Perang Tarif Beri Peluang bagi Indonesia?
JAKARTA, investortrust.id – Dunia seakan semrawut dan bergejolak hanya gara-gara ulah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menggunakan senjatanya untuk menaikkan tarif bea masuk (BM) terhadap mitra dagang yang mengalami surplus berlebih. China, Mexico, Kanada, dan Uni Eropa adalah korban pertama Trump yang kenaikan tarif BM-nya berlaku April ini.
Indonesia sebenarnya masuk dalam “Dirty 15” atau daftar top 15 negara yang menikmati surplus dagang terbesar dengan Negeri Paman Sam itu. Namun, sejauh ini Indonesia belum termasuk negara yang dibidik Trump. Karena itu, Indonesia bisa memanfaatkan peluang memasukkan produk subsitusi dari China atau Meksiko yang terkena kenaikan tarif.
Guna membedah peluang produk-produk yang berpeluang meningkat ke pasar AS pasca-penaikan tarif ke sejumlah negara, Kadin Indonesia menggelar seminar bertema "Dampak Perang Tarif terhadap Peluang Ekspor Indonesia" di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (25/3/2025).
Geger perang tarif bermula ketika Trump pada 1 Februari 2025 lalu mengumumkan pengenaan tarif tambahan sebesar 10% terhadap barang impor dari China, diikuti dengan tarif 25% untuk Meksiko dan Kanada. Kebijakan ini memicu respons keras dari negara-negara yang terdampak. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi perdagangan agresif yang telah diterapkan Trump sejak kembali menjabat pada 20 Januari 2025.
China membalas dengan menaikkan tarif 15% pada impor batu bara dan LNG dari Amerika Serikat, serta 10% pada produk minyak mentah, mesin pertanian, dan kendaraan. Kanada dan Meksiko pun tidak tinggal diam dengan menerapkan tarif balasan terhadap berbagai produk Amerika.
Buntutnya, Donald Trump bakal mengenakan tarif impor mobil yang mulai berlaku pada 2 April 2025. Keputusan ini diambil sehari setelah anggota kabinetnya menyampaikan laporan terkait berbagai opsi bea masuk yang dirancang untuk merombak sistem perdagangan global.
Indonesia Diuntungkan
Peneliti utama dan Founder Datawheel, Prof César Hidalgo yang menjadi pembicara utama di seminar ini menyatakan, kebijakan tarif Presiden Trump terhadap China bakal mendongkrak nilai ekspor enam negara dalam perdagangan global empat tahun ke depan, termasuk Indonesia.
Cesar melihat, Indonesia memiliki posisi geopolitik yang sangat menguntungkan. Indonesia adalah negara yang, dalam konteks global, dapat berdagang dengan China, Timur Tengah, Amerika Serikat, bahkan Rusia, tanpa menimbulkan kontroversi yang berlebihan di dunia internasional. Ini adalah aset strategis yang sangat berharga, terutama di dunia yang semakin tidak stabil seperti saat ini.
Hidalgo bersama timnya membuat model perhitungan akurat terkait arus perdagangan global. “Kemudian, kami menerapkan model tersebut ke dalam simulasi, kami mensimulasikan Amerika Serikat (AS) memberlakukan kenaikan tarif sebesar 10% terhadap barang-barang dari China,” kata dia.
Cesar mendesain model prediksi potensi ekspor suatu negara hingga empat tahun ke depan. Model ini terbukti sangat akurat dan dapat menjelaskan sekitar 88% varian dalam arus perdagangan di masa depan.
Hidalgo menjelaskan, nilai ekspor Negeri Tirai Bambu akan turun hingga US$ 43 miliar akibat tarif baru yang diterapkan Trump. “Dalam konteks simulasi ini, jika AS memberlakukan kenaikan tarif sebesar 10 poin persentase terhadap China, ekspor China akan berkurang sekitar US$ 42-43 miliar, dan akan ada negara-negara yang diuntungkan,” tambah Hidalgo.
Hidalgo mencontohkan, nilai ekspor Meksiko dan Kanada ke Amerika Serikat akan meningkat sekitar US$ 3,7 miliar. “Sedangkan Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam juga akan mengalami peningkatan, begitu pula dengan Indonesia yang akan mengalami peningkatan sekitar US$ 1,7 miliar dalam skenario ini. Seperti yang bisa dibayangkan, dampak ini bervariasi di berbagai sektor,” terangnya.
Sementara itu, studi terbaru dari Kadin Indonesia Institute, Yayasan Berbakti Semangat Indonesia (YBSI), dan Datawheel mengungkapkan, kebijakan tarif yang dilakukan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap produk China berpotensi mendorong lonjakan ekspor Indonesia hingga sebesar US$ 1,69 miliar atau Rp 24,08 triliun (asumsi kurs Rp 16.590/USD).
Sejumlah sektor yang diproyeksikan akan menikmati keuntungan dari penerapan tarif impor tersebut antara lain sektor alas kaki, tekstil, elektronik, furniture ringan, sweater rajut, koper dan tas, mainan, pakaian dalam wanita, produk kayu seperti plywood. Produk elektronik juga berpeluang tapi kompetisi tinggi.
Untuk produk sepatu, sepatu karet, dan tekstil, Indonesia di peringkat kedua di bawah Vietnam. Untuk sweater rajut, Indonesia peringkat kedua di bawah Bangladesh.
Indonesia dan Vietnam memang bersaing ketat untuk menembus pasar AS. Vietnam, Thailand, dan Malaysia unggul untuk produk elektronik.
Inggris juga bisa menjadi peluang, terutama setelah mereka keluar dari Uni Eropa, di mana mereka sangat berusaha untuk membuat perjanjian dan kesepakatan perdagangan. Saya rasa Indonesia memiliki banyak potensi untuk menawarkan kepada Inggris, terutama dalam ekspor elektronik, pakaian, dan bentuk-bentuk manufaktur lainnya.
César Hidalgo mengatakan, sektor tekstil, garmen, dan alas kaki Indonesia diperkirakan mengalami lonjakan hingga US$ 732 juta, sementara elektronik dan perabot juga mendapat keuntungan besar akibat pergeseran rantai pasok global.
Kenaikan ekspor Indonesia ke AS berpotensi melampaui Malaysia, Thailand, dan Filipina, berkat daya saing industri manufaktur serta kebijakan pemerintah yang mendorong investasi dan ekspor. Namun kenaikan tersebut masih lebih rendah daripada kenaikan ekspor yang akan dicapai oleh Vietnam.
Made in Indonesia
Pada bagian lain, Cesar mengingatkan bahwa dengan melihat krisis demi krisis dan gejolak eksternal, Indonesia perlu membangun kapasitas untuk memitigasi agar ketika krisis berikutnya datang, Indonesia sudah lebih siap dengan solusi yang jitu. Dalam konteks negara, membangun kapasitas informasi seperti sangat penting, karena ini seperti membangun dinas pemadam kebakaran sebelum terjadi kebakaran (krisis).
Indonesia perlu memperkuat eksistensi di pasar global dengan merek buatan sendiri, Made in Indonesia. Cesar mengamati, dunia tidak begitu mengenal kapasitas manufaktur Indonesia. Padahal, manufaktur Indonesia memproduksi barang untuk Nike, Adidas, H&M, dan Zara.
Selain itu, untuk memperkuat posisi Indonesia, dia merekomendasikan untuk meningkatkan kehadiran online (platform digital) agar dapat membedakan diri dari para pesaing.Indonesia harus memberdayakan unit diplomatik dan para pemimpin bisnis ke seluruh dunia.
Peluang Naikkan FDI
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan, penerapan tarif impor terhadap tiga negara utama yang menikmati surplus perdagangan atas AS, khususnya China, akan berdampak terhadap peningkatan daya saing produk asal Indonesia.
“Dengan tarif yang lebih tinggi pada barang China, maka harga produk dari China di pasar AS menjadi lebih mahal. Ini membuka peluang bagi produk Indonesia yang serupa untuk lebih kompetitif di pasar AS,” tutur Rosan.
Ia menyatakan, perusahaan-perusahaan AS yang sebelumnya mengandalkan impor dari China akan mencari alternatif dari negara lain, termasuk Indonesia sehingga tercipta peluang ekspor barang Indonesia seperti tekstil, elektronik, furniture, hingga produk pertanian.
Sementara itu di sisi lain, banyaknya perusahaan multinasional yang mengandalkan basis operasinya di China akan mulai mencari lokasi alternatif untuk produksi guna menghindari tarif AS. “Indonesia memiliki peluang untuk dapat menarik investasi ini, menampung relokasi, terutama di sektor manufaktur dan industri berorientasi ekspor, sehingga bisa menaikkan foreign direct investment (FDI),” imbuh Rosan.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno, mengatakan Indonesia bisa memperkuat hubungan dagang dengan Amerika Serikat melalui negosiasi tarif atau perjanjian perdagangan bebas untuk meningkatkan akses pasar.
“Negosiasi dapat menurunkan atau menghilangkan tarif impor untuk produk unggulan Indonesia seperti tekstil, alas kaki, elektronik, dan produk pertanian, sehingga lebih kompetitif di pasar AS,” ujar Arif Havas.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya N Bakrie menegaskan pentingnya kesiapan Indonesia dalam merespons perubahan global. “Perang tarif AS-China bukan hanya tantangan, tetapi juga peluang. Kita harus memperkuat industri dalam negeri dan memperluas pasar ekspor dengan strategi yang tepat,” kata Anindya.
Erwin Aksa, Wakil Ketua Umum Koordinator Kadin Indonesia, menambahkan, “Kita tidak boleh menjadi penerima manfaat pasif. Momentum ini adalah kesempatan langka. Jika kita tidak bertindak cepat, negara lain seperti Vietnam dan Meksiko akan mengambil alih peluang ini,” ujarnya.
Market Intelligence
Sedangkan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Perdagangan Internasional, Pahala Mansury yang menjadi pembahas dalam seminar ini, menekankan perlunya strategi jangka panjang. "Indonesia berpotensi mendapat keuntungan dari pengalihan impor AS, terutama di sektor hilirisasi dan padat karya. Untuk itu, kita harus memperluas akses pasar, bekerja sama dengan pemasok global, dan menarik perusahaan dalam rantai pasok AS agar memindahkan sebagian produksinya ke Indonesia, memanfaatkan dampak tarif AS terhadap Tiongkok dan Meksiko," ujarnya.
Pahala Mansury menekankan, Indonesia perlu memikirkan kembali bagaimana dapat menjadi pemain utama dalam rantai pasok global. Selama ini, Indonesia selalu melihat sebagai negara dengan populasi 280 juta jiwa, sehingga kurang serius mengejar strategi pertumbuhan yang lebih berorientasi ekspor ke depan.
Saat ini, terdapat dua tren utama. Yang pertama adalah tren China Plus, di mana perusahaan-perusahaan mencari lokasi lain untuk fasilitas produksi mereka selain China. Yang kedua adalah dampak langsung dari perang tarif itu sendiri. Kedua, faktor itu akan mendorong relokasi fasilitas produksi dari China ke negara lain.
Foreign Direct Investment (FDI) ke China merosot signifikan, dari lebih dari US$ 300 miliar pada awal 2010 menjadi hanya sekitar US$ 13 miliar pada tahun 2023. Bahkan, pada tahun 2024, angka ini diperkirakan akan semakin rendah. Oleh karena itu, ini adalah momen yang sangat tepat bagi Indonesia untuk menangkap peluang tersebut, tetapi harus bersaing dengan Vietnam dan Malaysia.
Pahala menyoroti pentingnya keterkaitan antara tiga kebijakan utama: kebijakan perdagangan, kebijakan industri, dan kebijakan investasi. Keberhasilan Indonesia dalam menghadapi perang tarif ini tidak hanya bergantung pada kebijakan perdagangan, tetapi juga pada kebijakan industri dan investasi. Oleh karena itu, kementerian yang terkait, termasuk Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Investasi, harus bekerja sama untuk memastikan bahwa Indonesia dapat menangkap peluang ini secara maksimal.
Selain di dalam negeri, penting juga untuk memperkuat citra dan pengetahuan tentang Indonesia di luar negeri. Seperti yang disebutkan oleh Profesor Cesar, jika kita pergi ke AS, masih banyak orang yang belum benar-benar memahami potensi dan peluang yang dimiliki oleh Indonesia. Padahal, Indonesia adalah negara besar dengan banyak peluang investasi.
Dalam hal ini, peran IIPC (Indonesia Investment Promotion Center), ITPC (Indonesia Trade Promotion Center), serta kantor-kantor perwakilan Kementerian Luar Negeri menjadi sangat penting. Jangan lupa bahwa Indonesia memiliki enam kantor perwakilan di AS—di San Francisco, Los Angeles, Chicago, Houston, New York, dan Washington DC. Tantangannya adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan kantor-kantor ini secara optimal untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang Indonesia serta membangun koneksi dengan pelaku bisnis global.
Kantor-kantor ini juga berperan dalam melakukan market intelligence, memahami siapa saja yang terlibat dalam rantai pasok global. Dengan memahami jaringan rantai pasok ini, kita dapat menjalin kontak yang tepat agar mereka tertarik untuk merelokasi fasilitas produksi mereka ke Indonesia.
“Jadi, sangat penting membangun brand equity Indonesia, serta narasi tentang Indonesia,” kata Pahala.
Pahal melihat, produk yang juga berpeluang menembus pasar AS adalah suku cadang otomotif serta hilirisasi mineral kritis.
Simulasi Tarif
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perang dagang AS-China menciptakan ketidakpastian global, mengganggu investasi, dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Menurut Direktur Kadin Indonesia Institute, Mulya Amri, itu semua berpotensi menurunkan daya saing serta permintaan produk ekspor Indonesia. Oleh karena itu, selain peningkatan ekspor ke AS, studi ini menekankan pentingnya diversifikasi sektor dan perluasan pasar untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara.
Informasi yang akurat menjadi kunci bagi pelaku usaha dan pembuat kebijakan. “Simulator Dampak Tarif yang dikembangkan oleh Kadin Indonesia Institute, YBSI, dan Datawheel membantu bisnis dan pemerintah dalam merencanakan ekspansi pasar dan menyusun kebijakan perdagangan,” ucap Amri.
Mulya Amri, menegaskan, "Simulator Dampak Tarif memungkinkan pelaku usaha dan pembuat kebijakan melihat peluang ekspor yang terbuka dan mengambil keputusan yang lebih tepat. Simulator dampak tarif dapat diakses oleh publik melalui laman oec.world/en/tariff-simulator.
Perjanjian Dagang Terbatas
Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional Kementerian Perdagangan (Kemendag), Johni Martha menegaskan, pihaknya membuka peluang untuk melobi pemerintah Amerika Serikat (AS) agar ekspor Indonesia tak terdampak perang tarif yang dilakukan Presiden AS Donald Trump.
“Tak kalah pentingnya untuk memperkuat komunikasi dan lobi strategis melalui keputusan khusus yang diakui dan dapat diterima oleh Amerika Serikat, mengingat kompleksitasnya di AS dalam hal melobi,” kata dia.
Terkait hal itu, pemerintah RI berencana untuk mereaktivasi dialog melalui forum Trade and Investment Framework Agreement (TIFAs) Indonesia-AS.
Johni menyebutkan, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) telah berkonsolidasi dengan pihak terkait agar kemitraan ini mulai aktif kembali, di mana forum kemitraan ini tengah ‘mati suri’ imbas pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu. Sayangnya, AS belakangan enggan membicarakan trade liberalization, khususnya penghapusan atau pengurangan tarif.
“Sehingga diskusi yang ada lebih ke kerja sama dan framework untuk membuat semacam disiplin, tapi tanpa ada ‘pemanis’-nya di sisi market access-nya," lanjutnya.
Untuk mengantisipasi dampak perang dagang AS, lanjut Johni, pemerintah akan mulai mengeksplorasi perjanjian dagang terbatas atau limited trade deal untuk pengurangan tarif dan penyelesaian isu non-tarif yang menjadi kepentingan dua negara. Serta terakhir, penguatan kerja sama investasi di berbagai sektor.
Lebih lanjut, Johni menegaskan sampai saat ini RI tak menganut proteksionisme dengan AS, karena menurutnya kebijakan tersebut akan menjadi bumerang bagi kinerja impor Tanah Air. “Sebisa mungkin kami di perdagangan tidak menghalangi produk-produk, baik dari India maupun Amerika, khususnya dari Amerika, terutama dalam kondisi saat ini,” imbuhnya. “Toh, produk mereka juga memang kita perlu, seperti kedelai, gandum, apel, dan anggur,” sambung Johni.
Diskusi yang di-explore dalam seminar ini menunjukkan betapa besarnya peluang Indonesia dari perang tarif. Baik dari sisi ekspor maupun investasi langsung (FDI). Peluang itu terbuka lebar jika semua pemangku kepentingan, khususnya pelaku bisnis dan pemerintah, menyadari dan menindaklanjuti dengan upaya sungguh-sungguh. Dalam konteks itu, semangat „Indonesia Incorporated“ yang belakangan digaungkan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie perlu diimplementasikan. ***

