Serangan Drone Hantam Stasiun Pompa Kaspia, Harga Minyak Naik
JAKARTA, investortrust.id – Harga minyak menguat pada hari Senin (17/02/2025) setelah serangan terhadap stasiun pompa pipa minyak di Laut Kaspia memperlambat aliran minyak dari Kazakhstan. Sementara itu, investor memantau perkembangan kemungkinan perjanjian gencatan senjata antara Moskow dan Kiev yang dapat mengurangi sanksi dan meningkatkan pasokan global.
Baca Juga
Indeks dolar, yang mendekati level terendah dua bulan setelah data penjualan ritel AS bulan Januari lebih lemah dari perkiraan, juga mendorong harga minyak dengan membuat minyak mentah lebih murah bagi pembeli di luar AS.
Kontrak berjangka Brent menetap di $75,22 per barel, naik 48 sen. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 65 sen menjadi $71,39 per barel pada pukul 14:33 EST, namun tidak menetap pada waktu normalnya karena libur Hari Presiden di AS. Hari libur tersebut menyebabkan volume perdagangan yang relatif sepi.
Harga minyak mendapat dukungan setelah drone menyerang stasiun pompa pipa Kropotkinskaya di wilayah Krasnodar, Rusia selatan, yang mengurangi aliran minyak dari Kazakhstan ke pasar global oleh produsen Barat, termasuk Chevron dan Exxon Mobil, menurut Konsorsium Pipa Kaspia pada hari Senin.
Turun 4 Hari Beruntun
Namun, harga minyak turun selama empat hari berturut-turut karena ekspektasi bahwa kesepakatan damai Rusia-Ukraina dapat mengurangi sanksi yang mengganggu aliran pasokan dan kekhawatiran bahwa perang tarif global dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi serta melemahkan permintaan energi.
Kontrak berjangka Brent turun 20 sen, atau 0,2%, menjadi $74,59 per barel pada pukul 01:12 GMT. Brent telah merosot 3,1% dalam empat sesi terakhir setelah Presiden AS Donald Trump dan pejabat pemerintahannya mengumumkan bahwa mereka telah memulai pembicaraan dengan Rusia untuk mengakhiri perang di Ukraina.
WTI AS berada di $70,51 per barel, turun 23 sen, atau 0,3%. WTI telah turun 3,8% dalam empat sesi terakhir, dan sebelumnya pada hari Senin sempat turun hingga $70,12, level terendah sejak 30 Desember.
Presiden Trump mengatakan pada hari Minggu bahwa ia yakin bisa segera bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membahas pengakhiran perang di Ukraina.
Pernyataan ini muncul saat AS dan Rusia bersiap untuk pembicaraan awal di Arab Saudi dalam beberapa hari mendatang.
Baca Juga
Trump Tawarkan Konsesi pada Putin Jelang Pembicaraan Perdamaian Ukraina di Arab Saudi
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga mengatakan pada hari Minggu bahwa Ukraina dan Eropa akan menjadi bagian dari setiap "negosiasi nyata" untuk mengakhiri perang Moskow, yang menandakan bahwa pembicaraan AS dengan Rusia minggu ini adalah kesempatan untuk melihat seberapa serius Putin terhadap perdamaian.
“Pasar melemah karena prospek gencatan senjata Rusia-Ukraina dan kemungkinan pelonggaran sanksi terhadap Moskow. Kekhawatiran akan perlambatan ekonomi akibat perang tarif yang dipicu oleh tindakan Trump juga menekan harga,” urai Hiroyuki Kikukawa, presiden NS Trading, unit dari Nissan Securities, seperti dikutip Reuters. Ia memprediksi WTI akan diperdagangkan di kisaran $66-$76 untuk sementara waktu karena penurunan harga minyak yang lebih lanjut dapat menekan produksi minyak AS.
Sanksi dari AS dan Uni Eropa terhadap ekspor minyak Rusia telah membatasi pengirimannya dan mengganggu aliran pasokan minyak melalui jalur laut. Jika sanksi dicabut dalam kesepakatan damai, pasokan energi global diperkirakan akan meningkat.
Risiko perang dagang global juga menekan harga setelah Trump pekan lalu memerintahkan pejabat perdagangan dan ekonomi untuk mengkaji tarif timbal balik terhadap negara-negara yang mengenakan tarif pada barang AS dan menyerahkan rekomendasi mereka sebelum 1 April.
Baca Juga
Perang Dagang Memanas, Trump Tandatangani Rencana Tarif Resiprokal Besar-Besaran
Perusahaan energi AS pekan lalu menambah jumlah rig minyak dan gas alam untuk minggu ketiga berturut-turut, yang pertama sejak Desember 2023, menurut laporan yang dirilis oleh perusahaan jasa energi Baker Hughes pada hari Jumat. Jumlah rig minyak dan gas, yang merupakan indikator awal produksi di masa depan, naik dua unit menjadi 588 pada pekan yang berakhir 14 Februari.

