Uni Eropa Siapkan Tarif Balasan Senilai 21 Miliar Euro, Ini Tanggapan Trump
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id – Uni Eropa (UE) telah menyiapkan daftar tarif senilai 21 miliar euro untuk membalas tarif AS. Namun, blok perdagangan itu masih menahan diri, sambil menunggu negosiasi sebelum tenggat waktu 1 Agustus.
Baca Juga
Tegas! Ini Tanggapan Uni Eropa dan Meksiko atas Tarif 30% AS
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan ia terbuka untuk melanjutkan diskusi dengan UE dan mitra dagang lainnya sebelum tarif baru sebesar 30% diberlakukan, dan menyebut bahwa pejabat UE akan datang ke AS untuk negosiasi.
“Mereka ingin membuat jenis kesepakatan yang berbeda dan kami selalu terbuka untuk berdialog, termasuk dengan Eropa,” ujar Trump kepada wartawan di Ruang Oval, Senin (14/7/2025), seperti dikutip Reuters. “Faktanya, mereka akan datang. Mereka ingin berbicara,” tambahnya.
Trump meningkatkan perang dagangnya pada hari Sabtu, dengan menyatakan akan memberlakukan tarif 30% atas sebagian besar impor dari UE dan Meksiko bulan depan, setelah mengeluarkan peringatan serupa untuk negara lain termasuk Jepang dan Korea Selatan.
Baca Juga
Perang Dagang Memanas, Trump Patok Tarif 30% Ke Uni Eropa dan Meksiko Mulai 1 Agustus 2025
UE sejauh ini menahan diri untuk tidak melakukan tindakan balasan guna menghindari eskalasi timbal balik yang tak terkendali selama masih ada peluang untuk negosiasi. Namun para menteri UE yang keluar dari pertemuan di Brussels pada Senin tampak semakin siap untuk membalas.
Berbicara dalam konferensi pers usai pertemuan, Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen menyebut ancaman tarif tersebut “benar-benar tidak dapat diterima.”
Kepala Perdagangan UE Maros Sefcovic mengatakan bahwa ia percaya “masih ada potensi untuk melanjutkan negosiasi” tetapi menyatakan frustrasinya atas kegagalan Washington menyepakati kesepakatan dengan mitra dagang terbesarnya.
“Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, perlu dua tangan untuk bertepuk tangan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa negara anggota UE sepakat bahwa blok 27 negara itu perlu mengambil tindakan balasan jika negosiasi dagang dengan AS gagal.
Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani sebelumnya mengatakan bahwa UE telah menyiapkan daftar tarif senilai 21 miliar euro (24,5 miliar dolar AS) terhadap produk AS jika kedua pihak gagal mencapai kesepakatan.
Sementara itu, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum mengatakan pada hari Senin bahwa ia yakin kedua pihak akan mencapai kesepakatan soal keamanan sebelum tenggat 1 Agustus.
Gedung Putih menjelaskan bahwa tarif 30% atas Meksiko, yang dikaitkan Trump dengan kegagalan menahan arus fentanyl ke AS, tidak akan berlaku bagi barang-barang yang dikirim di bawah perjanjian dagang USMCA, yang mencakup sebagian besar barang ekspor Meksiko ke AS.
Sheinbaum menyatakan bahwa kesepakatan apapun tidak akan melibatkan pasukan AS memasuki wilayah Meksiko, sebagaimana pernah diisyaratkan Trump.
Saham Eropa Melemah
Penasehat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett menyatakan negosiasi dagang masih berlangsung dengan Uni Eropa, Kanada, dan Meksiko. Kanada menghadapi tarif sebesar 35% mulai Agustus.
Ancaman tarif tersebut membunyikan alarm di Eropa, terutama di Jerman, ekonomi terbesar UE.
Setelah Kanselir Friedrich Merz mengatakan pada Minggu bahwa tarif 30% akan “menghantam industri ekspor Jerman hingga ke akar,” Kepala Kamar Dagang dan Industri Jerman Volker Treier menyerukan aksi cepat.
“Konflik tarif yang terus meningkat dengan AS menjadi ancaman serius bagi banyak perusahaan Jerman,” kata Treier pada Senin. “Negosiasi keras kini dibutuhkan untuk mencegah keruntuhan perdagangan transatlantik.”
Industri-industri Eropa pun bersiap menghadapi skenario terburuk.
Produsen anggur Chianti asal Italia di Tuscany, misalnya, menuntut strategi ekspor baru yang didukung oleh UE untuk menargetkan pasar alternatif seperti Amerika Selatan, Asia, dan Afrika.
Sejak kembali ke Gedung Putih awal tahun ini, Trump berupaya menggunakan berbagai tarif untuk mendorong ekonomi AS, memaksa perusahaan berinvestasi di dalam negeri, dan menghidupkan kembali sektor manufaktur.
Pengumuman awal tarif “Hari Pembebasan” pada April, yang menetapkan tarif dasar 10% untuk semua impor dan tarif lebih tinggi untuk produk atau negara tertentu, memicu kekhawatiran akan gangguan rantai pasok global dan mengguncang pasar.
Namun, pembalikan arah dan penundaan berikutnya, termasuk jeda 90 hari untuk sebagian besar tarif demi memberi waktu untuk negosiasi dagang, membuat investor sebagian besar kebal terhadap kebijakan Trump yang kacau.
Saham Eropa melemah pada Senin, sementara indeks AS tak banyak bergerak, tapi masih ditutup positif. Saham sektor otomotif dan alkohol Eropa menjadi yang paling terpukul.
Kejar Negosiasi
Tenggat 1 Agustus mendorong negara-negara di seluruh dunia berlomba untuk mencapai kesepakatan dagang.
Utusan dagang utama Korea Selatan pada Senin mengatakan bahwa mungkin akan tercapai kesepakatan “secara prinsip” sebelum tenggat, dan memberi sinyal bahwa Seoul mungkin membuka pasar pertanian lebih luas bagi AS, menurut laporan media lokal.
Baca Juga
Surat Tarif Trump Picu Ketegangan Baru, PM Jepang: Sangat Disesalkan
Menteri Perdagangan Yeo Han-koo, yang mengadakan pembicaraan tingkat tinggi dengan pejabat AS pekan lalu, menyatakan bahwa Korea Selatan ingin menghindari tarif “tidak adil” AS atas sektor-sektor kunci yang bisa merusak kerja sama industri dengan mitra keamanan dan dagang utamanya.
“Saya yakin mungkin tercapai kesepakatan secara prinsip dalam negosiasi tarif dengan AS, dan kemudian diperlukan waktu untuk negosiasi lanjutan,” ujarnya, seperti dikutip kantor berita Newsis .
“Dua puluh hari tidak cukup untuk menghasilkan perjanjian sempurna yang memuat semua detail,” tambah Yeo.
Korea Selatan berpacu mengejar kompromi perjanjian dagang demi menghindari tarif 25% atas ekspornya, level yang sama dengan yang dihadapi Jepang.

