indeks S&P 500 telah turun 10 persen tahun ini menjadi 5.275. Indeks ini sempat mencapai rekor 6.144 pada bulan Februari, tetapi pengumuman mengejutkan soal tarif menyebabkan penurunan tajam.
Sebagian besar analis Wall Street memperkirakan S&P akan pulih pada 2025, namun mereka menurunkan target akhir tahun mereka. Rata-rata target kini berada di angka 6.067, bahkan JP Morgan Chase lebih pesimistis dan memproyeksikan Indkes S&P hanya akan berakhir di level 5.200 pada akhir tahun.
Saat ini semua investor pun mulai memperhatikan indeks Vix, atau biasa dikenal sebagai ‘Fear Index’, yang mengukur volatilitas yang diantisipasi terhadap S&P. Indeks Vix diproyeksi akan semakin meningkat.
Baca Juga
Wall Street Masih Bergejolak, Dow Jones Anjlok Lebih dari 500 poin
Sekadar informasi, Vix Index atau Volatility Index, adalah indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat ketakutan atau kekhawatiran pasar. Sering juga disebut sebagai "Fear Index", karena mencerminkan seberapa besar pelaku pasar memperkirakan volatilitas (gejolak harga) di pasar saham akan terjadi dalam waktu dekat.
Secara teknis, Vix dihitung berdasarkan harga opsi (options) pada indeks S&P 500. Jika investor merasa pasar akan menjadi tidak stabil, mereka cenderung membeli opsi sebagai perlindungan. Ketika permintaan opsi naik, harga opsi juga naik dan mendorong Vix naik.
Indeks Vix di atas 33 menunjukkan tingkat kekhawatiran yang tinggi. Rata-rata jangka panjangnya adalah 19, atau di bawah 20, yang menggambarkan tingkat kenyamanan dan rasa percaya diri para investor dengan situasi pasar terkini. Tingginya Indeks Vix mulai menggoda para pelaku pasar untuk keluar dari pasar kendati harus kehilangan potensi keuntungan.
Kekhawatiran kembali mendera pasar pekan ini setelah kabar bahwa raksasa semikonduktor Nvidia dilarang menjual chip-nya ke China. Sebuah langkah yang bisa membuat perusahaan ini kehilangan sekitar 10% dari total penjualannya. Pasar menilai perusahaan-perusahaan Big Tech saat ini tidak bisa mengharapkan adanya perlakuan istimewa dari Trump, meskipun para petingginya merupakan sekutu utamanya.
Terlepas dari tingginya kekhawatiran pada para pelaku pasar, Ian Lance dari Temple Bar Investment Trust berpendapat bahwa saham-saham AS sejatinya masih terlihat terlalu mahal. "Dalam jangka panjang, saya percaya bahwa valuasi adalah panduan terbaik untuk tingkat return di masa depan, dan menurut beberapa ukuran, pasar AS saat ini lebih mahal dibandingkan pada tahun 1929 dan 2000 , dan kita semua tahu apa yang terjadi setelah itu," ujar Lance memberikan ‘warning’ seperti dikutip Thisismoney.uk, Jumat (18/4/2025).
Baca Juga
Wall Street Ambruk Dipicu Aksi Jual Saham Teknologi, Dow Anjlok Hampir 700 Poin, Nasdaq Merosot 3%
Menguatkan apa yang disampaikan Ian Lance, Peter McLean, dari manajer investasi Stonehage Fleming kendati mengaku masih punya kepercayaan diri pada kinerja emiten di pasar saham, ia tetap mengingatkan agar investor harus lebih cermat dalam menilai valuasi, sentimen, dan persaingan dibandingkan masa lalu. Secara implisit ia menganggap langkah yang masuk akal jika investor mulai melirik emiten-emiten di luar kelompok Mag Seven.
Langkah diversifikasi atau bahkan switching dilakukan oleh Bill Ackman dari Pershing Square, dengan membeli saham perusahaan rental mobil Hertz. Sementara Matthew Page dari Guinness Global Equity Income Fund, berpendapat bahwa perusahaan barang konsumsi seperti Procter & Gamble seharusnya mampu meneruskan kenaikan harga kepada konsumen jika tarif menyebabkan inflasi meningkat.
Page juga menyoroti CME Group, perusahaan jasa keuangan yang mendapat keuntungan dari volatilitas pasar yang dipicu oleh unggahan media sosial dan pidato dari Trump di Gedung Putih.
Di luar tingginya kekhawatiran yang tecermin dalam Vix Index, suara-suara optimistis masih tetap terdengar. Sebut saja Duncan Lamont dari Schroders yang mengatakan langkah menjual saham saat indeks Vix mulai naik dan kembali berinvestasi setelahnya justru merupakan kesalahan yang lebih besar. “Strategi ini hanya akan membuat Anda memiliki US$782 pada tahun 2024 jika Anda menginvestasikan US$100 pada tahun 1990. Tapi Anda akan memiliki aset US$ 2.895 jika Anda tetap bertahan," ujarnya seperti dikutip Thisismoney.uk.
Sementara Rob Burgeman, dari RBC Brewin Dolphin mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan AS selama beberapa dekade telah menunjukkan kemampuannya untuk berinovasi dan merespons perubahan dalam ekonomi global dengan cepat.
Menarik dengan apa yang dilakukan Sundar Pichai, CEO dari perusahaan induk Google, Alphabet yang bersuara di media sosialnya. Bukan soal perang dagang, tetapi tentang sistem kecerdasan buatan (AI) baru perusahaannya yang mampu membuat bahasa lumba-lumba nantinya akan dapat dipahami oleh manusia. Ini dianggap sebagai pesan implisit kepada para investor Alphabet, bahwa mereka sebaiknya fokus pada keuntungan dari AI ketimbang mengukur dampak kebijakan Trump terhadap kinerja perusahaan.
Di tengah tekanan pasar, Nvidia masih diberi peringkat 'beli' karena kualitas chip AI-nya, meskipun para analis mulai memangkas target harga mereka. Rata-rata target harga adalah US$ 160 per lembar saham, bandingkan dengan harga saat ini yang berada di US$ 102.
Saham Tesla juga dinilai akan tetap didukung oleh para penggemar dan pemegang saham yang loyal kepada CEO-nya, Elon Musk. Namun, investor perlu mencatat bahwa perusahaan ini tidak akan mendapatkan perlindungan dari tarif, meskipun Musk memiliki hubungan dekat dengan Gedung Putih.
Meninggalkan sektor teknologi juga dinilai sebagai langkah yang kurang berdasar. Dikatakan Helen Steers dan Charlotte Morris dari Pantheon International Trust, teknologi merupakan kebutuhan jangka panjang di seluruh dunia, “Dan volatilitas justru bisa menghadirkan peluang yang menarik." Kendati demikian keduanya menekankan pentingnya untuk mengevaluasi perusahaan berdasarkan kekuatan dan potensi jangka panjangnya di situasi pasar seperti saat ini.

