Trump Jadi “Musuh Bersama”, Negara-Negara Lain Siapkan Tarif Balasan
WASHINGTON, investortrust.id - Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengobarkan perang dagang dengan menetapkan tarif besar-besaran terhadap barang impor mendorong negara-negara lain menyiapkan balasan. Trump seolah telah menjadi musuh bersama.
Sejumlah pemimpin dunia langsung bersuara atas keputusan nyeleneh Trump. Bahkan tidak sedikit yang kontra dengan keputusan ini, termasuk sekutu-sekutu terdekat AS. Kebijakan Trump dinilai dapat memicu resesi global dan memicu kenaikan harga barang di berbagai sektor.
Baca Juga
Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, misalnya, menyebut situasi ini layaknya krisis nasional. Di Negeri Sakura, saham sektor perbankan harus anjlok dan membuat bursa saham Tokyo mencatat pekan terburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyebut AS telah meninggalkan perannya sebagai pemimpin kerja sama ekonomi internasional. Kanada bahkan segera mengumumkan langkah-langkah balasan terhadap tarif tersebut.
China pun tidak tinggal diam. Negeri Tirai Bambu menyatakan akan melakukan pembalasan atas tarif 54% terhadap barang impor mereka. Uni Eropa juga bersiap menghadapi tarif 20% dengan mengkaji kembali hubungan investasinya dengan AS.
Presiden Prancis, Emmanuel Macron bahkan menyerukan penghentian investasi Eropa di AS sebagai bentuk protes. Di saat yang bersamaan, negara-negara lain, seperti Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Meksiko, dan India masih memilih menahan diri sembari menunggu hasil negosiasi.
Dari sisi ekonomi global, bank investasi JP Morgan memperkirakan kemungkinan resesi global akan meningkat dari 40% menjadi 60% pada akhir tahun ini. Sementara itu, Gedung Putih belum memberikan pernyataan apakah tarif ini bersifat permanen atau hanya taktik negosiasi.
Kenaikan Harga Barang
Diberitakan Reuters, Jumat (4/4/2025), harga berbagai barang di AS diperkirakan melonjak, dari pakaian, hingga produk elektronik, seperti iPhone. Menurut Rosenblatt Securities, harga iPhone varian tertinggi bisa saja dibanderol hingga US$ 2.300 jika Apple membebankan biaya kepada konsumen.
Di sisi lain, perusahaan manufaktur Stellantis yang menutup pabrik di Kanada dan Meksiko akan melakukan PHK besar-besaran kepada pekerja di AS. Adapun General Motors menyatakan akan meningkatkan produksi domestik di AS.
Tak habis sampai di situ, saham perusahaan besar AS yang memiliki produksi luar negeri turut terdampak, seperti Nike yang sahamnya anjlok 14% dan Apple turun 9%.
Trump menyebut tarif resiprokal ini sebagai balasan atas hambatan perdagangan terhadap barang AS. Wakil Presiden AS, JD Vance mengatakan langkah ini penting untuk keamanan nasional dan kebangkitan manufaktur domestik.
Meski belum diberlakukan hingga 9 April, ancaman tarif jelas telah mengganggu kepercayaan pasar dan konsumen. Ekonom memperingatkan bahwa kebijakan ini bisa memicu inflasi, resesi, dan menambah beban keuangan keluarga di AS.
Baca Juga
Tarif Trump Berpotensi Ganggu Perdagangan Global, Ekonom: Indonesia Harus Diversifikasi Ekspor
Tarif Trump juga bisa merusak hubungan strategis AS di Asia. Kanada dan Meksiko pun harus bersiap menghadapi tarif tambahan untuk impor otomotif.
Tak heran jika langkah agresif Trump ini dinilai tidak memiliki landasan teknis yang kuat dan justru memperburuk posisi negosiasi AS secara global. Indonesia pun kini harus menanggung tarif resiprokal 32% ditambah basis tarif 10% untuk melakukan ekspor ke AS. (C-13)

