AS Siap Pungut Tarif Baru atas Impor dari 86 Negara, Eskalasi Perang Dagang Meningkat
WASHINGTON, investortrust.id - Pemerintahan Presiden Donald Trump resmi memberlakukan tarif dagang baru terhadap 86 negara mulai tengah malam waktu AS, termasuk tarif kumulatif sebesar 104% atas produk asal China. Langkah ini menandai eskalasi signifikan dalam tensi perdagangan global yang semakin memanas.
Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS mengonfirmasi bahwa pihaknya telah siap memungut tarif-tarif spesifik negara mulai pukul 12:01 pagi ET, Rabu (9/4/2025). Pemberlakuan tarif ini langsung memicu aksi jual tajam di pasar saham AS. Dow Jones Industrial Average merosot lebih dari 300 poin menjelang tenggat, sementara Nasdaq dan S&P 500 mencatat penurunan signifikan dalam empat hari terakhir.
Presiden Trump menyebut kebijakan tarif ini sebagai strategi kesepakatan “tailored” atau “disesuaikan,” bukan kebijakan umum. “Ini adalah kesepakatan yang dirancang secara khusus,” ujarnya dalam penandatanganan perintah eksekutif di Gedung Putih, seperti dikutip CNBC. Trump juga menyebut perwakilan dari Jepang dan Korea Selatan akan segera datang ke AS untuk membuka negosiasi dagang.
Dengan implementasi tarif yang sudah dimulai, belum ada satupun dari 86 negara yang berhasil mencapai kesepakatan untuk menghindari beban tersebut.
Tensi Global Meningkat
Trump mengklaim bahwa China "sangat ingin membuat kesepakatan" namun belum tahu bagaimana memulainya. Sementara itu, mantan Menteri Perdagangan AS, Carlos Gutierrez, memperingatkan bahwa situasi saat ini sudah tergolong perang dagang penuh.
Baca Juga
Perang Dagang Global Memanas, Emas Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Masa
Di tengah kekacauan ini, Uni Eropa melalui Presiden Komisi Ursula von der Leyen menyatakan kesiapan untuk bernegosiasi namun juga tengah mempersiapkan tindakan balasan.
Dua pendukung miliarder Trump, Ken Langone dan Ken Griffin, juga secara terbuka mengkritik keras kebijakan tarif ini karena dinilai merugikan sektor bisnis AS.
Baca Juga
IMF: Kebijakan Tarif Trump Berisiko Signifikan pada Prospek Ekonomi Global
Dengan ketegangan yang terus meningkat dan pasar keuangan yang belum stabil, investor global kini menanti arah selanjutnya dari kebijakan dagang Presiden Trump.

