Jatuh Lebih dari 2%, Harga Minyak Terseret ke Level Terendah Mingguan
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak global jatuh lebih dari 2 persen pada Kamis (10/7/2025), terimbas oleh kekhawatiran pasar atas dampak kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dunia. Ketidakpastian arah kebijakan juga memperkuat kekhawatiran akan tekanan inflasi dan berkurangnya permintaan energi dalam waktu dekat.
Baca Juga
Surat Tarif Trump Picu Ketegangan Baru, PM Jepang: Sangat Disesalkan
Minyak Brent untuk pengiriman bulan depan ditutup turun 1,55 dolar AS atau 2,21 persen ke level 68,64 dolar per barel. Sementara itu, minyak WTI (West Texas Intermediate) melemah 1,81 dolar AS atau 2,65 persen menjadi 66,57 dolar per barel.
Pelemahan terjadi setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif sebesar 50 persen atas ekspor Brasil ke AS, menyusul perseteruan terbuka dengan Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva. Lula memanggil jajaran menterinya pada Kamis untuk membahas respons yang sesuai, setelah sebelumnya menyatakan akan mengambil tindakan balasan yang sepadan.
Tak hanya Brasil, Trump juga mengumumkan rencana tarif baru untuk tembaga, semikonduktor, dan produk farmasi. Pemerintahannya bahkan mengirimkan surat pemberitahuan tarif kepada Filipina, Irak, serta lebih dari selusin negara lain dalam sepekan terakhir, termasuk Korea Selatan dan Jepang, yang merupakan pemasok utama industri AS.
Baca Juga
Meski demikian, pelaku pasar energi cenderung mengambil sikap hati-hati. "Sejarah kebijakan yang sering berubah dari Trump membuat banyak investor lebih memilih menunggu kejelasan," ujar Harry Tchilinguirian, kepala riset Onyx Capital Group, seperti dikutip CNBC.
Notulen pertemuan The Fed pada 17–18 Juni juga menunjukkan bahwa sebagian besar pembuat kebijakan masih mengkhawatirkan tekanan inflasi akibat tarif. Hanya beberapa pejabat yang mengindikasikan kemungkinan penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Kenaikan suku bunga akan membuat biaya pinjaman lebih mahal dan menekan permintaan minyak global.
Di sisi suplai, produsen minyak OPEC+ diperkirakan akan menyetujui peningkatan produksi besar lainnya untuk September, seiring rencana pengakhiran pemangkasan sukarela oleh delapan negara anggota serta penyesuaian kuota baru bagi Uni Emirat Arab.
Sementara itu, dari sisi geopolitik, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dilaporkan menggelar pembicaraan “terbuka” dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov terkait stagnasi penyelesaian perang Ukraina. Presiden Trump juga mengatakan sedang mempertimbangkan rancangan undang-undang baru yang berisi sanksi lebih keras terhadap Moskwa.

