Bagikan

Beijing Siapkan Balasan Tarif Impor 10%, Termasuk Mengadu ke WTO

BEIJING, Investortrust.id - Sehari setelah Donald Trump memberlakukan tarif sebesar 10% terhadap impor dari Tiongkok, Kementerian Luar Negeri China memberikan tanggapan keras dengan menyebut keputusan sepihak tersebut sebagai pelanggaran terhadap aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Dalam pernyataan yang tegas namun tetap terukur, Tiongkok menyatakan menolak langkah tersebut dan memperingatkan bahwa pihaknya akan mengambil tindakan balasan yang diperlukan untuk mempertahankan hak-haknya yang sah, termasuk dengan mengajukan gugatan ke WTO.

"Posisi Tiongkok tegas dan konsisten. Perang dagang dan tarif tidak akan menghasilkan pemenang. Kenaikan tarif sepihak yang dilakukan AS secara serius melanggar aturan WTO. Langkah ini tidak akan menyelesaikan permasalahan di dalam negeri AS, dan yang lebih penting, tidak menguntungkan kedua belah pihak, apalagi dunia," demikian pernyataan dari Kementerian Luar Negeri seperti dikutip TheWeek.in, Minggu (2/2/2025).

Beijing juga menegaskan bahwa mereka memiliki kebijakan pengendalian narkotika yang ketat dan menyeluruh, serta meminta AS untuk menangani krisis fentanyl dengan cara yang objektif dan rasional.

Baca Juga

Balas Kebijakan Tarif Trump, Kanada Terapkan Tarif Impor bagi Sejumlah Produk AS  

"Krisis fentanyl adalah permasalahan domestik AS. Dengan semangat kemanusiaan, Tiongkok telah mendukung upaya AS dalam menangani krisis ini. Atas permintaan AS, pada tahun 2019 Tiongkok menjadi negara pertama yang secara resmi memasukkan seluruh kelas zat fentanyl dalam daftar terlarang. Tiongkok dan AS telah menjalin kerja sama luas dalam pemberantasan narkotika dengan hasil yang nyata dan diakui secara luas," demikian pernyataan lebih lanjut dari kementerian.

Dalam pernyataan lebih lanjut, Beijing memperingatkan bahwa AS harus melihat dan menyelesaikan permasalahan fentanyl mereka sendiri secara objektif dan rasional, alih-alih mengancam negara lain dengan kenaikan tarif yang sewenang-wenang.

“Pengenaan tarif tambahan bukanlah langkah yang konstruktif, dan justru akan berdampak buruk serta merusak kerja sama antara kedua negara dalam pemberantasan narkotika di masa depan,” tegas kementerian tersebut.

Baca Juga

Presiden Meksiko Perintahkan Langkah Tarif Balasan pada AS

Beijing juga mendesak AS untuk memperbaiki kesalahannya, mempertahankan dinamika positif yang telah diperoleh dalam kerja sama anti-narkotika, serta mendorong hubungan bilateral yang stabil, sehat, dan berkelanjutan.

Tanggapan China kali ini tidak langsung memperlihatkan eskalasi besar, berbeda dengan konflik dagang yang terjadi selama masa jabatan pertama Trump. Berbeda dengan Kanada dan Meksiko yang segera menerapkan tarif impor balasan terhadap produk asal AS,  Beijing tetap menggunakan bahasa yang lebih terukur dalam beberapa pekan terakhir, mengingat ekonomi Tiongkok yang sedang melemah dan semakin bergantung pada ekspor.

Para pakar meyakini bahwa China tidak ingin kembali terlibat dalam konfrontasi dagang besar-besaran dengan Trump seperti yang terjadi di masa lalu. Sebagai gantinya, Beijing kemungkinan akan menggunakan strategi devaluasi mata uangnya, sebuah taktik yang pernah diterapkan secara efektif selama periode pertama Trump sebagai presiden. Dengan langkah ini, China dapat menghindari eskalasi ketegangan tanpa harus secara langsung membalas tarif yang diberlakukan AS.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024