Yield USTreasury 10-Tahun Terus Mendaki di Tengah Ketegangan Perang Tarif
NEW YORK, investortrust.id – Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat naik signifikan pada Selasa (9/4/2025) waktu setempat. Hal ini terjadi, menyusul hasil lelang yang dianggap lemah serta kekhawatiran pasar terhadap dampak lanjutan dari kebijakan tarif baru Presiden Donald Trump terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi.
Baca Juga
Yield USTreasury 10-Tahun Kembali Melonjak di Atas 4%, Meski Tarif Trump Bayangi Pertumbuhan Ekonomi
Imbal hasil Treasury 10-tahun melonjak 12 basis poin ke level 4,285%, sedangkan imbal hasil Treasury 2-tahun justru turun tipis 2 basis poin menjadi 3,715%. Sebagai catatan, satu basis poin setara dengan 0,01%, dan pergerakan imbal hasil berbanding terbalik dengan harga obligasi.
Departemen Keuangan AS melelang obligasi Treasury tenor 3 tahun senilai $58 miliar, sebagai pasokan kupon pertama sejak Trump mengumumkan kenaikan tarif pada 2 April. “Lelang tersebut dipandang lemah oleh pasar,” kata Vail Hartman, analis strategi suku bunga AS di BMO, seperti dikutip CNBC. Hal ini mendorong kenaikan imbal hasil.
Beberapa pelaku pasar menduga penjualan oleh pemegang asing turut memicu lonjakan imbal hasil, seiring kekhawatiran mereka terhadap kebijakan perdagangan yang semakin agresif.
Imbal hasil acuan Treasury 10-tahun sempat menyentuh level rendah 3,8% pekan lalu, dan diperdagangkan di bawah 3,9% pada Senin pagi sebelum melesat ke 4,14%, mencatatkan lonjakan harian terbesar dalam satu tahun terakhir, menurut analis Trade Nation, David Morrison.
Baca Juga
Imbas Tarif Trump, Yield USTreasury 10-Tahun Anjlok ke Level Terendah Sejak Oktober 2024
Peningkatan tajam dalam imbal hasil ini tidak terlepas dari pernyataan Presiden Trump pada akhir pekan lalu yang menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kebijakan tarif agresif. Trump berencana memberlakukan tarif awal sepihak sebesar 10% serta menerapkan gelombang tarif "timbal balik" yang lebih luas mulai 9 April.
Pada Senin, Trump kembali mengancam akan menaikkan tarif impor AS dari China sebesar 50%, kecuali Beijing mencabut tarif balasan sebesar 34% yang telah diberlakukan pada produk AS pada Jumat sebelumnya. Pemerintah China menyatakan tidak akan mundur dan bersumpah akan “berjuang sampai akhir” dalam menghadapi tekanan perdagangan dari AS.
Ketidakpastian kebijakan ini juga memicu penyesuaian ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter The Fed.
“Karena tarif yang diumumkan sejauh ini lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya, kami melihat risiko kini bergeser ke arah pemotongan suku bunga yang lebih besar pada akhir tahun,” ujar Saira Malik, Kepala Investasi Ekuitas dan Pendapatan Tetap di Nuveen.
Ia menambahkan bahwa proyeksi pemangkasan suku bunga oleh The Fed meningkat dari 4 kali menjadi 6,6 kali sepanjang 2025–2026, sementara estimasi nilai wajar imbal hasil Treasury 10-tahun diturunkan dari 4,5% menjadi 4,0%.

